Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah #Badminton di #Olympics 8 semifinalis sektor tunggal berasal dari 8 negara berbeda!
🇹🇭 Kunlavut Vitidsarn
🇲🇾 Lee Zii Jia
🇮🇳 Lakshya Sen
🇩🇰 Viktor Axelsen
🇰🇷 An Se Young
🇮🇩 GREGORIA MARISKA
🇪🇸 Carolina Marin
🇨🇳 He Bing Jiao/Chen Yu Fei
🔥
Poin pertama saja sudah sangat problematik. Belum lagi poin2 selanjutnya.
Orang ini nggak paham soal bahwa narasi biaya pribadi presiden itu justru menabrak prinsip tata kelola negara.
Klaim bahwa kelebihan biaya ditanggung oleh dana pribadi presiden itu secara etika birokrasi dan hukum tata negara adalah hal yg sangat problematis.
Ini blurs the line. Dalam administrasi publik modern, harus ada batas yang mutlak antara kekayaan pribadi pejabat (private wealth) dan operasional negara (public fund).
Saat presiden memakai duit pribadi untuk urusan kedinasan, hal ini justru merusak standarisasi penganggaran dan akuntabilitas.
Lalu bagaimana biaya2 dicatatkan dalam LKPP?
Apakah ini dikategorikan sebagai hibah pribadi kepada negara?
Jika iya, apakah sudah melalui prosedur penerimaan hibah yang sah agar tidak menimbulkan conflict of interest di kemudian hari?
Gregoria Mariska Tunjung was 6/15 down in the deciding game in the first of the 2 #Olympic women’s singles semi-finals at #Paris2024. Given the unique format at the Games where the 2 losing semi-finalists have to play-off for the Bronze medal, it would have been easy to resign herself to defeat, with the thought of the Bronze medal match in the back of her mind (a match which didn’t happen due to catastrophic knee injury to Carolina Marin in the second semi-final).
But Gregoria’s mindset and integrity didn’t allow for such thoughts. She continued to battle for every point and in doing so displayed her full repertoire of delightful technical skills. With her trademark easy relaxed hitting motion and deception, she time and again sent An Se Young in the wrong direction with disguised slices, pushes to the back of the court, and exquisite net shots. Tunjung won 10 of the last 16 points, which reflected her fighting spirit, although An Se Young eventually won 21/16 in that deciding game.
Despite the disappointment at her loss, Tunjung greeted her opponent with a smile and a genuine congratulatory embrace in a heartwarming display of good sportsmanship.
That semi-final signalled a possible future great rivalry with An Se Young, and showcased Tunjung’s fighting spirit, her abundant skills and her exemplary sportsmanship. A huge talent and a lovely personality. A young player with a seemingly very bright future.
Which is why it’s so distressing to hear that the Olympic Bronze medallist’s ongoing (and debilitating) vestibular illness has forced her to take the major, yet courageous decision to resign from the security and safety-net of the national federation, PBSI, to concentrate on her recovery and health.
I’m not sure whether this move indicates the possibility that Gregoria may never return to the competition court. But what I am absolutely certain about is that although I (like many) miss watching her elegant, deceptive play, her health and therefore the ability to enjoy life to the full is of paramount importance.
Sending all good wishes for a full recovery Gregoria. And future health and happiness with or without #badminton.
📷 @badmintonphoto
Gregoria Mariska Tunjung masih memulihkan diri dari vertigo. Karena belum bisa kembali ke kompetisi, dia pun mundur dari pelatnas. #Olahraga#AdadiKompas
https://t.co/thEOkd2LGZ
BWF Thomas & Uber Cup Finals 2026
Men's Team Thomas Cup - Group D - R3
🇫🇷Eloi ADAM🏅
21 21 🇫🇷Leo ROSSI🏅
🇮🇩Sabar Karyaman GUTAMA
19 19 🇮🇩Moh Reza Pahlevi ISFAHANI
🕚 in 43 minutes
Akhirnya sejarah itu tercipta! Tim Thomas Indonesia untuk pertama kalinya tumbang dari Prancis. Penurunan prestasi signifikan menciptakan sejarah demi sejarah baru. Moga masih bisa lolos ke QF!
BWF Thomas & Uber Cup Finals 2026
Men's Team Thomas Cup - Group D - R3
20 21 22 🇫🇷Toma Junior POPOV🥇
22 15 20 🇮🇩Anthony Sinisuka GINTING
🕚 in 85 minutes
Olympic gold medallist and three-time world champion Carolina Marin 🇪🇸 called time on a stellar career, leaving a legacy as one of the all-time greats.
We wish Carolina the very best for the journey ahead!
#BadmintonIcon
Gracias, Carolina! ❤️💛
Looking back at Carolina Marín's most iconic moment at the Olympics, as she announces her retirement in badminton. A true legend of the game. 👏
#Olympics#Badminton
Setelah IBF dan WBF bersatu, misi memasukkan bulu tangkis sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade berlanjut. Bulu tangkis sudah jadi cabor ekshibisi di Olimpiade 1972 namun kemudian misi masuk Olimpiade terkendala oleh perpecahan yang ada.
1985, empat tahun sejak IBF kembali bersatu pada 1981, bulu tangkis resmi diumumkan sebagai cabor yang bakal dipertandingkan di Olimpiade Barcelona 1992. Indonesia jelas menyambut gembira karena saat itu, Indonesia tak punya medali apa-apa dari ajang Olimpiade sebelum 1985. Medali pertama baru direbut pada Olimpiade Seoul 1988 lewat Tim Panahan Putri yang meraih medali perak, alias tiga tahun setelah bulu tangkis diumumkan masuk ke Olimpiade.
Di PBSI, Try Sutrisno baru saja menjadi Ketua PBSI menggantikan Ferry Sonneville. Olimpiade Barcelona 1992 jelas jadi prioritas utama. Dari 1985 hingga 1992, ada tujuh tahun terbentang.
Tujuh tahun bukan waktu yang bisa dibilang pendek.
Pemain-pemain utama yang ada di Pelatnas saat keputusan bulu tangkis masuk Olimpiade diumumkan, diyakini sudah melewati usia emas mereka saat Barcelona 92 datang.
Tujuh tahun juga bukan waktu yang bisa dibilang panjang.
Karena merancang pemain untuk bisa mencapai peak performance tujuh tahun mendatang jelas harus penuh perencanaan, perhitungan, dan pertimbangan. Belum tentu pemain-pemain yang sudah dibidik dan direncanakan sudah mencapai kekuatan maksimal saat Olimpiade dilaksanakan.
Atas dasar itu, PBSI di bawah Try Sutrisno langsung bergerak
Pemain-pemain muda yang masih berusia belasan pun dipanggil dan dimasukkan ke dalam tim yang diproyeksikan untuk Olimpiade Barcelona 1992. Alan Budikusuma dan Susy Susanti juga masuk di dalamnya.
Selain mereka, ada 20-an pebulutangkis lainnya yang secara gelombang masuk dalam program ini. Pelatih-pelatih berkualitas dipercaya memoles mereka. Tong Sinfu, Indra Gunawan, hingga Liong Chiu Sia jadi beberapa pelatih yang turut menggembleng pemain-pemain muda yang jadi asa Indonesia di Barcelona.
Dengan berbagai kendala yang mengadang, pemain-pemain muda mulai unjuk gigi di akhir era 80-an. Mereka mulai bisa merebut gelar juara dan dipandang sebagai kompetitor yang tangguh oleh negara-negara lain.
Masuk ke periode 90-an, sejumlah pemain muda Indonesia sudah berhasil jadi pemain papan atas. Olimpiade Barcelona 1992 datang, situasi makin menegangkan.
Ketegangan juga hadir untuk Try Sutrisno. Sebagai Ketua Umum PBSI, Try Sutrisno ikut merasakan beban para pemain ketika badminton diharapkan merebut medali emas sekaligus menorehkan sejarah manis untuk Indonesia.
Soeharto yang saat itu menjadi Presiden Republik Indonesia berharap Indonesia memenangkan medali emas Olimpiade. Satu saja.
Satu keping emas yang kemudian terasa berat sekali. Dalam tiap acara pelepasan atau pamit keberangkatan pada turnamen-turnamen sebelumnya, Soeharto tidak pernah pesan apa-apa. Jelang Barcelona 1992, pesan itu datang.
Tidak ada yang pasti dalam sebuah pertandingan olahraga. Karena itu yang bisa dilakukan PBSI adalah mendorong atletnya siap dalam segala aspek. Mental, moral, fisik, dan rohani. Semua digembleng dan diasah selama masa persiapan.
Ketika Tim Indonesia berangkat, mereka tinggal berusaha mengeluarkan semua kemampuan yang telah ditempa dan dipersiapkan. Selain itu, berdoa dan berserah pada Tuhan.
Hasilnya, Indonesia pulang dengan 2 medali emas lewat Alan Budikusuma dan Susy Susanti, 2 medali perak lewat Ardy B. Wiranata dan Eddy Hartono/Gunawan, dan satu perunggu lewat Hermawan Susanto.
Terima kasih dan Selamat Jalan, Pak!
It’s hard to process what’s unfolding right now. Hearing the interceptions overhead and seeing how quickly everything has escalated is honestly terrifying. So many disturbing videos are coming to light, and this is sadly the reality of what is happening. Dubai is a city I deeply love, a place that has always felt safe and full of life, which makes this moment even harder to comprehend.
To everyone who has been messaging and checking in, thank you, it truly means a lot. I am safe right now, stuck here in Dubai with my team, and we are doing okay as the situation around the war with Iran continues to evolve. The Airport is chaotic, with many families stranded and waiting, all of us just hoping we get past this soon.
Moments like these remind you how fragile normal life really is. Praying for safety and peace for everyone affected.
🥈 #ThailandMasters2026 S300
MS 🇹🇭 Panitchaphon Teeraratsakul
WS 🇲🇾 Goh Jin Wei
MD 🇮🇩 RAYMOND INDRA/NICOLAUS JOAQUIN (2)
WD 🇨🇳 Bao Li Jing/Li Yi Jing (7)
XD 🇮🇩 BOBBY SETIABUDI/MELATI DAEVA OKTAVIANTI
📸 BWF
Timnas Futsal Indonesia menciptakan sejarah penting dengan menjadi Runner Up Piala Asia 2026.
INDONESIA 🇮🇩 vs Iran 🇮🇷
AET : 5-5
Pinalti: 4-5
#AFCFutsal2026