Ada satu yang menarik perhatian gue di demo hari ini: mahasiswa UI yang satu ini.
Begitu dikasih mic, pembawaannya langsung kayak reporter lapangan beneran. Ngomongnya runtut, kalimatnya rapi, hampir nggak ada filler.
Salut broo 🙌🏻
Jauh dilubuk hati ibu ini pasti sangat terpukul, demi konten kehormatan orang lain diremukan dimuka umum.
Bu, bermunajatlah disepertiga malam, adukan semua ini pada Alloh, biar Alloh saja yg membalasnya, karena ibu tak akan mampu menghadapi para pendukung fanatiknya 🙏
Harusnya home industri spt ini yg kudu disupport oleh pemerintah. Entah hanya sebatas hobi atau bisa dikembangkan untuk komersial
Jd inget susi air, hanya untuk kirim ikan saja pakai pesawat lebib efisien drpd jalur darat 😁
Saya aja pusing bacanya. 😅
Kalo menurut sy mesin K15B ini kalo buat nanjak juga oke oke aja kok, buktinya udah sering sy posting XL7, Ertiga, Baleno HB bahkan Ignis juga Karimun Estilo kuat nanjak sikarim dieng.
Kalau soal kenyamanan jelas lah ya...hahahaha
Sekali lagi nanjak itu 'skills issue' kemaren aja ada cumi darat gagal nanjak kan di sikarim 👀
- adigank adigung adidas
- jer basuki mawa bergkamp
- urip mung numpang mendem
- tut wuri wajib nyeni
- slaman slumun solomon
- ing madya mangun kalcer
- urip iku europe
- wong liyo ngerti oppo
- leres niki sirr (yessir)
Ngomongin hal besar emang yg di pucuk2 pimpinan pake meritrokasi? Orang pejabat2nya aja ga diisi secara profesional dan kompetensi belum lagi komisaris yang baru2 ini.
Dan orang idealis itu biasanya di tendang kalo di konoha, yang terakhir belum lagi gaji pokoknya tidak mensejahterakan (di bawah umr).
Dan ternyata Fathimah ini kelas KKI atau kelas internasional.
Langka sekali: perempuan, FK UI kelas KKI, Wakil Ketua BEM UI, berdebatnya ngalahin Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi.
Guys, di tengah semua berita tentang pemimpin yang korup, program yang gagal, dan pejabat yang tidak kompeten ada satu kisah lama yang menurut gue paling relevan dan paling menginspirasi untuk dibaca hari ini.
Ignasius Jonan harus menertibkan lebih dari 20.000 Kepala Keluarga untuk membangun double track kereta lintas utara Cirebon-Surabaya-Pasar Turi sepanjang 500 kilometer.
Di Indonesia proyek sebesar ini biasanya identik dengan satu hal: keributan panjang, ganti rugi yang tidak adil, warga yang melawan, dan proyek yang molor bertahun-tahun.
Jonan menyelesaikannya tanpa satu pun keributan berarti.
Dan ini cara yang dia lakukan yang tidak terpikirkan oleh siapapun sebelumnya:
Kompensasi sesuai aturan sudah pasti diberikan.
Itu standar. Itu kewajiban.
Tapi Jonan menambahkan satu hal yang tidak ada dalam aturan manapun:
"Setiap orang yang terdampak boleh mengusulkan satu anggota keluarganya untuk menjadi pegawai KAI."
Satu kalimat.
Tapi dampaknya luar biasa.
Bapak yang tanahnya tergusur bisa daftarkan anaknya kerja di KAI.
Ibu yang rumahnya dibongkar bisa daftarkan suaminya.
Kakak yang bangunannya ditertibkan
bisa daftarkan adiknya.
Asalkan masih satu Kartu Keluarga bebas.
Dan ini yang paling mengagumkan syaratnya sangat manusiawi:
Jonan tidak membuat syarat yang mempersulit.
Ijazah minimal SLTA.
Usia maksimal 40 tahun. Tes kesehatan. Selesai.
Dan kalau anggota keluarga pertama tidak lulus tes kesehatan boleh ganti dengan anggota keluarga lain dari KK yang sama sampai ada yang lulus.
Tidak ada birokrasi yang rumit.
Tidak ada uang pelicin.
Tidak ada koneksi yang diperlukan.
Dan ketika ada yang bilang ke Jonan bahwa dulu daftar kerja di KAI harus nyuap jawabannya langsung dan keras:
"Kalau ada yang nyuap laporkan ke saya."
20.000 lebih KK pindah.
Tanpa keributan.
Tanpa demo.
Tanpa protes panjang yang menghambat proyek.
Bahkan bukan hanya mau pindah mereka pindah dengan perasaan diuntungkan.
Karena sekarang ada anggota keluarga mereka yang punya pekerjaan tetap, penghasilan stabil, dan masa depan yang lebih jelas dari sebelumnya.
"Saya bilang:
saya tidak mengusir Anda.
Anda pergi tapi akhirnya keluarga Anda jadi pegawai di kami."
Dan ini konteks yang lebih besar yang perlu diingat:
Jonan mengambil alih KAI ketika perusahaan itu sedang merugi Rp83 miliar di tahun 2009.
Bobrok dari dalam.
Budaya suap merajalela.
Pelayanan buruk.
Aset tidak terurus.
Cara dia membangun double track ini mencerminkan cara dia memimpin secara keseluruhan:
fokus pada solusi nyata bukan prosedur kosong, hormati rakyat kecil sebagai manusia bukan sebagai hambatan proyek, dan bersihkan sistem dari dalam tanpa kompromi.
Hasilnya KAI berubah dari perusahaan yang merugi menjadi perusahaan yang sehat dan menguntungkan.
Jonan membuktikan satu hal yang menurut gue paling langka di Indonesia:
pemimpin yang cerdas tidak perlu memilih antara kepentingan proyek dan kepentingan rakyat.
Dengan sedikit kreativitas dan banyak empati keduanya bisa berjalan bersamaan.
20.000 KK ditertibkan.
500 kilometer jalur dibangun.
Dan ribuan keluarga yang terdampak justru mendapat pekerjaan yang tidak mereka bayangkan sebelumnya.
Bukan sulap.
Bukan keajaiban.
Hanya kepemimpinan yang benar-benar memikirkan manusianya bukan hanya angka proyeknya.
Dan yang paling menyedihkan: kisah seperti ini seharusnya jadi standar bukan pengecualian yang kita kagumi karena begitu jarang terjadi.
Jadi teringat teman SMA saya yg meninggal di usia 27 tahun.
Saat dia tersesat kita mengingatkan dan teman-teman nya pada galak ke kita dan ke keluarga nya.
Pas dia sakit keluarganya yg kerepotan dan kita giliran menjenguk saat libur kerja.
Saat meninggal keluarganya yg bersedih dan kita teman sekolah pun ikut sedih.
Teman-teman nya yg dulu ngejauhin dia sama keluarga, teman dan Tuhan nya pada kemana?
Ya tetep lanjut party bahkan gak ada satupun yg nulis ucapan belasungkawa di story sosmed nya.
Ya mereka mana peduli kalo lu udah meninggal.
Harusnya temen-temen ASN ikut marah melihat kelakuan orang-orang ini. Stereotip publik tentang ASN males dan gak kompeten itu datang dari orang-orang seperti mereka-mereka ini. Masalahnya, mereka ini yang dampak kerjanya langsung dirasakan dan dilihat oleh masyarakat, sementara banyak teman-teman di belakang layar yang beneran kompeten dan kerja ketutupan sama orang-orang ini.
Tau ga kenapa honorer2 bisa maksa gitu?
Bisa maksa agar mereka diangkat jadi CPNS dari jalur peralihan status?
Ini perspektif gw pribadi.
Selain honorer2 itu punya jejaringnya di dalam.
Honorer2 itu pada berorganisir, sering datang ke DPR, dan bahkan demo kencang2.
Mereka udah ngelakuin ini sejak lama dan puncaknya terjadi di era Jokowi.
Terus menjelang pemilu, mereka sering jualan massa.
Yang akhirnya bikin orang2 DPR, mikir mikir untuk ga nerima tuntutan mereka.
Sayang sekali, tuntutan mereka ini bisa mengancam meritokrasi ASN lewat CAT.