Banyak orang bingung saat seorang laki-laki tiba-tiba menjauh.
Pesan tak dibalas. Telepon tak diangkat.
Bukan selingkuh, bukan juga lupa. Ia cuma… capek hidup.
Di luar, itu terlihat seperti kabur.
Tidak dewasa. Tidak bertanggung jawab.
Padahal sering kali, ia sedang kalah telak dan tak tahu harus pulang ke mana.
Laki-laki dibesarkan dengan satu skrip usang:
harus kuat, harus beres, harus jadi sandaran.
Masalahnya, tak ada bab di skrip itu tentang gagal.
Saat pekerjaan ambruk, uang menipis, atau masa depan tiba-tiba blur seperti kaca motor kehujanan, yang runtuh bukan cuma rencana tapi harga diri.
Dan di fase itu, banyak laki-laki memilih diam.
Bukan karena tak peduli, tapi karena malu terlihat rapuh.
Mereka takut satu hal:
kalau tetap bicara, orang akan tahu mereka bukan versi “seharusnya”.
Maka menghilang terasa lebih aman.
Tak perlu menjelaskan. Tak perlu ditanya.
Tak perlu menjawab pertanyaan yang bahkan ia sendiri belum sanggup dengar.
Ini bukan pembenaran.
Ini penjelasan.
Diam mereka bukan tembok,
itu ruang sempit tempat ego sedang berdarah,
dan kata-kata terasa seperti beban tambahan.
Kalau suatu hari ada laki-laki di hidupmu yang tiba-tiba senyap,
jangan langsung menilai ia tak bertanggung jawab.
Bisa jadi, ia sedang belajar satu hal yang tak pernah diajarkan padanya:
bagaimana menjadi manusia, bukan mesin kuat-kuatan.
Pict : pinterest