Entah kenapa, tulisan ini lewat di waktu yang pas. ๐ฅ
"dari banyaknya manusia di dunia ini, ternyata yang paling pantas untuk terus dinasihati adalah diri kita sendiri."
QS Asy-Syura ayat 30. ๐ฅบ
eh bisa ga sih..... kita istirahat aja gitu..... diem doang...... ga ngapa-ngapain..... BENERAN DIEM DOANG..... tanpa rasa khawatir..... tanpa takut besok gimana..... tanpa takut ketinggalan..... beneran istirahat..... rebahan.... tidur..... tapi ga meninggal...
Salah satu aspek jadi dewasa adalah menyadari bahwa lo tetap harus show up dan function optimally.
Gak peduli seberat apa yang lagi lo alami dan rasain. Karena dunia emang gak peduli sama masalah pribadi lo.
Lo tetap harus hadir di meeting meskipun hati lo lagi hancur lebur. Lo tetap harus berangkat kerja meskipun seminggu lalu salah satu anggota keluarga lo baru aja meninggal. Lo tetap harus jawab email dan presentasi dengan suara tegas meskipun semalam lo nangis sampe pagi. Ya udah, mau gimana lagi.
Dunia nggak peduli soal itu semua. Dunia cuma peduli satu hal: apakah lo berhasil memenuhi tanggung jawab lo atau enggak.
Dunia gak akan berhenti berputar cuma karena lo lagi gak baik-baik aja. Bahkan pas lo lagi sakit, lagi patah hati, atau lagi kehilangan segalanya, roda kehidupan tetep jalan๐ฅฒ
baru sadar, ternyata setiap kita โlevel upโ, pasti โkehilanganโ sesuatu.
entah itu kebiasaan, pertemanan, pasangan, atau versi diri kita yang lama.
tapi, itu bukan berarti kita benar-benar kehilangan melainkan kita bertumbuh. menyeleksi apa yang udah gak sejalan dengan versi kamu yang lebih baik diatas sana.
Pernah gak kamu ngerasa pemasukan gak seberapa, tapi anehnya mau beli apa aja bisa kebeli?
Berkali-kali aku merasakan hal seperti ini, kayak ada aja tiba-tiba rezeki yang datang.
Hal ini membuktikan kalo matematika Allah mencukupkan kebutuhan hambanya diluar kemampuan manusia.
Nikah itu ujian
Gak nikah-nikah itu ujian
Punya anak juga ujian
Gak punya-punya anak juga ujian
Kita sedang berada di "Ujianโ yang berbeda. Gapapa kalo fase hidupmu berbeda, itu bukan aib.
Ini adalah setetes sampel sperma.
Sesungguhnya peluang kita untuk pernah lahir dan hidup itu keciiiiiiiiillllll sekali.
Hanya 1 dari jutaan sperma, Ini baru dihitung dari jumlah sel sperma yang masuk ke Rahim bersamaan dengan kita.
Belum dihitung dari peluang bapak kita bertemu ibu kita. Kakek kita ketemu nenek kita dan seterusnya.
Begitu kecilnya sehingga saya sangat menyadari kehidupan kita adalah sebuah takdir keajaiban.
Bangkitlah teman-teman, keberadaan kita terlalu mahal untuk dihabiskan dengan menyerah.