Sebuah momen yang gak akan terlupakan sebagai supporter LFC.
Udah pasarah bakal gagal juara. Namun Miracle itu datang. Yaa kita tau 3-3
Lalu Pinalty dan kami juara ❤️🔥🔥🔥
Andoni Iraola datang membawa ideologi organized chaos, sebuah gagasan gila yang awalnya dicurigai di Inggris sebagai tindakan bunuh diri. Sebuah filosofi yg dia pelajari dr pria eksentrik bernama Marcelo Bielsa.
Metode yg pada mulanya tak berjalan baik itu, pada akhirnya berhasil membawa klub kecil dari Dorset, Bournemouth, melalui 18 kali pertandingan tanpa terkalahkan dan mencatat sejarah besar yakni untuk pertama kali lolos ke panggung Eropa.
Musim depan Iraola akan datang ke Liverpool, tempat di mana identitas heavy metal football sempat mendingin karena sistem yg terlalu metodis.
Dengan kekacauannya, Iraola siap menyalakan lagi bara api di Liverpool. Sebab ia tahu bahwa di dalam sepak bola, kekacauan adalah alat terbaik utk menciptakan mukjizat.
Tulisan agak panjang saya tentang Andoni Iraola:
https://t.co/oFe0pr0DFN
Guru madrasah swasta berdemonstrasi agar diangkat menjadi ASN PPPK, kemudian dicemooh karena yang menggaji guru swasta adalah yayasan, bukan kewajiban negara. Tapi negara bisa mengangkat pegawai SPPG dibawah naungan Yayasan swasta menjadi ASN PPPK.
Persoalannya, anggaran yang digunakan untuk mengangkat pegawai SPPG dibawah Yayasan/ Swasta menjadi PPPK adalah anggaran pendidikan, yang seharusnya bisa digunakan untuk mengangkat guru madrasah swasta menjadi ASN PPPK.
Ademola Lookman, rekrutan baru Atletico yg tepat, dan ternyata dia cerdas secara akademik.
Skor GCSEs-nya, ujian akhir sekolah, menurut gurunya 3A dan 5A, meski dia pernah merendah tidak setinggi itu.
Lahir dan besar di Inggris, tapi memilih timnas Nigeria. Bisa punya nilai akademik setinggi itu istimewa untuk pemain bola.
Selain dia, ada Bukayo Saka yg nilainya 4A dan 3A. Tapi mereka masih kalah oleh Frank Lampard dg 12 GSCEs, alias semuanya A.
Dahsyat sih, hebat di lapangan, cerdas juga di akademik. Bukan hal yg mudah.
Iran merilis lagi video bergaya Lego, dijamin bikin AS Israel meriang lagi
Narasinya memakai surah Al-Fiil
Udah ketebak kan siapa yg dijadiin pasukan Gajahnya.
Keren.
Untuk bisa mendapatkan beasiswa LPDP, hanya mereka yang bisa menulis esai dengan sangat baik yang lolos. Untuk bisa menulis esai dengan sangat baik, biasanya seseorang harus melalui pendidikan yang baik.
Pendidikan yang baik di Indonesia masih sangat timpang secara geografis dan ekonomi.
Artinya, mereka yang berasal dari Jawa dan dari latar belakang ekonomi lebih kuat memang memiliki keuntungan awal.
Jalur afirmasi tidak bisa sepenuhnya menghapusnya, karena masalah utamanya ada pada kualitas guru dan ekosistem pendidikan di daerah. Selama hulu tidak dibenahi, hilir tetap bias.
Akibatnya, banyak penerima LPDP memang berasal dari kalangan mampu. Dari situ muncul rasa ketidakadilan publik.
Dalam konteks seperti ini, narasi moralistik dari regulator menjadi problematis. Negara bukan orangtua. Negara adalah pengelola investasi publik.
Kepastian pulang sebagai indikator kesuksesan juga tidak lagi relevan dalam dunia yang makin global.
Ironisnya, kepastian pulang adalah indikator yang paling mudah diukur.
Cukup cocokkan data imigrasi dan kontrak.
Yang sulit justru mengukur dampak jangka panjang.
Pengaruh kebijakan.
Kontribusi ilmiah.
Dampak sosial.
Dampak ekonomi.
LPDP harus mendefinisikan dengan jelas.
Apa yang disebut berhasil.
Apa yang disebut gagal.
Tanpa definisi ini, debat akan selalu jatuh pada moralitas dan sentimen.
Anda tidak bisa menyerahkan masa depan bangsa pada esai fresh graduate 20 tahunan.
Regulator memikul tanggung jawab yang sama. Menjelaskan kepada publik bagaimana investasi ini bekerja dan bagaimana dampaknya diukur.
Beasiswa adalah investasi publik.
Bukan sedekah.
“Anda tak bisa Menakuti Kami dengan Kelaparan, Karena kami dari Ramadhan. Anda tak bisa Menakuti Kami dengan Kematian, Karena Kami dari Muharram”.
Kalimat Imam Khomaeni yang tetap akan melekat pada hati Para Pejuang Iran
Menurut Al Ghazaly ada 3 penanya yang tidak perlu dijawab;
1. Penanya yang memiliki karakter iri dengki
2. Penanya yang tolol ngototan
3. Penanya yang masih belajar tetapi bertanya pada bidang yang belum waktunya memahami.
Umatan Wahidah itu gak tepat. Krn jelas Allah tidak menghendaki. Dalilnya numpuk dlm Al-Qur'an. Yg bener adalah al-ulfah baina al-ummah.
Makanya, dlm konteks penetapan awal Ramadhan, yg paling bijak demi menjaga persaudaraan antar umat adalah ikut pemerintah.
Perjalanan
Karena hidup bukan hanya soal sekian lama berjalan, tapi tentang hidup yang bermakna.
Banyak orang menua tanpa pernah benar-benar tumbuh. Mereka menghitung tahun, tapi lupa menghitung nilai dari setiap detik yang dijalani. Umur bertambah, tapi jiwa kadang tetap kanak-kanak — terperangkap dalam keinginan duniawi yang tak pernah kenyang. Padahal, yang membuat hidup berharga bukan lamanya napas, melainkan kedalaman makna di setiap tarikan napas itu.
Hidup sejati bukan maraton untuk mencapai garis akhir tercepat. Hidup ini bukan kontestasi. Ia adalah perjalanan menuju kedewasaan hati — tentang bagaimana kita belajar memaafkan, menahan amarah, mencintai tanpa syarat, dan menebar kebaikan meski tak selalu dibalas. Setiap luka, kehilangan, dan ujian bukan sekadar penghalang, melainkan ayat-ayat kehidupan yang menuntun kita mengenal diri dan mengenal Tuhan.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
(QS 67:2)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan hidup bukan sekadar bertahan, tapi berbuat baik sebaik-baiknya. Paling baik amalnya. Bukan paling banyak amalnya. Sebab yang banyak, belum tentu baik. Kualitas, bukan cuma kuantitas amal.
Maka ukuran keberhasilan bukan cuma panjang umur, tapi seberapa banyak manfaat yang lahir darinya. Bukan berapa langkah yang kita tempuh, tapi berapa jiwa yang kita sentuh lewat kebaikan kita.
Wahai diri ini yang terkadang lupa dan khilaf…tetaplah menjadi orang baik, meski dunia sedang tidak baik-baik saja.
Kelak pada ujung perjalanan ini semoga kita akan paham bahwa tak ada kebaikan yang sia-sia.
Terima kasih wahai diri…sudah bertahan dalam ujian dan pujian; sudah menyerap makna dalam manis dan getirnya asa.
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan sekecil zarrah (atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS 99:7)
Tabik,
Nadirsyah Hosen
“Kami Tetap Bersama Sayidina Husain”
Malam itu, lentera menyala redup di perkemahan kami. Angin Karbala membawa bisikan maut. Sayyidina Husain berdiri, memadamkan lampu, dan berkata, ““Barang siapa yang ingin pergi, malam ini aku bebaskan. Esok, hanya maut yang menanti.”
Tapi tak satu pun dari kami melangkah mundur. Kami tahu ini bukan pertempuran untuk menang. Ini adalah kesaksian: bahwa di hadapan tirani, kehormatan lebih mahal dari nyawa.
Sayyidina Husain tidak memberontak untuk kekuasaan. Ia menolak membaiat Yazid ibn Muawiyah karena penolakannya pada sistem pewarisan kekuasaan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ia berkata:
“Aku keluar semata-mata untuk menegakkan perbaikan di tengah umat kakekku (Nabi Muhammad).”
Pagi 10 Muḥarram itu, satu demi satu syahid. Ali al-Akbar—putra kesayangannya—pergi ke medan tempur dengan wajah yang mengingatkan kami pada kakeknya, Rasulullah. Lalu satu per satu, keponakannya, para pemuda dari Bani Hasyim, dan sahabat-sahabat setia—semua syahid dalam kehormatan
Satu momen yang tak akan pernah kulupa: al-Husain berdiri mengangkat bayi kecilnya, ʿAbdullah, memohon setetes air. Musuh tak menjawab dengan belas kasih, tapi dengan anak panah. Bayi itu wafat di pelukannya. Dan aku melihat, untuk sesaat, langit seperti berhenti bernafas.
Kami tinggal segelintir. Dikepung ribuan. Tapi tidak satu pun dari kami mengeluh. Karena di hadapan kami ada lelaki agung, cucu Nabi, yang tak sedikit pun mundur.
Dan saat akhirnya beliau jatuh tersungkur di atas padang debu, tubuhnya penuh luka, kepala suci itu dipenggal oleh tangan yang gelap, langit seperti pecah oleh ratap para malaikat.
Kami, para sahabatnya, telah gugur. Tapi kami ingin kalian tahu: kebenaran itu bukan tentang jumlah, tapi keberanian. Dan darah yang tumpah di Karbala akan terus hidup—di hati yang tak rela membiarkan agama dijual demi tahta.
Jangan biarkan sejarah ini hanya dibaca. Hiduplah dengannya. Karena setiap zaman punya Yazid-nya. Dan setiap hati ditanya: kau bersama siapa?
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عَلَى خُطَى الْحُسَيْنِ، نَصْدُقُ إِذَا كَذَبَ النَّاسُ، وَنَثْبُتُ إِذَا رَجَفَ الزَّمَانُ.
“Ya Allah, tetapkan kami di jalan Ḥusain: jujur saat dunia berdusta, teguh saat zaman gemetar.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Ruben Neves: "Bug, di mana pun kamu berada, aku tahu kamu akan membaca ini, kita tidak pernah selebay ini dan aku mungkin akan menyesalinya sedikit, tetapi kamu tau apa arti dirimu bagiku, seperti aku tau siapa aku bagimu. Lebih dari sekadar persahabatan, kita adalah keluarga, dan kita tidak akan menyudahinya hanya karena sekarang kamu memutuskan untuk menandatangani kontrak di tempat yang sedikit lebih jauh dari kita! Dulu saat di Timnas kamu selalu berada di sampingku, di meja makan, di bus, di pesawat, kamu akan selalu ada bersamaku. Kita terus tertawa, membuat rencana, berbagi kehidupan kita satu sama lain. Aku akan memastikan kamu tetap hadir di hidupku dan aku akan memastikan bahwa orang-orang yang kamu cintai tidak akan pernah kekurangan apa pun saat kamu di sana, kamu yang sudah jauh di sana tetapi tetap memikirkan kita, menunggu kita. Hidup telah mempertemukan kita dan sekarang tidak dapat memisahkan kita. Kita telah mencapai beberapa hal hebat bersama, kita masih harus banyak berjuang, aku tahu kita bisa. Mulai hari ini, kamu akan memasuki lapangan bersamaku dan kita akan mengikuti jalan ini bersama-sama, di panggung tempat kita bertemu. Diogoal, kamu adalah lemonade kesukaanku!! Amo-te 🤍"
"Saat Mahallul Qiyam, utarakan tiga permintaan, sambil memejamkan mata, sembari berkata dalam hati:
1. Ya Rasulullah, aku ingin berjumpa denganmu
2. Ya Rasulullah, akuilah aku sebagai umatmu
3. Ya Rasulullah, berilah aku syafaatmu"
- KH. As'ad Syamsul Arifin
Kisah yang membuat hati tersesak menjelang musim haji.
Ada suatu kisah yang dinukil dari kitab ulama salaf tentang seorang ulama terkenal yang rela membatalkan hajinya saat masih dipertengahan jalan karena melihat sesuatu yang tidak terduga.
Mac Allister: "Saya tidak akan pernah lupa darimana saya berasal. Dari keluarga yang mengajarkan saya tentang nilai kerja keras, dari mimpi yang lahir dari seorang berdarah Irlandia dan hati Argentina."
"Dan hari ini, di Liverpool, tertulis bab yang tak akan terlupakan. Ketika saya bergabung dengan klub ini, saya tahu itu adalah tempat yang istimewa. Dan apa yang terjadi tahun ini telah melebihi apa pun yang pernah saya bayangkan."
"Setiap sesi latihan, setiap pertandingan, setiap kali saya melangkah ke lapangan di Anfield, saya merasakan beban jersey ini dan semangat dari para pendukung."
"Butuh kerja keras, komitmen, dan memberikan segalanya di setiap momen. Karena mengenakan jersey ini bukan untuk sembarang orang. Dan saya telah memimpikannya sejak saya masih kecil. Hari ini, memenangkan Premier League bersama Liverpool adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Mimpi yang dimulai bertahun-tahun lalu, dan hari ini menjadi kenyataan."
"Terima kasih kepada keluarga saya, yang selalu ada. Terima kasih kepada klub, karena telah mempercayai saya. Terima kasih kepada sepak bola, karena telah memberi saya begitu banyak hal. Dan terima kasih kepada kalian semua, karena telah membuatnya abadi."
"Ini Liverpool. Inilah makna menjadi juara."