TWIT-TWIT LAMA
Dulu 12-15 tahun yang lalu sebelum jadi pejabat publik, saya memang aktif bermain Twitter (sekarang X). Sebagaimana nature-nya platform tersebut, saya berekspresi secara bebas. Kadang penuh kritik pedas, kadang nyindir, sering juga nyinyir. Sering saya katakan di mana-mana, dulu saya adalah netizen yang marah—bahkan julid.
Tapi kemudian takdir membawa saya ke proses hidup yang lebih kompleks. Pada gilirannya Allah menakdirkan saya menjadi pejabat publik, dari walikota sampai gubernur. Saya giliran balik dikritik, disindir, dinyinyiri di media sosial. Saya sering melihat diri saya yang dulu, netizen yang marah tadi. Bikin saya tersenyum dan sadar.
Konon setiap orang akan melewati fase-fase jadi tukang protes, anak muda yang rebel penuh kritik dan sinisme. Tapi semua orang juga berproses, harus menjadi lebih bijaksana dan tahu diri.
Ibarat anak-anak yang selalu protes pada orangtuanya, remaja yang rebel, pemuda yang kritis dan sinis, pada saatnya akan jadi orangtua yang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yang akan bilang pada dirinya sendiri, "Oh gitu ya saya dulu", dan "Ternyata begini rasanya di posisi ini."
Bagaimanapun, untuk twit-twit saya yang lama, saya akui dulu saya kurang bijak dan mungkin kurang literasi—bahkan kurang sopan. Saya mohon maaf jika ada pihak-pihak yang tersakiti, terkritik, tersindir, atau terhina dengan cara saya berekspresi. Semoga saya bisa lebih baik lagi ke depan. 2017-2018 saya pernah meminta maaf tentang hal-hal ini. Saya banyak belajar.
Saya tidak membela diri atau berusaha membenarkan. Itu memang saya yang dulu, saya yang kurang bijak.
Semua orang pernah protes, tapi proseslah yang akan membuatnya sukses. Katanya masa lalu tidak akan mengubah masa depan, tapi sebaliknya.
Maafkan aku yang dulu. Mari kita move on.
Ridwan Kamil
Meski elektabilitasnya kalah dari Anies dan Ahok, Ridwan Kamil dinilai tetap berpeluang di Pilkada Jakarta karena minim resistensi. https://t.co/T8kXxLhZ5f
Di tempat yang sama, Camat Johar Baru Nurhelmi Savitri sangat mengapresiasi kegiatan serap aspirasi Dekot Jakarta Pusat ini, karena ini sebagai wadah untuk jemput bola aspirasi warga yang tidak tersampaikan pada saat reses anggota DPRD dan lain-lain.
Sementara itu, Kepala Bagian Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat Irshan Prasetiawan menuturkan, kegiatan serap aspirasi merupakan suatu salah kanal penyampaian aspirasi masyarakat dari beberapa kanal pengaduan yang ada di wilayah Jakarta Pusat seperti CRM, JSC, dan email.
Ardy menerangkan, kegiatan ini untuk merangkum semua aspirasi warga yang mungkin saja belum terakomodir di tingkat bawah. Karena ada saja RT, RW, LMK serta elemen masyarakat lainnya yang belum secara maksimal aspirasinya terakomodir oleh lurah atau camat.
Ketua Dewan Kota Jakarta Pusat Ardy Purnawan Sani mengatakan, penyerapan aspirasi warga ini sudah berlangsung selama lima kali. Empat kegiatan sebelumnya telah dilakukan di kecamatan lain di wilayah Jakarta Pusat.
Dalam meningkatkan kolaborasi antara elemen masyarakat dengan pemerintah, Dewan Kota (Dekot) Administrasi Jakarta Pusat mengadakan kegiatan serap aspirasi, di Ruang Pola, Kantor Kecamatan Johar Baru, Rabu (6/7).