Bukan sekedar bunga tidur.
Ada alam yang memanggil untuk dijelajah.
Gunung es yang nampak di permukaan, hanya sejumput keajaiban dari yang tersembunyi di bawah lautan..
IRONI NADIEM
Apa yang sedang dihadapi Nadiem Makarim? Seorang pengusaha muda dengan kenyamanan, kekayaan, dan prestise global, tiba-tiba memilih mendobrak masuk ke ruang gelap birokrasi Indonesia—sebuah arena tempat jebakan politik, dendam kelompok, serta kebutuhan akan kambing hitam tumbuh subur. Datang membawa gagasan modernisasi, digitalisasi, dan efisiensi, ia malah mendapati kenyataan pahit: negeri ini kerap memangsa siapa pun yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki keadaan.
Ironinya, seseorang yang bisa menikmati kehidupan elite dunia korporasi justru rela menantang gelombang di birokrasi pendidikan—bidang yang reputasinya sarat kepentingan, penuh balas dendam politik, proyek pragmatis, dan resistensi struktural. Pilihan itu saja menandakan, setidaknya, keinginan nyata untuk mengabdi.
Namun, Indonesia sudah lama punya kebiasaan: mencurigai setiap upaya perubahan. Begitu seorang profesional menjejakkan kaki di pemerintahan, segala kebijakan yang ia bawa didekati dengan kecurigaan nyaris otomatis. Digitalisasi dicap proyek politis; perubahan dipandang ancaman, efisiensi dicurigai sebagai penghilangan rejeki banyak pihak. Kritik-kritik yang muncul pun lebih sering berangkat dari kepentingan mencari kambing hitam daripada dari evaluasi rasional.
Dalam ruang seperti itu, seorang menteri bisa dengan mudah “didapuk” jadi tersangka sosial, bahkan sebelum proses hukum berjalan. Opini publik dengan sigap dibentuk: potongan narasi dikumpulkan, kemarahan birokrasi lama digerakkan, kebencian politik diaduk; konklusi sudah siap sebelum fakta selesai diajukan—seseorang harus dijatuhkan.
Padahal masalahnya jauh dari sesederhana drama moral hitam-putih versinya media sosial. Birokrasi Indonesia adalah pusaran jaringan tua, budaya tua, kontrak tua, dan kepentingan yang berlapis. Setiap menteri mewarisi sistem lamat, serta kebijakan yang seringkali sudah berlangsung jauh sebelum dirinya masuk. Namun, publik hampir selalu membutuhkan satu wajah untuk jadi representasi masalah dan pelampiasan kemarahan sosial.
Di sini letak tragedi psikologisnya: seseorang meninggalkan kemewahan agar dapat melayani publik, hanya untuk mendapati ruang pelayanan publik telah berubah menjadi arena penghukuman massal. Ironi terbesar dari negeri ini sering terucap tanpa disadari: kami ingin orang-orang terbaik, tapi kami juga tak segan menggiling mereka saat badai datang.
Cinta negeri, sering kali, adalah cinta yang tidak dibalas. Pemerintah menuntut pengabdian total, tapi tak menawarkan perlindungan bagi yang berani berkorban. Keberhasilan diklaim sebagai kemenangan kolektif; kegagalan dilempar ke pundak tunggal. Nama-nama profesional yang dulu dielu-elukan, besok bisa dibuang tanpa ampun ketika angin politik berubah arah.
Kisah Nadiem bukan sekadar cerita satu orang. Ini tentang luka yang membuat profesional dan mereka yang punya modal reputasi akhirnya enggan ke ruang publik; integritas, nama baik, dan pengorbanan pribadi di republik ini tidak menjamin apapun—tidak perlindungan politik, tidak pula pertahanan sosial. Mereka belajar, siapa pun bisa dipuja ketika direkrut, lalu dibuang menjadi musuh bersama begitu sistem membutuhkan tumbal.
Tragedinya melampaui satu nama: yang rapuh adalah relasi bangsa ini dengan siapapun yang coba berkontribusi dalam jalur resmi negara. Indonesia membutuhkan pengabdian, namun kultur politiknya tumbuh dari benih ketidakpercayaan dan curiga; pengabdi selalu dianggap calon tersangka.
Selama siklus ini berulang, negeri ini perlahan kehilangan sumber keberanian dan kompetensinya sendiri—karena siapa yang waras akan menawarkan diri untuk menanggung resiko, bila cinta negeri balasannya selalu hukuman?
Siapa yang tersembunyi?
Siapa yang ditemukan?
Siapa yang tak dikenali?
Siapa yang dikenal?
Siapa mata yang buta?
Siapa mata yang menjaga?
Siapa yang ada?
Lihat lah betapa kemilau mahiyah telah mengaburkan diri, meski prinsipalitas wujud katanya telah diamini. Jika setiap mata ditelanjangi dari materi, sudi kah tetap bercermin saat menyaksikan wujud mitsali?
Pernyataan ini disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, saat berpidato dalam upacara penutupan Program Perak MADANI Rakyat (PMR) 2025, di Lumut Waterfront, Perak, Malaysia, Minggu (15/6/2025).
Simak selengkapnya isi pidato Anwar Ibrahim melalui tayangan berikut ini.
| Narasi Daily
@ismailfahmi Mereka berlima ngerasa lebih dari menlu kita Bu Retno.
“Alih-alih melakukan pemboikotan”, boykot dan demo tentang genosida ini tentang keberpihakan. Gak ada yang abu-abu dalam pembunuhan rakyat sipil.