Biar bisa jalan2 pagi, rela malem mingguku buat cuci piring & siapin masakan biar paginya bisa pumping, subuhan nderes trs lets go
Eh ngliwet sek deng wkwk
Riweh tp wort it π
5 bulan
Tiap mau tidur mintanya di afirmasi dl
"Zay Anak sholih"
"Zay Anak sehat"
"Zay Anak cerdas"
"Zay Anak panjang umur"
"Zay Anak tumbuh tinggi"
"Zay Anak berhati lembut"
"Zay Anak bijaksana"
"Zay disayang banyak orang"
"Zay anak yang gampil"
Kalau blm komplit, blm mau tdr
4 bulan
Anak ini selalu berhasil bikin ibuknya melow
Awal mau ditinggal kerja (cuti habis) dikenalin dot bener2 ga mau minum anaknya, pernah sampe tersendakπ₯Ή
Tp sekarang dia dah bs dot sendiri, seakan bilang "ibuk ga usah kawatir, aku pun bs mimik dot sekarang mboten kelaparan"
Mengisi hari libur dengan menciptakan moment
Jalan pg keliling desa
Ada gang kecil khusus buat pejalan kaki & stoller friendly, kiri jalan sungai kanan pepohonan dan rumah warga jam 7 keatas tdk terasa panas tetap sejuk
Setelah menikah, akhirnya jadi paham kalo sebuah pernikahan enggak bisa jalan kalo cuma bermodalkan "ketertarikan" dan "rasa sayang" secara literal saja. Karena pada dasarnya emang gak bakalan ada hubungan yang sepenuhnya sempurna.
Semuanya saya rasa akan bertahan sama rasa tanggung jawab, rasa hormat untuk kedua belah pihak, hingga empati juga kontrol diri untuk itu semua bisa terus berjalan.
Rasa aman yang diberi oleh kedua belah pihak rasanya jadi sangat mahal pas dihadepin sama ujian-ujian hidup yang gak pernah ada habisnya. Mempertanggungjawabakan janji yang diucap didepan tuhan-tuh gak pernah mudah. Sultinya seringkali gak ketolong.
Empati yang dicurahkan dan hadirnya rasa aman kayanya jadi hal yang memperkaya, menopang dan benar-benar mewujudkan sebuah hubungan yang sehat dalam sebuah pernikahan.
Memang hal-hal tersebut diatas belum tentu benar juga. Tapi setidaknya, itu yang saya rasa.