Seperti mati adalah pasangan--bukan lawan--dari hidup. Begitupun disayang-dibenci, dipercaya-dicurigai, dibela-difitnah, dipuja-dihina, disanjung-direndahkan. Dalam pelajaran bahasa mereka adalah lawan kata. Tapi dalam kenyataan hidup, mereka berpasangan.
How much truth can a spirit tolerate, how much truth is it willing to risk?
Every achievement, every step forward in knowledge comes from courage
From severity towards yourself, from cleanliness with respect to yourself
TAC 3
#Nietzsche
It is not the sign of a healthy soul to find beauty in superficial things -- the adulation of the crowd, fancy cars, enormous estates, glittering awards.
#StillnessIsTheKey
Aku pernah melewati kalimat ini. Aku tau akan berhenti setelah tanda baca ini. Aku bisa melanjutkan setelah koma, tapi aku memilih untuk diam sejenak...
Untuk kemudian sadar bahwa di ujung akhir kata nanti aku akan kembali.
Lalu siapsiap kembawa bait ini melengkapi stanza 2.
"...meski ada penghasut, aku tetap menyesalkan yang terhasut. Maklum mentalitas jalan pintas."
Hasutan adalah jahat, tapi kepicikan dan kebodohanlah yang mengizinkan berlangsungnya kejahatan tersebut...
"Show me someone who isn’t a slave! One is a slave to lust, another to greed, another to power, and all are slaves to fear...
No servitude is more abject than the self-imposed."
- Seneca
Kenapa kok "ada"? Kenapa tidak "tidak ada" saja?
Pertanyaan yang mengusik tapi bukan hadir sebagai pengusik, karena nyatanya aku tak terusik.
Anasir di setiap celah yang tak henti-hentinya diam-diam hadir mengiringi.
Terima kasih untuk "ada" nya. Tanpa "pernah" atau "sudah".
“Everything is deterministic. But just because it’s deterministic doesn’t mean it’s predictable.
For three reasons:
1. Wave function of quantum mechanics;
2. Chaos;
3. Can’t predict the future growth of knowledge.”