its my birthday today! 🥳🎂 ur reposts would be appreciated as a little birthday gift 🎁
tysm for all the love and support you have given me and my art always! 🫂
AI company memberangus buku langka, kami masih membeli dan mempreservasi buku langka Indonesia.
Proyek selanjutnya akan berfokus pada majalah wanita sebelum tahun 1966. Seperti biasa, akan dibagikan gratis walau boncos belasan-puluhan juta 🥲
If you even slightly entertain the thought of failure, you give your mind a chance to start noticing reasons to fail. But if the only option on your mind is to win, then the world seems to conspire in your favor, because your mind will notice opportunities it wouldn't have before. Become delusionally optimistic, not because it's realistic, but because it's effective. It drastically increases your chances of success.
Dia tidur di depan ruko setiap malam… bersama anaknya yang baru 6,5 tahun.
Bukan karena tidak ada tempat, tapi karena harus bayar cicilan motor Rp80–85 ribu per hari. Kalau sewa kos, uangnya tidak cukup untuk mereka berdua.
Video ini pertama kali diunggah oleh @sansanshh di Instagram.
Dari rekaman CCTV, terlihat Bapak Hermansyah (56) tidur di depan ruko kantornya. Malam itu beliau pesan GoFood, dan kebetulan di saat yang sama ada orang yang sedang berbagi makanan.
Bapak Hermansyah sehari-hari bekerja sebagai driver ojol. Anaknya bernama Zaki. Mereka hanya berdua karena ibunya sudah meninggal. Sejak Zaki berusia 2 tahun, Pak Hermansyah sudah mengajaknya keliling kerja.
Kak Sansan sempat membuka donasi dan berhasil terkumpul dana untuk membelikan motor baru buat beliau.
Bagi yang ingin ikut membantu, masih ada open donasi dari:
• Kak Sansanshh
• Bang Adiewafi
(SS story sudah dilampirkan)
Semoga bantuan yang sudah dan akan terkumpul bisa meringankan beban Pak Hermansyah dan Zaki.
Mari kita doakan semoga mereka selalu diberi kekuatan, kesehatan, dan jalan yang lebih baik ke depannya.
Karena kadang, sedikit kebaikan dari kita bisa jadi cahaya besar bagi orang lain. 🙏❤️
@cemerlangv https://t.co/eAa5HDbJ0G & https://t.co/ATJYTuMEIh, ini aku sering bgt ke web ini soalnya seruu!! dia kaya main game, tapi ini dia fokus ngelatih cognitive (brain training) yaa
PAK IMAM 😢😭😢😭
Saya dan rekan-rekan saya akhirnya bekerja sambilan.
Saya di Car free day berjualan dengan istri saya,
berjualan bubur bayi, berjualan baju anak.
Saya beli online, saya jual lagi offline demi menghidupi saya.
Saya tidak malu sebagai dosen tetap berjualan.
Rekan saya Teddy, dosen di Politeknik Negeri Bandung,
dia selesai ngajar dia ngojol.
Rekan saya lagi ada di Kalimantan.
Dia selain menjadi dosen, dia pun tetap menjadi kuli bangunan, Bapak, Ibu.
Dan kemarin sudah kita sampaikan di DPD dengan gaji seperti itu.
Selain itu, banyak yang bekerja mengajar di banyak tempat.
Ke empat kampus, ke lima kampus.
Saya pernah, Bapak, Ibu, pagi saya ngajar, siang saya harus ngajar lagi.
Mencari tambahan sore, saya harus ngajar lagi.
Di Bandung dengan panas-panasan, saya pergi ke kamar mandi,
cuci muka mandi untuk mengajar kembali di kampus yang berbeda.
Demi untuk mencukupi kebutuhan dasar saya.
Selain itu, ada yang berjualan, jual online dan marketing perumahan.
Segala dilakukan demi mencukupi kebutuhan dasar.
Karena saat itu, kami tidak mendapatkan tunjangan kinerja dikecualikan.
Dan sertifikasi dosen pun bisa didapatkan paling cepat lima tahun.
Saat garap investigasi isu Sambo, Kanjuruhan, Halte Sarinah dll outputnya selalu video explainer. Saya coba pendekatan lain di kasus Andrie Yunus. Idenya simpel: Kalau penyidiknya gak bisa kerja, kita buat publik aja jadi penyidiknya.
Jadilah game ini: https://t.co/hXYFEkyvIS
Dari kemarin banyak dapet DM nanyain kuliah di Jerman. Lalu ku berpikir, kenapa engga sekalian aku review hal hal yang aku tau selama Bachelor kemarin. Ini termasuk semua-muanya deh pokoknya🌞
Berdasarkan pengalaman dan pandanganku aja🫶🏼
*akan disertai penjelasan Gemini
di buku Tempo, pengakuan Algojo 1965 tahun 2012, dimuat di salah satu bab, pemuda ansor ketika ditanya kenal atau tidak dengan yang dia eksekusi, dia menjawab dia tidak peduli dengan siapa yang dia eksekusi, dia hanya ingin membunuh. Tentara mengirimkan (-)
Guru honorer digaji ratusan ribu rupiah sebulan. Konsultan tanpa jabatan resmi di kementerian yang sama digaji Rp163 juta. Keduanya bekerja untuk satu tujuan yang sama katanya: pendidikan Indonesia. Inilah yang terjadi ketika negara dikelola seperti startup.
Berikut ini adalah ringkasan dari dua utas yang ditulis oleh Indra Charismiadji (@icharis), pakar dan praktisi pendidikan yang menyaksikan sendiri sebagian dari perjalanan kebijakan pendidikan digital di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan kasus pengadaan Chromebook.
Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop. Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa terseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi.
Publik hari ini terbelah. Sebagian tokoh menyebut kasus Nadiem Makarim dan Ibrahim Arief sebagai kriminalisasi politik. Sebagian yang lain, terutama para guru, justru merasa luka lama mereka akhirnya menemukan ruang keadilan. Namun ada perspektif yang tidak boleh hilang dari diskusi ini, yakni perspektif orang-orang yang sejak awal sudah memberikan peringatan, bukan setelah kasus meledak, bukan karena anti-teknologi, dan bukan karena tidak paham pendidikan.
Sejak Oktober 2019, ketika Nadiem Makarim dilantik sebagai Mendikbud oleh Presiden Jokowi, banyak pihak meragukannya karena tidak ada rekam jejak di bidang pendidikan. Sebagian kalangan justru membela dan meminta publik memberi kesempatan terlebih dahulu sebelum menghakimi. Pertemuan-pertemuan awal dengan Nadiem sempat melahirkan harapan. Ia tampak terbuka, bahkan berterima kasih kepada mereka yang membelanya di media.
Namun harapan itu mulai retak lebih cepat dari yang dibayangkan. Dalam pertemuan tertutup pada Februari 2020, sikap Nadiem menunjukkan keyakinan yang amat tebal bahwa dirinya dan timnya paling tahu segalanya. Ketika isu Chromebook mulai disinggung, ia justru terkesan terkejut bahwa informasi itu sudah tersebar, bukan meresponsnya sebagai masukan yang serius.
Peringatan sudah disampaikan, merujuk pada kegagalan proyek digital pendidikan Malaysia bernama 1BestariNet yang akhirnya dihentikan karena dianggap gagal. Responsnya kurang lebih: tim kami hebat-hebat, pasti sukses.
Itulah titik baliknya. Masalahnya ternyata bukan sekadar kurang pengalaman. Masalahnya adalah arogansi kekuasaan yang dibungkus dengan bahasa inovasi.
Tanda-tanda bermasalahnya tata kelola mulai terlihat sejak awal 2020. Slogan "Merdeka Belajar", program utama Kemendikbud, ternyata sudah didaftarkan sebagai merek dagang oleh sebuah perusahaan swasta di bidang pendidikan, yang memiliki irisan kepemilikan dengan yayasan tempat Ibrahim Arief bekerja. Setelah tekanan publik dan diskusi para aktivis pendidikan, merek itu akhirnya dihibahkan kepada Kemendikbud. Tetapi pertanyaannya tetap menggantung: mengapa hal seperti itu bisa terjadi sejak awal?
Sepanjang 2020 hingga 2021, banyak pegawai negeri di Kemendikbud bercerita tentang anak-anak muda di lingkar menteri yang seolah memiliki otoritas besar, sementara status formal mereka tidak selalu jelas. Birokrasi pendidikan seolah sedang dilompati. Beberapa jabatan strategis diisi oleh orang-orang dari luar yang memiliki irisan dengan ekosistem dan jejaring yayasan di mana Ibrahim Arief bekerja. Ini bukan sekadar soal regenerasi atau "orang muda", ini soal tata kelola negara.
Puncaknya terlihat pada September 2022. Di forum Transforming Education Summit di PBB, Nadiem dengan bangga menjelaskan keberadaan sekitar 400 orang "tim bayangan" yang membantu transformasi teknologi Kemendikbudristek. Bagi sebagian orang, itu terdengar inovatif. Tetapi bagi mereka yang memahami prinsip tata kelola negara, itu adalah pengakuan terbuka bahwa tatanan birokrasi sedang dirusak dari dalam.
Negara tidak boleh dikelola oleh tim bayangan. Negara punya struktur, punya aturan, punya ASN, punya mekanisme akuntabilitas, dan punya garis komando hukum. Jika ada tim bayangan, pertanyaan dasarnya sederhana: siapa menggaji, siapa mengawasi, dan siapa yang bertanggung jawab?
Kasus Ibrahim Arief dalam persidangan Chromebook membuat pertanyaan itu semakin relevan. Gaji Ibam sebagai konsultan disebut mencapai sekitar Rp163 juta per bulan, bahkan di atas gaji resmi menteri. Di sinilah akal sehat publik terusik. Bagaimana mungkin seseorang di luar struktur formal negara bisa memiliki posisi begitu strategis, pengaruh begitu besar, dan kompensasi begitu tinggi dalam ekosistem kebijakan publik?
Sementara itu, di lapangan, guru honorer masih banyak yang bertahan dengan honor ratusan ribu rupiah. Guru diminta mengisi platform, dipaksa mengikuti aplikasi, dibebani administrasi digital, sementara orang-orang di lingkar kebijakan menikmati bayaran yang fantastis. Ini ironi yang menyakitkan.
Peringatan dari bawah sesungguhnya tidak pernah berhenti berbunyi. Pada Agustus 2021, para aktivis pendidikan menggelar diskusi tentang pengadaan Chromebook, bahkan menghadirkan pakar teknologi pendidikan dari Malaysia yang memahami langsung kegagalan 1BestariNet. Pada September 2021, ICW merilis kajian yang menyoal besarnya anggaran, urgensi, potensi masalah tata kelola, dan risiko dalam proyek tersebut. Alarm sudah berbunyi berkali-kali, tetapi kebijakan digital justru makin didorong. Kritik dianggap resistensi.
Banyak guru di daerah bertanya dengan nada yang sama: untuk apa Chromebook kalau internet tidak stabil? Untuk apa perangkat kalau pelatihan minim? Untuk apa digitalisasi kalau anak tetap tidak bisa membaca, menalar, dan berhitung? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan sekadar keluhan teknis. Itu kesaksian lapangan tentang kebijakan yang lahir dari ruang elite dan jauh dari kenyataan kelas.
Persoalan lain yang tidak kalah serius adalah kedaulatan data. Di beberapa negara, penggunaan Chromebook dan ekosistem Google di sekolah pernah dipersoalkan karena menyangkut perlindungan data anak. Pendidikan digital tanpa tata kelola data adalah risiko serius bagi kedaulatan generasi.
Maka menyederhanakan kasus ini sebagai "kriminalisasi politik" adalah langkah yang terlalu mudah. Nadiem bukan politisi oposisi, bukan tokoh partai yang sedang berhadapan dengan kekuasaan elektoral. Proses hukum memang harus diawasi dengan ketat, jaksa wajib membuktikan dakwaan, dan Nadiem serta Ibrahim Arief berhak membela diri sepenuhnya. Tetapi menyebut semua ini kriminalisasi tanpa melihat jejak kebijakan sejak 2019 adalah penghapusan memori publik.
Dalam korupsi kebijakan, aliran dana pribadi bukan satu-satunya pertanyaan. Pertanyaan lain sama pentingnya: siapa yang mengarahkan, siapa yang membuka jalan, siapa yang mempengaruhi keputusan, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menanggung kerugian. Seorang menteri bukan pajangan. Ia pemegang mandat konstitusi, dan ia bertanggung jawab atas arah, kultur, tata kelola, serta orang-orang yang ia beri ruang dalam kementeriannya.
Tragedi Nadiem bukan karena ia tidak cerdas. Ia cerdas, punya reputasi, punya akses global, punya jaringan kuat. Tetapi justru di situlah letak tragedinya: kecerdasan tanpa kerendahan hati dalam pendidikan bisa berubah menjadi bencana kebijakan. Ketika inovasi berubah menjadi arogansi, kolaborasi berubah menjadi konflik kepentingan, dan digitalisasi berubah menjadi proyek pengadaan, yang paling merasakan dampaknya adalah guru dan murid.
Banyak guru marah bukan karena anti-teknologi. Mereka marah karena bertahun-tahun tidak didengar. Mereka dibebani platform, jargon, administrasi, dan target digital, tetapi kesejahteraan, perlindungan, dan martabat profesinya tidak sungguh-sungguh dipulihkan. Maka ketika kasus Chromebook meledak, sebagian guru melihatnya bukan sekadar kasus korupsi. Ini akumulasi luka.
Keadilan dalam kasus ini bukan soal membalas dendam. Keadilan adalah membuka seluruh jejaring keputusan: siapa yang merancang, siapa yang mengarahkan, siapa yang mengunci ekosistem, siapa yang menerima manfaat, dan siapa yang menutup telinga. Kalau kasus ini hanya berhenti pada beberapa nama, bangsa ini tidak belajar. Masalahnya bukan hanya orang. Masalahnya adalah model kebijakan pendidikan yang elitis, teknokratik, vendor-driven, dan alergi kritik.
Kasus Chromebook harus menjadi pintu masuk audit total atas digitalisasi pendidikan: audit anggaran, audit manfaat, audit data anak, audit konflik kepentingan, audit platform, audit relasi vendor dengan pengambil kebijakan, dan audit tim bayangan.
Pendidikan Indonesia tidak boleh lagi dikelola oleh orang-orang yang merasa paling tahu hanya karena punya gelar, modal, akses global, atau jejaring kekuasaan. Sekolah bukan startup. Guru bukan operator platform. Murid bukan data point. Kurikulum bukan produk digital. Anak-anak Indonesia bukan bahan eksperimen elite teknologi. Pendidikan harus dikembalikan kepada mandat konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan mencerdaskan ekosistem bisnis.
Pertanyaan terbesar bukan hanya apakah Nadiem dan Ibrahim Arief bersalah secara hukum. Pertanyaan yang lebih besar adalah: bagaimana sistem pendidikan nasional bisa diseret sejauh ini oleh arogansi, konflik kepentingan, tim bayangan, dan ketulian terhadap suara guru?
Itu yang harus dijawab. Bukan demi menghukum seseorang semata, tetapi demi memastikan pendidikan Indonesia tidak lagi menjadi laboratorium kekuasaan, proyek vendor, dan arena eksperimen orang-orang yang merasa paling pintar.
Guru harus didengar. Anak harus dilindungi. Negara harus kembali waras.
Info buat yg mau bikin nobar film dokumenter PESTA BABI. Cukup kumpulin minimal 10 orang dan daftar di https://t.co/Kd8oNrp0mm.
Susah nyari 10 orang? Coba cari kampus/NGO/organisasi lingkungan di daerahmu, biasanya ngadain nobar jg.
Boleh share info nobar daerahmu di reply 👇🏻
There's a physicist at Stanford named Safi Bahcall who modeled this exact principle and the math is wild.
He calls it "phase transitions in human networks." When you're stationary, your probability of a lucky event is limited to your existing surface area: the people you already know, the places you already go, the ideas you've already been exposed to. Your opportunity window is fixed.
When you move, your collision rate with new nodes in a network increases nonlinearly. Double your movement (new conversations, new cities, new projects) and your probability of a serendipitous encounter doesn't double. It roughly quadruples. Because each new node connects you to their entire network, not just to them.
Richard Wiseman ran a 10-year study at the University of Hertfordshire tracking self-described "lucky" and "unlucky" people. The single biggest differentiator wasn't IQ, education, or family money. Lucky people scored significantly higher on one trait: openness to experience. They talked to strangers more, varied their routines more, and said yes to invitations at nearly twice the rate.
The "unlucky" group followed the same routes, ate at the same restaurants, and talked to the same 5 people. Their networks were closed loops. No new inputs, no new collisions.
Luck isn't random. Luck is surface area. And surface area is a function of movement.
The lobster emoji is doing more work than most people realize. Lobsters grow by shedding their shell when it gets too tight. The growth requires a period of total vulnerability. No protection, no armor, soft body exposed to the ocean.
That's the cost of movement nobody posts about. You have to be uncomfortable first. The new shell only hardens after you've already moved.
Turut berduka cita untuk TS yang meninggal ..
Karena sudah mulai ada korban lagi dari campak ini mau edukasi tentang campak
Kenapa campak dibilang berbahaya ?
Karena campak = patogen airborne paling menular yang pernah diketahui manusia
Satu orang dengan COVID bisa menularkan ke 2–3 orang
Satu orang dengan cacar air bisa menularkan ke 10 orang
Satu orang dengan campak? DELAPAN BELAS ORANG ❗️❗️
Dan yang lebih menakutkan dari penularannya bukan ruamnya aja
....