@tanyarlfes pake CV ATS kaya gini nder, soalnya bisa lebih gampang terdetect sistem gituu
biasanya aku bikin di kinobi, atau ada template nya juga sih kalau edit manual
ibu ini cerita kenapa Nadiem Disingkirkan:
- Digitalisasi ancam koruptor= mereka gk bisa korupsi lg
- kebijakan berbasis data bikin penyelewengan ketahuan
- Putus rantai vendor lama
- pindah ke Chrome OS bikin vendor Microsoft & pelatih lama kehilangan income
- Hapus ujian nasional
- hilangkan proyek kertas, buku, soal ujian bernilai miliaran
- hapus jual beli kunci jawaban
- Dana BOS jadi transparan
- laporan terintegrasi, tidak bisa lagi lapor fiktif
- Angkat 700.000 guru PPPK
- ganggu sistem jual beli jabatan yang sudah lama berjalan
- Tidak paham adat
- masuk kolam kotor tapi mau bersih-bersih
- Nadiem disingkirkan karena terlalu banyak pihak kehilangan uang dari pusat sampai daerah
Fyi... inilah salah satu alasan kenapa Muhammadiyah tidak menganjurkan bahkan melarang tahlilan.
Menurut MU:
1. Tradisi tahlilan dianggap merupakan akulturasi dari budaya non-Islam masa lalu.
2. Adanya unsur tabzir (pemborosan) karena keluarga yang berduka sering kali terbebani biaya untuk menyediakan hidangan bagi pelayat.
3. Seharusnya pelayat/tetangga yang menyiapkan makanan untuk keluarga yang berduka, bukan sebaliknya.
Kalo dilihat-lihat, jabatan yg sering dibagiin ke simpatisan itu komisaris ya. Tau gak kenapa komisaris ini jadi jabatan yg suka dibagiin dengan gampangnya?
Ya, karena jabatan komisaris itu :
> Kerjanya cuma ngawasin & ngasih masukan ke direksi
> gak megang operasional
> gak nentuin keputusan harian
Dan kenapa pada mau dikasih jabatan ini?
> Gajinya gede
> Gak butuh kompetensi teknis spesifik
> modal "dipercaya" aja udah cukup
> Gak ada KPI yg jelas buat dievaluasi publik
> minim risiko keliatan "gagal"
> Bisa diisi tanpa proses seleksi terbuka & gak butuh izin teknis
Beda sama direksi, itu pegang operasional langsung, kalo perusahaan ambruk ketauan siapa yg salah. Makanya posisi ini jarang dipake buat "bagi-bagi kursi".
Rakyat jelata apply kerja di BUMN:
Syaratnya gila:
• Minimal S1 lulusan PTN ternama
• IPK 3.5
• Pengalaman kerja 5 tahun
• Fasih 3 bahasa asing
• Umur maksimal 25 tahun
• Harus menguasai elemen bumi, air, api, udara
• Bisa mengalahkan Raja Api Ozai
Gaji? UMR!!!
Sementara jalur “orang dalam” tingkat dewa: Gak lulus S1 pun langsung dapat kursi komisaris + gaji puluhan juta + fasilitas.
Terus heran BUMN rugi triliunan tiap tahun?
Uang pajak rakyat dipakai buat gaji orang-orang yang bahkan gak perlu ngelamar.
Sistemnya emang sengaja dibikin begini.
Kalian masih percaya BUMN bisa diperbaiki dari dalam?
Seberapa Mengerikan Raffi Ahmad?
Berhentilah melihat Raffi Ahmad hanya sebagai artis. Cara berpikir seperti itu sudah terlambat. Yang sedang kita saksikan adalah lahirnya sebuah pusat kekuasaan baru. Ketika bisnis menguat, jabatan publik diraih, keluarga masuk politik, dan orang-orang terdekat mulai mengisi posisi strategis, persoalannya tidak lagi tentang satu individu.
Persoalannya adalah bagaimana pengaruh dapat terkonsentrasi dalam satu lingkaran yang semakin sulit dipisahkan dari negara. Demokrasi tidak runtuh hanya karena diktator. Demokrasi juga bisa melemah ketika masyarakat menganggap normal setiap perluasan kekuasaan tanpa pernah bertanya: siapa yang mengawasi, siapa yang mengoreksi, dan untuk kepentingan siapa semua ini berjalan? Jika pertanyaan-pertanyaan itu dianggap mengganggu, justru di situlah letak hal yang paling mengerikan.
🚨ALASAN INVESTOR KABUR DARI INDONESIA.
Mindrasos baru saja nonton YT The Generalist yg berjudul, "Hard Truths from Indonesia's Startup Scene."
Beberapa alasan investor kabur dari Indonesia adl:
1. Korupsi di level operasional.
Martyn bercerita bahwa dia mendapat tagihan pajak senilai $100.000. Kemduian, pejabat Indonesia mengatakan bisa mengurangi tagihannya asalkan membayar $20.000 kepadanya (pejabat indo).
2. Indonesia krisis meritokrasi
Banyak pendiri startup bukan berasal dari kalangan inovator teknis yang membangun solusi dari nol, melainkan didominasi oleh kelompok elit atau jejaring keluarga kaya (privilege). Hal ini membuat akses modal lebih didasarkan pada nama besar atau koneksi, bukan performa bisnis yang sehat.
3. Birokrasi Indonesia bersifat memeras
Martyn menyoroti lingkungan yang proteksionis dan birokrasi yang terkadang bersifat memeras. Ia menceritakan pengalamannya menghadapi aturan konten lokal yang tidak masuk akal, serta kesulitan mendapatkan dukungan nyata.
4. Ilusi Demografi dan Pasar '270 Juta Penduduk'
Martyn menekankan bahwa narasi besar mengenai jumlah penduduk Indonesia sering kali menyesatkan karena tidak dibarengi dengan analisis daya beli. Dengan PDB per kapita di bawah $5.000, model bisnis B2C yang menargetkan massa sering kali gagal mencapai profitabilitas tanpa subsidi 'bakar uang' yang terus-menerus.
5. Akhirnya pilih kabur ke Singapura
Di Indonesia, kepastian hukum, transparansi, dan kepercayaan investor global sudah punya reputasi buruk — ditambah isu fraud yang berulang — membuat investor internasional enggan masuk. Singapura beri semua yang Indonesia belum mampu jamin.
Respect sih sama artis yang berani nolak masuk politik. Tau kapasitas, tau passion, ga ngerasa semua panggung harus dia naikin.
Lagian kenapa sekarang banyak banget artis tiba-tiba berlomba nyemplung ke politik?Politik tuh bukan komedi candaan anjr. Rakyat ga butuh cameo, rakyat butuh orang yang emang ngerti kerjaan. Udah deh yang jago akting ya akting aja, yang jago nyanyi ya nyanyi aja. Jangan dikit-dikit ngerasa modal terkenal trs bisa jadi wakil rakyat. TV masih butuh hiburan, parlemen butuh orang yang beneran kerja.