Rachel Vennya’s bilang :
selalu siapin ruang kecewa untuk siapapun, bcs people change easily. Manusia yang biasanya kamu ceritakan seluruh kisahmu itu bisa jadi manusia yang kamu gak mau kenal lagi untuk selamanya karena “people change easily”
AGREEEEE !!!!!
Pak, satu pertanyaan buat malam ini:
Dari semua yang terjadi di rumah,
berapa persen yang INISIATIFNYA dari kamu?
Yang kamu kerjakan bukan karena diminta.
Bukan karena ada di list istri.
Tapi karena kamu tau itu tugas kamu dan kamu inget sendiri.
Kalau jawabannya kurang dari 30%,
Itu bukan karena bapak malas.
Itu karena Pak belum pernah PUNYA tugas.
bapak baru pernah BANTU.
Istri lanjut bilang malam itu.
"Tau gak yang paling capek dari ini semua?"
"Bukan nyuci piring. Bukan masak. Bukan beresin rumah."
"Yang paling capek: INGET bahwa semua itu harus dilakukan."
"Aku yang harus inget kalau susu hampir habis."
"Aku yang harus inget kalau besok ada rapat wali murid."
"Aku yang harus inget kalau tagihan listrik belum dibayar."
"Mas cuma inget kalau aku yang ingetin."
"Dan itu, Mas, jauh lebih melelahkan daripada nyuci piringnya."
aku bilang ke istri, santai sambil tiduran di sofa.
"aku kan udah bantu cuci piring"
dia melongo, tapi matanya ngomong sesuatu
malamnya, dia duduk di depanku
"mas boleh tanya satu hal?"
"boleh"
"Bantu siapa?"
dua kata, dan aku ga bisa jawab
@atokdalangs4 Gapapa kak, kamu berhal atas itu semua. Dan kamu ngga pelit ya, sama sekali engga. Kalo mau kasih, kasih aja. Kalo engga ya gapapa. Itu hakmu dan itu pilihanmu. Jangan ngerasa sungkan yaa, batasan yang kamu terapkan udah bagus. Tinggal tutup mata dan telinga aja.
Nikita Willy: "Sejauh mana batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya?"
Bu Rani: "Saya kalau mau ke rumah anak saya, saya WA mantu saya dulu."
Mungkin dia lagi capek. Mungkin kulkasnya kosong. Mungkin dia lagi ingin sendiri.
"Anak kita siap menerima kita kapan saja. Tapi menantu kita belum tentu."
Setuju ya bu ibu 🤔
Bu Rani bilang banyak orang tua sebenarnya tidak membenci menantunya.
Mereka hanya tidak siap menerima satu kenyataan:
"Anak kita sudah ada yang punya."
Karena sejak menikah, anak yang selama ini hanya menjadi bagian dari keluarga kita, kini juga menjadi bagian dari keluarga orang lain.
Dan tidak semua orang tua siap dengan perubahan itu.
Menurut Bu Rani, banyak konflik mertua dan menantu bukan karena ada yang jahat.
Tapi karena ekspektasi.
Mertua berharap menantunya punya pandangan hidup, kebiasaan, bahkan nilai yang sama dengan keluarganya.
Padahal menantu dibesarkan oleh orang tua yang berbeda.
"Kalau kita sebagai orang tua sudah memberikan restu kepada anak kita untuk menikah, biarkan mereka menjalani hidup dengan nilai-nilainya sendiri." — Bu Rani
Menurutnya, nilai yang diajarkan orang tua kepada anak belum tentu cocok untuk pasangan hidup anaknya. Karena itu, orang tua perlu siap menerima bahwa anaknya mungkin akan memiliki cara hidup yang berbeda setelah menikah.
cc:threadhallolalalah
@sbyfess Ngamuk nderrr, lancang banget temenmu😭😭🙏🏻 Jangan diem aja. Suruh temenmu tanggung jawab. Niat dia baik, tapi kalo ada buntut di belakangnya ya harus tetep tanggungjawab.
@vtridxvn kadang kita capek cari validasi ke manusia, sampai lupa kalau ada satu pintu yang nggak pernah dikunci. 5 kali sehari kita dipanggil bukan buat ditambah bebannya, tapi buat dilepaskan lelahnya. what a peaceful home to return to🤍
Pernah ketemu sama tulisan yg hangat banget:
"Kenapa kita butuh sholat 5 kali sehari?
Karena tak ada satu pun di dunia ini yang rela bertemu denganmu lima kali sehari, dalam keadaan senang, sedih, susah, patah hati atau kuat, kecuali Allah."
Such a beautiful reminder...🥹🤍
@tanyakanrl Skip nder. 10 tahun nyetir aku cuma berani bawa kendaraanku sendiri. Disuruh nyetirin pake kendaraan orang aku gamau sama sekali. Mending cari aman aja. Soalnya kalo ada apa2 juga pasti tanggungjawab.
@tanyarlfes Run nder. Itu dia lagi insecure jadi berusaha buat nurunin standar kamu. Nanti 10 tahun ke depan, kamu beresiko jadi "mengecil" secara psikis.