Gue nonton tanpa suara.
Cuma baca kalimat awal.
Yang di otak gue:
Si cewek mohon2 jangan diputusin, si cowok kekeuh putus karena sakit sampe botak.
Yes, gue lanjut baca deskripsi dan pake earphone.
Cô gái đang năn nỉ bạn trai mình đừng chia tay. Tưởng đâu anh bạn trai là soái ca nên cô gái bất chấp cầu xin, nản nỉ, ai dè là lão hói. Lúc đẩy nhau rớt tóc giả ra cười muốn rụng quai hàm haha.
Pernah ada pesohor medsos yang cari impresi jalur kontroversi:
Live ngocok mpe crot di manekin.
Gue lupa namanya.
Semoga di twitter gak ada yang mpe gitu ya
Spanyol sekarang lebih kyak tim yang lagi mengenang kejayaan masa lalu daripada tim yang bener2 bisa ngebuat Cape Verde benar-benar terancam.
Di sisi lain, tiang gawang jadi bek yang kokoh juga nih.
Let's wait and see
Yasin Ayari refused to celebrate against Tunisia because of his family roots.
Now imagine this for a second...
Indonesia somehow makes it to the 2026 World Cup. Eliano Reijnders scores a hat-trick against the Netherlands. The final whistle blows.
Instead of celebrating wildly, he walks straight over to Tijjani Reijnders, gives him a hug, and quietly says:
"Sorry, bro. Didn't mean to score three."
Just imagine the family WhatsApp group after that. 😭🇮🇩🇳🇱
Keajaiban di Menit 78, bulan Februari 2011.
Bagi fans Manchester United, derby lawan City selalu berasa beda. Skor waktu itu 1-1, game ketat banget, dan asli bikin tegang bahkan bisa nyampe ke ruang tamu rumah saya.
Sampai momen itu tiba-tiba datang.
Nani ngirim bola ke kotak penalti, Rooney berdiri dalam posisi yang gak ideal buat nembak, belakangin gawang dan dijaga pemain City. Gak ada tanda-tanda ada sesuatu yang luar biasa bakal terjadi.
Tapi, dalam sepersekian detik, Rooney lompat, lanjut melepaskan tendangan salto.
Bola meluncur deras ke gawang City.
Gol. Gol. Gol.
Saya langsung teriak heboh kesetanan di depan tv. Gak peduli kalau sudah ada yang pada pules. Gak peduli kalau satu rumah dan tetangga bisa aja bangun karena teriakan saya.
Gak bisa saya selebrasi tenang goyang-goyang tangan doang.
Waktu tayangan ulang diputar, saya masih sulit percaya dengan apa yang baru saja saya saksikan. Rooney berdiri dengan kedua tangan terbentang, sementara Old Trafford meledak dalam euforia.
Bahkan dari layar tv yang berjarak ribuan kilometer dari Manchester, energi momen itu terasa bener-bener meledak.
Lalu skor di layar berubah.
Manchester United 2-1 Manchester City.
Rooney, magic di menit ke 78.
Waktu itu rasanya kayak lebih dari sekadar unggul dalam sebuah game.
City lagi berkembang jadi kekuatan baru EPL, tapi gol itu berasa kayak sebuah pernyataan, sebuah pengingat bahwa Manchester masih berwarna merah dan bahwa United belum menyerahkan tahtanya begitu saja.
Selama jadi fans United, saya udah liat banyak gol hebat. Gol penentu gelar, gol kemenangan di menit akhir, sampai gol-gol indah yang terus diputar dalam kompilasi sejarah klub.
Tapi gol Rooney malam itu punya tempat tersendiri.
Karena itu terjadi di derby Manchester.
Karena itu datang di saat yang paling dibutuhin.
Gak setiap minggu kita bisa liat seorang pemain memenangkan pertandingan dengan tendangan salto yang nyaris mustahil dilakukan.
2026, detail pertandingan waktu itu mungkin mulai terlupakan, hayo jujur siapa yang ingat proses 1 gol lain?
Thanks @WayneRooney hatur nuhun ini ibu Budi.
@cycypaja@sosmedkeras Gue kebayang kalau punya temen kyak gitu, lagi rapat acara, ada yang ngasih pendapat, dibales nye nye nye nyeee..anjirrr ..wakkakaa muakk muakk
Mainan anak usia 30-45 Tahun.
Bisa main after mandi bersama teman-teman, jangan lupa pipi dibedakin.
Mainnya gantian, jangan rebutan ya dek, eh omm.
Kalau udah mahgrib, pulang.