Ini aku dan sahabatku, cowok.
aku kenal dia sebelum aku kenal suami. Bertaun-taun temenan, road trip bareng, nangis2 covid bareng, spent holiday bareng. Gak ada yang namanya romansa tuh, karena kita emang pure temenan.
Dia jadi bestman suamiku pas aku nikah, karena akhirnya dia deket banget sama suamiku.
Sekarang pun dia sudah punya pasangan dan kita jadi sering banget double date & liburan bareng.
Menurutku yang selalu baper sama temen sendiri itu beneran skill issue, gak bisa hidup interaksi secara biasa aja hehehe
setelah itu jadi sadar, kenapa mesti takut with the idea of “getting replaced”? aint that how this life works? sesederhana memahami ya mungkin sampai di situ aja perannya. dan itu ga papa. not everyone means to stay in our life forever.
some people stay, some teach us a lesson.
Aku setuju dengan statement ini:
"Bahwa hidup akan jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan. Not everything is our attention, not everything deserve our energy. Ada banyak hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa harus selalu kita dengar, kita bahas, ataupun kita lihat".
when God puts me in strange and terrifying situations, I see myself as a cat going to the vet. it’s good for me somehow, I say, or else someone who loves me wouldn’t have taken me there
ikutan beropini ah. sebagai yang udah terlena dengan kesendirian, marriage/pasangan harus punya 'fungsi' & bawa nilai yg nyata di hidup (practical maupun emosional). it needs to help my life significantly better—karena smp skrg aku masih bisa apa-apa sendiri.
ga semua hal buruk di relationship harus diceritain ke temen atau org terdeket apalagi kalo MASIH MAU BARENG soalnya lo bisa terima dan maafin pasangan lo, tp org terdekat belum tentu bisa terima lo disakitin (ga berlaku buat case abuse atau kelakuan binatang)
Terlepas dari gaji cewenya besar atau engga, gue mau menekankan sesuatu disini… cowo tuh kadang (or most of the time) suka lupa (atau simply ignorant aja) kalo manusia yg mau dijadikan pasangan hidupnya itu bukan “entitas kosong”.
Ada kultur, pendidikan, pengalaman, keluarga, lingkungan sosial, dll yg ngebentuk si cewe shg lu bisa ketemu dia dan memutuskan utk menikahi dia skrg.
Lu gabisa meremehkan itu. It takes her lifetime supaya dia bisa jadi versinya skrg.
Consider it as a reminder to you. Good luck.