Halo, guys!
🔥Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?
Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨
Bisa diakses di Karyakarsa dan Lynk ID !
⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutin ceritanya
🔥 Gak penasaran setelah bagian terakhir!
Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇
Karyakarsa : https://t.co/dYSoteDKZt
Lynk ID : https://t.co/JXpn21qbg2
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kesadaranku sudah menurun drastis, sehingga hanya bisa mengetahui kondisi sekitar dengan meraba-raba pakai tangan.
Sepertinya aku mendarat di atas batu tebing yang mendatar. Batu itu benar-benar menjadi penyelamat, karena menghalangiku jatuh ke dasar jurang.
“S...syukurlah,” ucapku lirih.
Aku sangat senang, karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Tanpa terasa, aku menitikkan air mata penuh haru. Belum pernah aku merasa sebahagia ini.
Kini, aku terkapar dalam kondisi telentang. Mataku menghadap ke arah langit, sehingga bisa melihat pemandangan di atas bukit.
Awan mendung, yang menyelimuti sejak di dalam kota, berubah menjadi hitam pekat. Pertanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
Benar saja. Kurang dari lima menit kemudian, air mulai berjatuhan dari atas langit. Membersihkan debu dan luka yang menutupi tubuhku.
Rasanya benar-benar menyegarkan, meskipun nyeri dan perih masih terasa.
Di tengah derasnya hujan, tiba-tiba sebuah bayangan hitam tampak dari atas bukit. Penglihatanku masih agak buram setelah terguling di tebing tadi.
Walau samar-samar, aku bisa menebak itu adalah bayangan Asurian brengsek yang menjatuhkanku.
Lama kelamaan, aku bisa melihatnya dengan jelas. Ia sedang mengintip ke bawah. Melihatku terkapar tak berdaya, wajahnya tampak sangat puas dan penuh kemenangan.
Sikap monster itu membuatku naik pitam.
Seolah ingin menggapainya, aku merentangkan tangan ke atas, dan berusaha untuk bangkit.
Namun, tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak. Kakiku seperti mati rasa.
Kucoba goyangkan tubuhku agar bisa bergerak. Tapi percuma saja. Cederaku sangat parah, dan mungkin ada beberapa tulang yang patah tanpa kusadari.
Tak lama kemudian, Asurian itu langsung pergi. Ia memanjat dan melompat di atas bukit, sembari membawa tubuh ayahku. Disusul oleh temannya yang memanggul ibuku.
Aku hanya bisa melihatnya dengan tatapan kosong, hingga mereka hilang sepenuhnya dari pandangan.
Aku....telah gagal menyelamatkan orangtuaku.
Aku....telah kehilangan orangtuaku untuk selamanya.
Tubuhku begitu lemas ketika memikirkannya. Mulai saat ini, aku harus hidup tanpa kehadiran Ibu dan Ayah.
Sebatang kara di usia yang masih belia adalah mimpi buruk setiap anak. Tidak pernah sedetik pun aku mengira hal ini akan terjadi padaku.
Tanpa sadar, pikiranku yang penuh beban telah menghabiskan sisa energiku. Kondisi tubuhku dengan cepat menurun drastis. Mataku tidak kuat lagi untuk terbuka, dan akhirnya menutup dengan sendirinya.
Di tengah guyuran hujan dan dikelilingi batuan kapur, aku terbaring tak sadarkan diri.
Aku berharap seseorang dapat menemukanku yang lemah tak berdaya di bukit sepi ini.
- bersambung -
Halo, guys!
🔥Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?
Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨
Bisa diakses di Karyakarsa dan Lynk ID !
⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutin ceritanya
🔥 Gak penasaran setelah bagian terakhir!
Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇
Karyakarsa : https://t.co/dYSoteDKZt
Lynk ID : https://t.co/JXpn21qbg2
Belum sempat aku memutar otak, Asurian yang membawa tubuh Ayah menemukan tempat mendatar di lereng bukit. Di dekatnya ada sebuah bongkahan besar, yang sepertinya pecahan dari bebatuan tebing.
Sejurus kemudian, si monster berdiri di atas tempat itu. Sepertinya dia mulai lelah kejar-kejaran dan memanjat bukit terjal.
Kala beristirahat sejenak, ia mengintip ke bawah, dan melihatku sedang melintas di jalan setapak. Ini tentu jadi kesempatan besar untuk menyingkirkanku.
Asurian itu langsung menendang batu kapur besar di sebelahnya. Membuatnya meluncur di lereng tebing dengan cepat.
Dalam waktu sepersekian detik, batu itu semakin dekat, dan cepat atau lambat akan segera menghantamku.
"Woaaaaaa!" aku menjerit karena terkejut.
Setengah mati aku berusaha menghindari batu besar itu. Kuputar stang motor ke kanan dan kiri, dan menambah kecepatan agar lolos dari petaka. Namun, semuanya sia-sia.
Brakkkkkk!
Batu itu tetap menghantam bagian belakang skuterku hingga membuatnya oleng. Alhasil, aku gagal mempertahankan keseimbangan, dan akhirnya terlempar dari jalanan.
"Aaaaaaaaaa!" teriakku penuh ketakutan.
Selanjutnya benar-benar mengerikan. Giliran aku dan skuterku yang terguling di tebing curam.
Rasanya benar-benar sakit. Tubuhku berulang kali menghantam bebatuan kapur yang sangat keras. Menghasilkan banyak luka dari kaki hingga kepala.
Cedera yang kualami itu membuat tubuhku langsung kehabisan tenaga, dan perlahan hilang kesadaran.
Saat ini, aku benar-benar pasrah. Mustahil bisa selamat hidup-hidup setelah jatuh dari ketinggian puluhan meter.
Hari ini adalah momen paling sial sepanjang hidupku. Orangtuaku diculik, dan kini nyawaku akan berakhir dengan tragis di dasar jurang. Siapa yang menyangka aku akan bernasib malang seperti ini.
Apakah semua ini karena karma burukku? Anak yang terlalu manja dan kerap melawan orangtua. Tidak tahu terima kasih, dan sering menuntut ini itu tanpa berpikir panjang.
Terakhir, membuat orangtua sedih hingga menangis.
Baru sekarang aku merenungi semua kesalahanku. Dan aku pun mengerti.
Mungkin tewas di dasar jurang memang akhir yang pantas bagi orang sepertiku ini.
Saat bersiap menghadapi ajal, tiba-tiba tubuhku berhenti terguling........
- bersambung -
#novel #ceritafiksi #serial #petualangan
Tanpa pikir panjang, aku berlari turun ke lantai bawah. Kusingkirkan semua benda rusak yang menghalangi tangga dengan kakiku.
Di ujung anak tangga terdapat pintu menuju garasi. Aku berusaha membukanya, namun tidak bisa. Pintu itu macet disaat yang genting seperti ini. Mungkin karena terburu-buru, Ayah menutupnya dengan kasar. Sehingga ada kerusakan di kuncinya.
"Ayo cepatlah!" teriakku dengan tidak sabar, sembari berusaha mendobrak pintu.
Tendangan, tinju, hingga pukulan bertubi-tubi kulayangkan agar pintu sialan itu terbuka. Hasilnya tetap saja nihil.
Saat terengah-engah karena lelah berusaha, aku melihat sebuah batang kayu besar tergeletak di lantai. Sepertinya itu adalah penyangga atap, yang jatuh ketika Asurian merusak rumah kami.
Usia rumah dan toko kami ini memang cukup tua. Makanya, rangka atapnya masih menggunakan kayu, bukan baja ringan seperti bangunan kekinian.
Bagi orang normal, batang kayu cuma rongsokan tak berguna. Namun buatku, benda itu adalah penyelamat.
Kuraih batang kayu itu, dan langsung kupakai untuk mendobrak pintu. Kuayunkan berkali-kali ke arah pintu dengan sekuat tenaga.
Setelah terus mencoba, pukulanku berhasil menghancurkan engselnya. Sekarang, pintu itu terbuka lebar. Membuatku leluasa untuk mengambil motor yang terparkir di garasi.
Karena membuang waktu cukup banyak saat mendobrak pintu garasi, kupikir dua Asurian itu sudah menghilang.
Ternyata aku masih bisa melihat mereka dari kejauhan.
Kukencangkan helm di kepala, aku langsung tancap gas dengan motor skuter kesayangan keluarga, yang biasa dipakai untuk mengantarkan pesanan ke pelanggan.
Bruuummmmm
Akibat terlalu fokus ke monster penculik ayah dan ibu, aku lupa mengukur kecepatan motorku, yang rasanya sudah mencapai 100 km/jam.
Hasil yang tidak buruk, apalagi untuk orang yang baru dua kali belajar mengendarai sepeda motor.
Dengan mengemudi "secepat kilat" itu, aku berhasil mengambil jarak cukup dekat dengan kedua Asurian.
Namun, sepertinya mereka sadar bahwa ada bahaya yang sedang mengintai. Langkah mereka yang tadinya agak santai berubah menjadi begitu cepat.
Tak ingin kehilangan keduanya, aku menarik gas lebih dalam lagi.
Nguuooooongggg
Suara skuter kuningku meraung-raung seperti motor balap, di kota yang sepi ditinggal penduduknya ke pengungsian. Rambut panjangku yang dikuncir seolah berkibar di udara.
Namun, itu pun masih belum bisa menandingi kecepatan kedua Asurian. Mereka benar-benar lincah. Langkah mereka seolah melayang di atas jalanan.
Selain itu, suara kaki mereka saat menyentuh aspal sangat keras. Sampai-sampai meninggalkan beberapa lubang besar.
Dalam waktu kurang dari setengah jam, kedua Asurian itu mampu mencapai perbatasan kota. Lokasinya yang berada di wilayah perbukitan ternyata menguntungkan mereka.
Keduanya mulai lompat ke atas bukit yang terjal. Langkah itu membuat usahaku mengejar mereka semakin sulit.
"Sial, apa yang harus kulakukan," pikirku bertanya-tanya.
Aku benar-benar kehabisan akal. Para monster itu sudah memanjat bukit. Bagaimana caranya aku bisa mencapai mereka dengan skuter kecil?
Akhirnya, aku memilih untuk naik ke bukit melalui jalan setapak di dekat sana. Aku yakin dapat mendekati mereka, asalkan dengan kecepatan penuh.
Tapi sebelum itu, aku harus mengambil ancang-ancang. Kutarik gas dalam-dalam, hingga knalpot terasa meledak-ledak seperti bom panci.
Bruummmm tak tak bruumm bruumm
Ketika merasa siap, aku pun melepaskan rem tangan. Skuterku langsung melesat di jalan setapak.
Ternyata medannya sangat curam. Tepat setelah tanjakan, aku harus menemui turunan tajam. Membuat skuterku seolah menukik ke bawah.
Tak lama kemudian, sebuah tanjakan yang tak kalah curam terlihat di depan mataku. Dengan kecepatan hampir 100 km/jam, medan ekstrem, dan jalanan yang rusak, tubuhku berguncang tak karuan di atas skuter.
"Ow..oww...duh...aduh!" teriakku kesakitan ketika berusaha menjaga keseimbangan.
Sementara itu, jalanan ini tidak dilengkapi pagar pembatas. Jika lengah sedikit, aku bisa saja jatuh ke jurang dari ketinggian 50 meter.
Meski sangat terjal, perlahan aku mampumendekati target untuk kedua kalinya. Sayangnya, dua monster itu masih merayap di atas tebing, yang sulit kujangkau dengan skuter.
Aku harus menemukan cara untuk menghentikan mereka disini.
- bersambung -
Halo, guys!
🔥Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?
Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨
Bisa diakses di Karyakarsa dan Lynk ID !
⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutin ceritanya
🔥 Gak penasaran setelah bagian terakhir!
Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇
Karyakarsa : https://t.co/dYSoteDKZt
Lynk ID : https://t.co/JXpn21qbg2
Aku langsung melompat dari ranjang, dan memutar kunci kamar. Melalui celah pintu yang kubuka sedikit, aku menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan.
Dengan lengan kanan yang berlumuran darah, juga luka di sekujur tubuh, Ayah sedang bertarung dengan seekor Asurian.
Sepertinya, pertarungan telah berlangsung sengit. Sejumlah ruangan di lantai tiga terlihat porak poranda, sementara perabotan hancur berserakan di lantai.
Monster yang memiliki kulit merah legam, tubuh tinggi besar, gigi runcing dan tanduk di kepala ini lahir dari penyakit AVIDS yang telah mewabah selama 3 tahun terakhir.
Awalnya, Asurian juga merupakan manusia seperti kita. Namun, mereka biasanya memiliki sifat yang kotor, psikopat, atau gemar melakukan perbuatan jahat.
Ketika terkena Asurivirus (virus Asuri), orang-orang itu berubah menjadi makhluk mengerikan nan kejam. Karena penyakit ini mengubah keburukan manusia menjadi kekuatan jahat yang sangat dahsyat!.
Asurian tergolong monster yang buas dan haus darah. Mereka sering menyerang pemukiman, dan menculik para penduduk setempat. Banyak korban Asurian yang disiksa hingga tewas, bahkan ada pula yang dimakan hidup-hidup. Semua itu dilakukan hanya untuk memuaskan nafsu liar mereka.
Melihat makhluk seperti itu merangsek ke dalam rumah, pantas saja Ayah menjadi histeris, dan berusaha membawaku keluar dari kamar.
Tapi, aku tidak melihat Ibu sama sekali. Dimana dia sekarang? Apakah sudah dievakuasi?
"Ayah!"
Aku mencoba memanggil Ayah, dan bersiap keluar dari kamar untuk menolongnya. Namun, ia buru-buru menghentikan langkahku.
"Hoa, jangan keluar!" perintahnya dengan setengah berteriak.
"Tetaplah berlindung di dalam kamar sekarang!"
"T..tapi...A..Ayah," kataku terbata-bata, berusaha meyakinkan Ayah kalau aku bisa membantunya.
Belum sempat ia memberikan jawaban, Asurian itu langsung menghantam Ayah dengan tinjunya yang super kekar.
"Kyaaaa!" Aku pun menjerit tidak karuan.
Beruntung, ayahku adalah praktisi bela diri selama 20 tahun lebih. Ia berhasil menangkis tinju itu dengan jurusnya, meskipun akhirnya terjerembab juga.
Tidak butuh waktu lama bagi Ayah untuk bangkit, dan kembali berdiri menantang Asurian. Monster itu langsung beringas begitu melihat mangsanya belum kalah. Kedua tangannya berusaha menggebuk Ayah lagi. Namun karena terbawa nafsu, tidak ada satupun serangannya yang kena. Ayah pun berhasil menghindari setiap tinjunya.
Sekarang, saatnya melakukan serangan balik!
Dengan lincah, Ayah berlari ke arah si Asurian, dan melompat ke atas tubuhnya. Monster itu tampak panik, dan berusaha menjatuhkan Ayah dengan menggoyangkan tubuhnya. Tapi sia-sia saja.
Sekali lagi, Ayah melompat dari bagian pundak ke atas kepala, dan menjambak rambutnya. Asurian itu langsung berteriak kesakitan.
Gwoaaahhhh!
Gerakan tubuhnya semakin beringas tidak karuan. Ia mulai menabrak dinding, atap, dan semua barang di sekitarnya. Sadar bahwa aksinya telah membuat monster itu kelimpungan, Ayah terus menarik rambut si Asurian dan memutarnya kesana kemari. Seperti koboi yang sedang menjinakkan kuda binal.
"Heyaaa!" teriak Ayah saat beraksi.
Aku benar-benar takjub saat menyaksikan pertarungan itu. Sedikit lagi, kemenangan akan berada di tangan Ayah, dan kami berdua bisa segera melarikan diri. Itulah yang aku pikirkan saat itu.
Ternyata, dugaanku meleset. Dengan cepat, situasi berubah menjadi begitu mencekam.
Saat Ayah sibuk bertarung, tiba-tiba seekor Asurian lain muncul dari lantai bawah. Kebetulan, kamarku terletak di dekat tangga, sehingga aku bisa melihatnya dengan cukup jelas. Berbeda dengan temannya, monster ini tampak sedang menenteng sesuatu di tangan kirinya. Samar-samar, sepertinya itu tubuh manusia.
Dengan menajamkan penglihatan, aku berusaha mengenali sosok tubuh itu, yang sepertinya adalah seorang wanita.
"Aneh. Entah kenapa, sepertinya tubuh itu tidak asing," pikirku.
Ketika "Asurian kedua" berjalan melewati pintu kamar, aku memerhatikan tubuh itu lebih seksama. Begitu sadar siapa orang yang ditentengnya, tubuhku langsung lemas.
"I...ibu!"
- bersambung -
Halo, guys!
🔥Gak sabar nunggu update Mantra Sakti satu per satu?
Sekarang kamu bisa langsung baca 7 bagian sekaligus dalam satu bundle! 📖✨
Bisa diakses di Karyakarsa dan Lynk ID !
⚡ Gak perlu nunggu update berikutnya
📚 Langsung lanjutin ceritanya
🔥 Gak penasaran setelah bagian terakhir!
Cek dan baca sekarang di link ini yaaa 👇
Karyakarsa : https://t.co/dYSoteDKZt
Lynk ID : https://t.co/JXpn21qbg2
"I...ibu!"
Seandainya tidak dikepung oleh dua Asurian seperti ini, mungkin aku sudah berteriak histeris. Untung saja aku bisa mengendalikan diri, sehingga hanya menjerit di dalam hati.
Wanita yang sudah tak berdaya itu adalah ibuku, yang beberapa jam lalu dengan bodohnya aku "maki-maki".
Melihatnya dalam kondisi seperti itu, duniaku seakan mau runtuh. Aku tidak tahu apakah ibu hanya pingsan, atau yang terburuk, sudah tewas.
"Huyen!" teriak Ayah memanggil nama ibu.
Sama sepertiku, ternyata Ayah juga menyaksikan nasib malang ibu dari atas sana. Wajahnya terlihat bingung, panik, marah, sedih—bercampur jadi satu dengan air mata yang membasahi pipi.
Hatinya begitu hancur, karena tidak berhasil melindungi wanita yang dicintainya selama 20 tahun.
Karena begitu terguncang, Ayah menjadi tidak fokus dengan situasi sekitar. Mata dan pikirannya hanya tertuju kepada ibu.
Sadar bahwa lawannya lengah, Asurian itu langsung memanfaatkannya.
Brak!!
Ia mengayunkan lengannya, dan menghantam Ayah dengan tenaga besar, membuatnya terkapar tanpa perlawanan.
"Ayah!!"
Aku kembali menjerit dalam hati. Nafasku menjadi sesak karena berusaha menahan diri untuk tidak berteriak. Aku mencoba untuk membangunkannya semampuku.
Mulai dari melempar benda ringan ke tubuhnya, hingga memanggil namanya dengan suara pelan. Namun, tidak ada reaksi. Sepertinya Ayah tidak sadarkan diri. Tubuhnya terlihat masih bernafas, meski tidak bergerak sama sekali.
Asurian itu menggoyangkan tubuh Ayah untuk memastikan lawannya itu sudah tak berdaya. Setelah yakin, ia langsung membopong Ayah ke pundaknya. Sempat menoleh sebentar ke temannya, si Asurian meninju dinding rumah.
Brakkkkk!
Tinjunya yang sangat kuat menciptakan lubang besar, yang membuat lantai tiga dengan luar rumah tidak ada batasnya lagi. Lubang itu juga menjadi jalan keluar bagi kedua Asurian.
Dengan menggenggam erat tubuh Ayah dan Ibu, mereka langsung melompat keluar.
Karena punya tubuh yang begitu perkasa, melompat dari lantai tiga bukan masalah bagi mereka. Tidak membuat cedera atau patah tulang. Setelah mendarat di jalan raya, kedua Asurian langsung berlari ke arah kota.
Aku hanya bisa terpana menyaksikan pemandangan itu. Sekujur tubuhku gemetar karena dihinggapi rasa takut. Namun,sebisa mungkin aku harus menenangkan diri.
Karena nyawa ayah dan ibuku jadi taruhan sekarang!
- bersambung -
Kalo di Jepang atau negara maju di Asia Timur, seorang pejabat sangat menjaga ucapannya.
Sedikit saja pakai kata-kata dan diksi yang kasar, kariernya bisa langsung terancam.
Di Indonesia, pejabat seperti Rocky Gerung bebas bicara dan melakukan apa saja, tanpa adanya kontrol yg kuat dari masyarakat.
Mengapa "check and balance" di negara kita sangat lemah sekali ya 😔😔
Ternyata Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid bin Hamidi adalah keturunan Jawa tulen.
Dalam wawancara dengan tvOne, Zahid (yg saat itu menteri pertahanan) bercerita bahwa ayahnya berasal dari Kulon Progo, sedangkan ibunya dari Ponorogo.
Ayahnya diketahui bermigrasi tahun 1932, ketika Malaya masih di bawah kekuasaan Inggris.
Pada kesempatan yg sama, Zahid juga menunjukkan kemampuan bahasa Jawa yang ia pelajari dari kedua orangtuanya 👍
"Aku tak mau bertemu kalian lagi!"
"Pergi sana!"
Beberapa saat setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, suasana berubah menjadi hening.
Sayup-sayup, terdengar suara isak tangis Ibu dari balik pintu, sementara ayah berusaha menenangkannya.
“Ibu, jangan menangis. Maafkan aku karena sudah berkata kasar”
“Aku tidak benar-benar membenci kalian”
“Hanya saja, aku sedang marah saat ini”
“Tolong jangan terlalu dipikirkan perkataanku”
“Aku benar-benar minta maaf”
Di lubuk hati terdalam, ingin rasanya berkata seperti itu, dan memeluk orangtuaku.
Namun, ego dan rasa gengsiku lebih tinggi dari itu. Aku pun memilih pura-pura tidak peduli dan bersiap memasang wajah garang, seandainya mereka ingin membuka pintu kamarku dengan kunci cadangan.
Mungkinkah ini yang disebut “penyakit” anak manja? Setiap permintaan selalu dituruti.
Ketika hal buruk terjadi, bisanya cuma marah-marah dan menyalahkan orangtua.
Setelah beberapa lama, ternyata Ayah dan Ibu menyerah, dan memilih untuk menunggu hingga aku tenang kembali.
Setelah suara mereka tak terdengar lagi, aku lanjut berleha-leha di dalam kamar. Mulai dari menonton anime di smartphone, hingga membaca komik sambil rebahan.
Beraktivitas terus menerus di dalam kamar rupanya cukup melelahkan. Aku pun jadi mengantuk, dan akhirnya tertidur pulas.
Hujan yang turun di luar disertai hawa dingin semakin membuatku lelap. Tanpa sadar, aku telah terpejam selama tiga jam. Waktu memang cepat berlalu saat kita tidur.
Tiba-tiba….
“Hoa, buka pintunya cepat!”
Suara Ayah, yang menggedor pintu kamar sambil berteriak, sontak membangunkanku. Gedoran itu sangat keras dan bertubi-tubi.
Akibatnya, pintu kamarku terus bergoyang seolah-olah mau roboh. Sementara itu, teriakan Ayah semakin lama kian kencang.
“Hoa, ayo cepat keluar!”
“Hoa!”
“Hoa!!”
Aku, yang masih setengah mengantuk, heran dengan sikap keras Ayah itu.
Benar-benar tidak biasa. Ayahku adalah sosok yang tenang dan ramah. Emosinya tidak pernah meledak-ledak, apalagi sampai merusak barang dan memukuli pintu.
Namun disisi lain, aku bisa merasakan adanya kepanikan di dalam setiap teriakannya.
Tapi kenapa? Aku kan cuma "ngambek" biasa. Kalau emosiku sudah reda, aku pasti keluar kamar, dan hubungan kami akan kembali seperti semula.
Brakkkkkk!!
Ketika aku masih bertanya-tanya, tiba-tiba terdengar dentuman keras dari balik pintu, diikuti oleh suara Ayah yang menjerit kesakitan.
Saat itulah baru aku sadar, bahwa kondisi di luar sana sangat mencekam....
- bersambung -
#fiksi #novel #cerita