No, selamat ulang tahun. Ulang tahun selalu merupakan momentum untuk berhenti sejenak, menoleh sejenak pada masa lalu, kemudian melangkah lagi dengan harapan baru. Sekali lagi selamat...
#yesterday
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Pada 1983, Soeharto memulai operasi pembasmian premanisme di seluruh Indonesia yang disebut Petrus.
Pada 1983 juga, Deng Xiaoping juga memulai operasi pembasmian premanisme di seluruh China yang disebut Strike Hard Campaign.
Apa bedanya?
Sederhananya, Soeharto tidak berniat membasmi preman.
Soeharto malah melestarikan dan melembagakan premanisme. Ia ingin menjadi bos preman se-Indonesia, seperti Don Corleone dalam film mafia "The Godfather".
Dengan kata lain, Soeharto sendiri adalah preman. Petrus hanyalah konflik antar preman, yaitu gerombolan mafia Soeharto vs gerombolan-gerombolan kecil anarkis dan tak teratur.
Berkat Petrus, Soeharto, istri, dan anak-anaknya pun berhasil menjadi the Lord of Crime. Barangsiapa tidak mau tunduk dan setor pada hierarki mafia preman se-Indonesia yang diketuai dinasti Soeharto, ia akan dibantai di jalanan.
Berapa yang mati? Sekitar ribuan. Hmm. Cuma segitu?
Berapa yang ditangkap? Sebenarnya tidak banyak-banyak amat. Hmm.
Ternyata, yang penting para preman tidak boleh ribut dan harus patuh pada Soeharto. Boleh memalak, boleh merampok, boleh memungli selama diawasi oleh rezim Orde Baru yang sangat memprioritaskan harmoni ala Jawa. Dan tentunya, selama setoran pungli dibayar.
Karena tujuannya hanya ini doang, yang dibunuh dan ditangkap selama Petrus tidak usah terlalu banyak. Yang penting para preman menjadi takut dan patuh dengan rezim.
Sistem ini masih berlangsung hingga hari ini. Premanisme masih merajalela di Indonesia.
Ayo kita bandingkan dengan pemberantasan preman di China di bawah rezim Deng Xiaoping.
Mirip seperti di Indonesia, saat itu China sangat penuh sesak dengan kriminalitas, pencurian, pembunuhan, pemalakan, dan pemerkosaan oleh preman dan bandit di jalanan, sebagaimana dapat dilihat di film-film kungfu zaman dahulu.
Kota-kota besar China dikuasai triad, mafia, preman, bandit, dan rampok yang melimpah gila-gilaan dan saling tawuran. Mereka sangat merajalela sejak kekosongan kekuasaan daerah akibat anarki Teror Revolusi Kebudayaan.
Bagaimana Strike Hard Campaign menghadapi masalah ini?
Deng Xiaoping menurunkan tentara dan polisi untuk membantai massal preman, kriminal, mafia, triad, begal, dan gerombolan rampok yang meresahkan kota-kota di China. Markas-markas mafia dikepung tentara, diserang, dan seluruh isinya dibantai.
Puluhan ribu preman dan rampok diciduk aparat bersenjata dari gang dan kos-kos kumuh China, diseret ke jalan, dan ditembak mati bergelimpangan di tempat. Eksekusinya tidak sok misterius, melainkan diumumkan, terbuka, terang-terangan, dan ditonton penduduk setempat.
Petrus tidak pernah diumumkan. Tiba-tiba saja mayat sudah bergelimpangan di jalanan, entah siapa mereka. Strike Hard Policy diumumkan, dikaji, dan dievaluasi.
Itu saja? Ternyata tidak. Pembeda terbesar Strike Hard Campaign dengan Petrus bukan di jumlah kematian, melainkan jumlah penangkapan.
Ternyata, 1.7 juta orang preman dan bandit berhasil diburu dan ditangkap aparat China pada 3 tahun pertama operasi.
Inilah perbedaan terbesar antara Strike Hard Campaign dan Petrus: penangkapan.
Kalau anti-premanisme Indonesia disetarakan dengan China dalam rasio populasi, seharusnya Indonesia saat itu minimum menangkap 200.000 orang preman dan bandit.
Sayangnya, Soeharto bukan menangkap, melainkan hanya meneror dan melembagakan.
Kalau preman bisa dikaryakan untuk mencari setoran pungli, kenapa harus ditangkap? Kalau ormas bandit bisa disewa untuk memukuli aktivis dan melindungi aset-aset keluarga Cendana, kenapa harus ditangkap?
Meanwhile, rezim Deng Xiaoping mendata, menangkap, dan menumpas sekitar 200.000 kelompok ormas rampok dan gerombolan kriminal yang berbeda dari kota-kota. Padahal jika ditotal, jumlah anggota mereka mencapai jutaan. Tapi tetap ditumpas.
Tidak seperti Soeharto, Deng Xiaoping tidak ingin menjadi the Lord of Crime di China. Yang ia inginkan adalah menumpas, memusnahkan, membersihkan total. Ia tidak mau hanya membunuh segelintir kecil, tetapi harus langsung membasmi seluruh jutaan populasi preman dan bandit di seluruh China sampai kosong.
Petrus selesai begitu saja tahun 1985 dengan tidak jelas. Preman di Indonesia tetap merampok dengan buas, tetapi kali ini dengan teratur dan dengan setoran pungli.
Preman-preman yang sudah dijinakkan ini bahkan direkrut dan menjadi bagian inti dari rezim di Indonesia, seperti dalam Peristiwa Kudatuli 1996 dan Kerusuhan Mei 1998. Pada Mei 1998, Asia Week mengabarkan bahwa beberapa jenderal membawa ratusan preman dengan pesawat dan kereta dari Timor Timur dan ke Jakarta. Indonesia masih menjadi Negara Preman sampai hari ini.
Meanwhile, Strike Hard Campaign ternyata tidak selesai tahun 1985, tetapi terus berlanjut secara rutin selama 20 tahun kemudian sampai premanisme liar di jalanan China benar-benar habis dan kosong.
Hari ini kota-kota besar China teratur, sangat aman, dan relatif bersih dari binatang ormas dan preman jalanan liar yang useless dan tak terkontrol seperti tumbuhan hama Indonesia.
Di Indonesia, sejak kejatuhan keluarga Cendana dan fragmentasi struktur premanisme nasional, banyak binatang ormas preman itu yang berpindah majikan ke dinasti politik daerah dan berbagai institusi. Di China, potensi ini tidak ada karena pentolan-pentolan semacam ini sudah dibasmi selama program antikorupsi yang dimulai sejak 2011.
Dalam program antikorupsi itu, 4 juta orang pejabat ditangkap. Lebih banyak pejabat yang ditangkap daripada preman. Pentolan-pentolan pejabat yang paling korup dan bodoh dihukum mati dan ditembak di kepala. Benefit program anti korupsi ini banyak, salah satunya adalah bahwa preman yang tersisa takkan punya calon majikan korup untuk melindungi.
Tidak heran reformasi industrialisasi pabrik China sangat berhasil dan sangat maju. Ketika kita bikin pabrik di Shenzen, kita takkan didatangi 40 kelompok preman buas rampok yang berbeda. Cukup hubungi 12345, maka para binatang preman belagu dan berliur akan segera dicari dan ditumpas habis.
Hari ini pertumbuhan industri dan pabrik di China sangat maju.
---
Deng Xiaoping membasmi preman. Soeharto adalah preman.
karena pemerintah itu punya kuasa dan sumberdaya, ga perlu dibelain. kl pemerintah benar, ga usah dipuji. diam aja. emang harusnya begitu. kl ia salah ramai2 wajib mengeritiknya, mengecamnya, dan memberi sangsi. begitulah negara harus diurus.