HEDONISTIK & KORUPSI
Dalam satu penerbangan panjang ke Afrika, saya sebaris tempat duduk dengan seorang pegawai kejaksaan China, namanya Jun. Dia berangkat ke Afrika bersama timnya untuk memeriksa seorang tersangka korupsi, warga China yang mengerjakan proyek investasi pemerintahan Tiongkok di Bostwana. Dia tidak bercerita banyak soal kasusnya, tapi saya sempat bertanya: "apakah si tersangka korupsi itu kelak akan di hukum mati?". Jun menjawab: "why not?!.
Menurutnya, memenjarakan seorang koruptor selama lima tahun biayanya sama dengan mengirimkan 2 mahasiswa ke luar negeri hingga menjadi insinyur. Jun lalu membuat simbol pistol dengan jari tangannya dan berkata; "satu koruptor dibunuh untuk mencetak dua insinyur, itulah bentuk keadilan bagi negara kami".
Korupsi bisa lahir dari aturan-aturan yang dipersulit, tapi pengawas dari semua kesulitan itu siap disogok. Korupsi adalah perselingkuhan antara moral dengan kejahatan konvensional yang berusaha dinormalisasi dengan wewenang. "Petugas negara yang korupsi adalah 'babi-babi' yang lebih senang berkubang lumpur daripada menjadi bacon strip", kata Leo Tolstoy.
Jabatan dalam suatu pemerintahan adalah amanat publik dengan wibawa yang sangat artifisial. Ada penghormatan yang sengaja diciptakan, dimana ketika pensiun, kehormatan itu perlahan akan sirna dan tidak berarti apa-apa. Pejabat berusaha menumpuk uang sebanyak-banyaknya (darimana pun asalnya) agar sampai mati ia tetap dilayani dan dihormati selayaknya pejabat.
Korupsi adalah pelanggaran moral yang terkadang bisa dinormalisasi dengan transaksi. Uang hasil korupsi bisa membayar massa, media dan penjara. Inilah siklus kejahatan yang sangat lazim; korupsi di suatu tempat akan menyokong korupsi di tempat lain.
Indonesia harus belajar ke negeri China, terutama dalam penindakan korupsi. Di sini ada gubernur, menteri, bupati, bahkan Hakim Agung yang terlibat korupsi. Mereka adalah sekumpulan perampok uang rakyat yang memilih hidup di kubangan lumpur daripada hidup lebih terhormat seperti babi yang ikhlas menjadi "bacon strip".
Pada bulan Januari 2023, 4 warga Uzbekistan melakukan perjalanan dgn tujuan akhir Indonesia. Mereka terdeteksi berangkat dari Istanbul, transit di Abu Dhabi dan Malaysia. Dari hasil pemetaan identitas, 4 orang ini memiliki rekam jejak lintas negara yg mencurigakan.
Ternyata betul. 4 orang tersebut adalah anggota Katiba al-Tawhid wal Jihad (KTJ), organisasi yg terafiliasi dengan Jabat an-Nusrah, organisasi sayap Al-Qaidah di Suriah. KTJ yg dulunya bernama Jannat Oshiklari ini kebanyakan beranggotakan jihadis dari Asia Tengah. Mereka pernah menyerang kedutaan China di Bishkek pada tahun 2016.
Atas hasil "profiling" tersebut Densus 88 melakukan koordinasi aktif dengan Dirjen Imigrasi. Kemudian terdeteksi bahwa 2 diantara kelompok tersebut memasuki Indonesia dari Malaysia pada 6 Pebruari, menyusul 2 orang berikutnya pada 27 Pebruari 2023.
Densus 88 mendalami pergerakan mereka, dan ternyata selama berada di Indonesia mereka getol melakukan perekrutan jihadis dan propaganda ideologi, baik secara digital melalui akun2 anonim di media sosial maupun di lapangan, serta mengelola aliran pendanaan dalam jumlah besar dengan pola "winding circle". Bahkan salah satu dari mereka telah menikahi warga Bandung untuk mempermudah pergerakannya.
Hingga akhirnya pada 24 Maret 2023 jam 11 siang, Densus 88 bersama Dirjen Imigrasi melakukan kerjasama penangkapan kepada 4 warga negara Uzbekistan tersebut di sebuah hotel di Jakarta Utara. Mereka saat ini diamankan untuk lebih mendalami sampai sejauh mana jaringan kelompok ini melakukan aktivitasnya.
Indonesia sepertinya masih terlihat seksi bagi kepentingan asing untuk memainkan agendanya. Mungkin karena masyarakat kita masih terlalu mudah utk "dihipnotis" oleh ideologi2 kebencian dan kekerasan yg mengatasnamakan agama.
Dari pamflet propaganda yg ditemukan, mereka banyak memainkan narasi "perjuangan menegakkan Islam dgn membinasakan kaum Thoghut dan Jahiliyah". Mereka menganggap ini upaya penegakan agama, padahal cara mereka justeru memperburuk citra Islam itu sendiri. Karenanya saya tidak pernah percaya mereka beragama Islam, karena Islam tidak menyerukan penegakan agama dengan cara brutal. Terlebih menganjurkan utk membantai saudara sebangsanya sendiri. Ndak mungkin banget!
Islam itu agama berbasis cinta, kemanusiaan dan kedamaian. Jika anda menganggap pelaku teror beragama Islam, maka anda adalah bagian dari kelompok yg ingin menghancurkan Islam dari dalam. Islam jelas bukan terorisme. Para teroris beserta simpatisannya, hanyalah para begundal yang menunggangi keluhuran Islam agar kejahatannya berkesan terhormat.
(Sumber: PPID Densus 88-AT Polri)
#BravoDensus88