I don't know man, call me a pessimist, tapi udah berapa banyak cara dan acara upgrade diri? Tapi kita ttp susah cari kerja. Zaman orangtua kita rasanya gk sesusah ini. Kapan kita mengakui kalau ini masalah de-industrialisasi
Kalo dilihat-lihat, jabatan yg sering dibagiin ke simpatisan itu komisaris ya. Tau gak kenapa komisaris ini jadi jabatan yg suka dibagiin dengan gampangnya?
Ya, karena jabatan komisaris itu :
> Kerjanya cuma ngawasin & ngasih masukan ke direksi
> gak megang operasional
> gak nentuin keputusan harian
Dan kenapa pada mau dikasih jabatan ini?
> Gajinya gede
> Gak butuh kompetensi teknis spesifik
> modal "dipercaya" aja udah cukup
> Gak ada KPI yg jelas buat dievaluasi publik
> minim risiko keliatan "gagal"
> Bisa diisi tanpa proses seleksi terbuka & gak butuh izin teknis
Beda sama direksi, itu pegang operasional langsung, kalo perusahaan ambruk ketauan siapa yg salah. Makanya posisi ini jarang dipake buat "bagi-bagi kursi".
Saya coba cek jabatannya di website kampus UNY..
Ternyata beliau ga hanya wakil rektor..
Tetapi juga Guru Besar...
Dikukuhkan sejak Juli 2024..
Serta mantan Dekan FEB UNY..
Prof. Dr. Siswanto
Wakil Rektor UNY.
S1 Ilmu Pendidikan, UNY
S2 Ilmu Pendidikan, UNY
S3 Ilmu Pendidikan, UNY
Guru Besar bidang Pendidikan Akuntansi, sejak 2024.
sesekali keluar kandang pak...
biar tau asam garam diluar UNY.
🥰🙏
Belom pernah liat ada orang mainland protes soal baju traditionalnya di modif hijab friendly malah disediain langsung buat yg berhijab (ini foto warlok ya).
Kimono kan awal mulanya dari tiongkok era 3 negara terus modelnya ngikut era dinasti han🙃pencetusnya aja kaga protest.
Oki Rengga dalam postingan terbarunya di Threads:
"Barusan liat Video pak Prabowo ngomong, hanya di Indonesia Polisi ngurus pertanian, Tentaranya sering ada di Sawah, Angkatan Laut tanam kedelai, Angkatan udara tanam tebu, ya memang cuma di Indonesia pak, karena di negara lain, tugas mereka semua bukan bercocok tanam pak, mereka kan bukan petani, terus kalau mereka yang ngurus? petani ngurus apa? masak petani harus jadi pelukis pasir."
Semakin lu berusaha menyembunyikan, menyensor, atau melarang suatu informasi, orang-orang malah bakal makin brutal buat nyari tahu.
Kamera wartawan boleh aja mati, tapi penguasa nggak bisa menghentikan kebocoran informasi dari rekaman suara HP yang disembunyiin di kantong peserta.
Semakin informasi itu dilarang, bocorannya bakal makin liar dan digoreng habis-habisan oleh netizen tanpa bisa dikontrol lagi narasi aslinya oleh pemerintah.
masih inget gue bapak Suderajat yang jualan es gabus, tiba-tiba disamperin 4-5 orang aparat mau beli es gabusnya lalu dibejek-bejek, dilempar ke mukanya, ditendang, ditonjok pake cincin gede, dijejelin es gabusnya “biar kamu aja yang modar ya”, disuruh minum air comberan, dipaksa ngaku itu es gabus dari busa, sampe trauma gak jualan lagi takut dikeroyok, beliau dhuafa, punya 5 anak cuman 2 yang sekolah, pedih hati gue. terus ngeliat penangkapan Taufik Hidayat, masih mulus, aparatnya haha hihi sambil selfie bareng, sedangkan korban ngomong aja kesulitan. oalah ternyata “sudah kenal” gatau sih gue ni orang bakal bisa “diapa-apain” oleh napi lain apa nggak yaa, bisa aja ditempatkan dalam sel khusus, tolong banget dikawal dan dikulitin yang terkait juga
Kebetulan sekarang kami jadi satu industri. Aku dan Ginka.
Ku jelaskan secara awam tugas KOMISARIS di industri ini.
Garis besarnya;
Dia mengawasi direksi,
membaca risiko,
mengkritisi proyek,
menjaga governance,
dan memastikan perusahaan tidak dibajak kepentingan non-teknis.
Nah kalau orang yang dipilih berdasarkan loyalitas doang bukan kompetensi. Udah jelas arahnya. Supaya tugas diatas GA ADA YANG REM. Direksi bisa jalan tanpa koreksi tajam, proyek bisa lolos tanpa pertanyaan keras, procurement bisa minim kontrol, dan keputusan strategis bisa lebih mudah ditarik ke kepentingan politik.
Jabatan dia murni stempel doang, untuk kepentingan orang-orang di atas.
Dan orang-orangnya kayak Ginka ini menjamur di BUMN kita.
Soooo....Good luck WNI 😂😂😂
Bahlil soal Pertamax yang naik 32%:
"Pakai mobil Mercy, nongkrong di mal, minta BBM-nya disubsidi. Malu dikitlah."
Surya, ojol Semarang, juga pakai Pertamax.
Bukan karena gaya-gayaan. Motor injeksinya berkerak kalau diisi Pertalite, dia sudah coba 2 bulan. Sekarang kerja 7 jam sehari buat nutup selisih harga.
Agung, ojol Medan, mau pindah ke Pertalite tapi was-was sama mesin.
Nasi di warung langganannya naik dari Rp10.000 ke Rp12.000. Dia juga nambah jam.
Dua-duanya bukan pemilik Mercy, Pak Menteri.
Kalimat "malu dikitlah" itu terdengar gagah dari podium INDEF. Terasa berbeda dari balik stir motor ojol jam 7 pagi.
Mercedesnya di mana?