saya jadi ingat, Prof. @zainalamochtar sedang mengajar di kelas HPTUN. Banyak teman-teman saya yang tidak hadir di kelas. Alasannya adalah, ikut bersolidaritas dalam aksi hari pendidikan di Balairung UGM, pada Mei 2016.
Prof. Zainal kurang lebih bilang:
“sampaikan salam saya ke mereka. Bagi yang ikut aksi, saya tetap hitung presensi. Bagi yang menuliskannya di media masa, saya kasi nilai A. Belajar tidak hanya di kelas, tetapi juga di jalan-jalan.”
***
momen itu terekam dalam sanubari saya. Saat ada demonstrasi menolak RUU Pilkada pada Agustus 2024, saya umumkan di kelas Pengantar Ilmu Hukum (PIH), bahwa:
kelas ditiadakan, dan pembelajaran kita ganti di jalan, belajar tentang hukum di buku, bisa sangat berbeda, dengan hukum di lapangan.
Gibran: "Program makan gratis akan melibatkan ibu-ibu warteg, katering-katering"
Nyatanya? Tak melibatkan Ibu-ibu warteg dan katering
Malah politisi, polisi dan tentara yang dilibatkan
Dasar Pembohong!
Mengiringi Demo SEMA UGM
Benazir Bhutto:
"..Tapi jangan pernah lupa kapal tidak pernah dibuat untuk ditempatkan di dermaga, kapal dibuat untuk menghajar gelombang membelah lautan."
~ Prof Ucheng
Mesti di usut tuntas prof ,
mubazir
seharusnya Yayasan sekarang itu di kelola negara (ganti nama lain) di ketuai oleh PNS yang dananya dari negara atau mereka di gaji bukan dapatkan keuntungan Rp 2000 perposi dan negara gak perlu bayar insentif 6 juta sehari
pemborosan
Tiyo Ardianto pernah bertanya ke guru agama di sekolahnya, "Kalau makan tanpa berdoa sama dengan ngasih makan setan, bagaimana kalau kita niatkan sebagai sodakoh?", gurunya menjawab: "Sodakoh kok kepada setan."
Maka apabila "setan"nya kita ganti dg "koruptor", pasti jawaban gurunya: "sodakoh kok kepada KORUPTOR."