@PemetikAksara esok bila kau terbangun
di kota yang basah air mata,
tengoklah ke jalan-jalan setapak
dalam dirimu;
apakah jerit daun-daun selepas hujan
masih sama nyaringnya,
bahkan ketika tlah tertimbun reruntuhan. #mainkata
@PelangiPuisi kudengar bunyi ombak
berdebur di dalam kolase;
dua pulau disusun
dari pecahan musim dan kenangan,
dengan dermaga yang bermuara
di jantungmu. #SeninPelangi
@PelangiPuisi kudengar bunyi sobekan kertas,
perlahan dalam ingatan:
di antara lipatannya,
wajahmu dan wajahku
tersenyum ke arah masa lalu
yang tak pernah selesai direkatkan. #SeninPelangi
@PemetikAksara di hutan yang jauh,
ia ingat-ingat betapa nyaring
suara daun-daun hijau
yang dulu tumbuh
di antara dua tulang rusuknya;
dari hidu ke hidup
amat permai suasana
sebelum api
mengubah kayu jadi abu. #PuisiAmbyar
@MataPuisi detik demi detik:
dunia berganti kulit,
anak-anak menjadi asing,
rumah-rumah bermetamorfosa.
detak jam terdengar
seperti seseorang mengetuk peti,
meminta ruang
untuk sekedar berbagi sunyi. #matamalam
@SelarikSyair dalam mimpi,
api telah membakar namanya
hingga tinggal cahaya.
namun pada abu yang putih,
ia melihat sebuah pagi
menyulam luka di tubuhnya
dari sisa-sisa perpisahan. #jumatpuisi
@SelarikSyair kelak,
bila hujan mengetuk pintu hutan,
jangan lekas menyebutnya sebagai kesudahan;
ada akar-akar yang mati,
ada mata air yang tak mengenali muara,
ada kesedihan yang tumbuh,
tapi tak pernah berbunga. #jumatpuisi
@MataPuisi dari sini,
segala perih yang kutanggung
menjelma angin.
saujana!
sementara mataku
masih saja menemukanmu
di lorong-lorong sepi,
dingin yang berdesir di tengkukmu,
t'lah gagal memberi gigil. #matasenja
@PelangiPuisi dari cinta
tersebutlah warna.
merah, kuning, hijau ...
kaukah yang menggenggamnya;
balon-balon mengapung
memberi ruang bagi riang,
di wajahmu duka menghilang. #puisikangambar
@PelangiPuisi duhai, kau yang menghuni
detak jantung,
ketuklah ritmenya;
satu, dua ...
lapangkan!
tiga, empat ...
bebaskan hidup
dari degup
selain Cinta. #puisipendek