Kita musti objektif dalam menilai suatu kejadian, terutama dalam peristiwa yang terjadi di Matraman kemarin pagi.
Ini bukan soal SDA yang dieksploitasi, melainkan sikap para preman dari timur yang kerap berlaku arogan.
Bayangkan saja, sudah geber-geber motor lalu tak terima saat ditegur. Bahkan sampai melakukan sweeping ke gang-gang, tentunya ini menyinggung perasaan orang lain.
Tiap kelompok masyarakat memiliki rasa solidaritas, tapi bukan berarti dengan begitu bisa berbuat semaunya.
Ini seharusnya bisa menjadi bahan refleksi diri bagi kita semua, dimana bumi dipijak maka disitu langit dijunjung.
Jujur saja saat ini sudah ada 3 tersangka pelaku yang diamankan oleh pihak kepolisian, kendati demikian tidak ada jaminan bahwa ketiganya benar-benar aman.
Hari-hari yang panjang kedepannya akan penuh dengan tantangan, baik di kantor polisi hingga ke lapas.
Bukan sekedar menjalani masa hukumannya, tapi juga musti bertahan diri dari upaya balas dendam kelompok lawannya yang merasa belum puas.
Bisa jadi ketiganya akan menghadapi intimidasi hingga kekerasan fisik dari narapidana yang se-suku dengan korban, mengingat rasa sukuisme di lapas begitu kental.
Jadi bukan berarti membela pembunuhan, melainkan mengurai permasalahan dari akarnya.
Apabila terdapat indikasi bahwa arogansi korban dipicu oleh pengaruh miras, maka permasalahan ini musti disikapi dengan berbagai langkah preventif dari pemerintah.
Perda pelarangan peredaran miras musti ditegakkan, karena miras ini adalah salah satu pemicu terjadinya kejahatan.
Akibatnya bisa mematik peristiwa yang lebih besar, seperti yang terjadi kali ini.
Adapun kemarahan warga tentu tidak akan meledak apabila tidak dipicu atau diprovokasi, apalagi lingkungan tersebut merupakan zona merah yang kerap dilanda tawuran.
🚨Pau Cubarsí was asked who he believes is the better player between Lionel Messi and Cristiano Ronaldo.
🎙️ Reporter: “Pau, you’ve now faced both Lionel Messi and Cristiano Ronaldo. Who gave you the tougher game?”
🗣️ Pau Cubarsí: “They’re two completely different players, but based on my experience, Cristiano Ronaldo gave me the toughest game.
“When we played against Cristiano, there was always the feeling that one moment could change everything. Even if he wasn’t involved for long periods, you knew he only needed one chance to score.
“I remember one occasion when he beat me, created space from a very difficult angle and still managed to get an incredibly powerful shot away. It reminded me why he’s one of the greatest goalscorers football has ever seen.
“Against Messi, our team defended very well collectively and managed to limit his influence. We stayed compact, worked together, and made it difficult for him to find the spaces he usually exploits.
“If you’re asking me who caused me more problems personally in those matches, I’d say Cristiano Ronaldo. Based on what I experienced on the pitch, he was the more difficult opponent to defend.”