mengatasnamakan Tuhan but please tell me dasar apa yang memperbolehkan:
- MENELANJANGI PEREMPUAN
- PIPISIN MANUSIA LAIN
yang kamu sembah itu Tuhan atau kepuasan dirimu sendiri? gaada bedanya lu lu pada sama israel
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O "ga konform," bkn cuma LGBT. dr awal aku ga kontra bahwa ada konsekuen sosial, ak nolak cr yg berujung mempermalukan / menyakiti, krn itu yang ga sesuai adab & hukum menasihati dlm Islam. jd ini bkn soal apkh ad sanksi or not, tp soal siapa yg brhk ngasih sanksi & dgn cr apa🙏🏻
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O tapi itu ga otomatis ngejawab pertanyaan "apakah sanksi ky gt dibenarkan secara syariat," itu dua pertanyaan yang beda. Kalo logicnya "reaksi sosial itu wajar makanya boleh," itu bisa dipake buat justify bullying, diskriminasi, bahkan kekerasan ke kelompok manapun yang dianggap
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O Imam Ghazali bahkan naruh syarat ilmu dan pertimbangan maslahat-mudarat sebagai bagian dari sahnya amar ma'ruf, bukan tambahan opsional. jd kalo caranya sampe nimbulin mudarat lebih besar, secara hukum itu bisa dianggap ga memenuhi syarat amar ma'ruf yang bener, yg dosa mlh ybs
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O km sih alih topik, amar ma'ruf nahi munkar emg wajib, tp hukumnya sendiri ga lepas dari syarat & cara, jd hukum sama adab itu nyatu, bukan 2 topik beda kaya yang kamu blg itu, Rasul ngajarin ada tahapan menegur, dan tiap bagian pun ada caranya, bukan asal bertindak
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O itu kayanya jd alasan buat ngebenerin cara apa aja asal orangnya emang salah, padahal justru karena itu adab menasihati diatur, biar tujuannya beneran nyampe ke orangnya, bukan malah bikin dia makin ngejauh. Kalo caranya malah bikin orang defensif, itu bukan taqwa yang jalan...
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O tp saat "menegakkan kebenaran" dipakai buat ngadilin orang di ruang publik ky gt, that's no longer abt truth, it's abt who gets 2 play judge. the truth ttp valid regardless of whether kt sidang orangnya scr terbuka / egk, first is our responsibility, n ultimately belongs 2 god.
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O justifikasi buat menetapkan kebenaran itu ≠ justifikasi buat menghakimi individu secara publik, dua konsep ini pdhl beda loh. I nvr said kebenaran gaperlu dijustifikasi, dri awal aku setuju we should speak up tentang yang haq. the issue was nvr whether kebenaran perlu ditegakkan
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O Kalau cara mengingatkannya justru mempermalukan, memicu permusuhan, atau membuat orang makin jauh dari kebaikan, tujuan nasihatnya jadi tidak tercapai. Menetapkan batas antara haq dan batil itu penting, but it doesn’t mean we have to become the judge of every individual...
@YoshaWhite@kremesgemes@blaugrana1O I agree that we shouldn’t normalize what we believe is wrong, dan tentu kita boleh speak up tentang yang dianggap haq. Tapi speaking up ≠ judging people publicly. amar ma’ruf nahi munkar juga ada adab, perlu ilmu, hikmah, dan pertimbangan manfaat-mudaratnya kali
@ly_Nadzka@pijatitit lu cuma fokus sama kisah nabi luth doang, lu gak inget kisah 24 nabi lainnya? bahkan kaum dzolim kaya lu lebih banyak dibinasakan di kisah nabi nabi
@Onlyaffiliate@2006sfawn eh orang tolol dateng gak bisa bedain kekerasan sama mengingatkan, psk cewek kok gak digituin juga? otak cuma ngewe doang kaga ada rasa empati ya gini. agama mana nih yang ngajarin mengingatkan cara begitu?🤪