BIG BREAKIGN NEWS
investor asing mendesak msci menjelaskan kenapa peringatannya begitu keras untuk indonesia
msci bilang masalahnya bukan di indeks, tapi di pasar saham itu sendiri
kata msci rapat online hari selasa, diadakan ubs, diikuti lebih dari 100 orang, kebanyakan investor asing
managing director msci bilang perlu pembenahan untuk menyingkirkan pihak nakal
aturan baru saja tidak cukup, harus ada bukti penegakan aturan
msci bilang penilaiannya memakai kerangka objektif dan masukan dari pelaku pasar
pernyataan 15 okt: masih ada kekhawatiran soal dugaan perdagangan yang diatur bersama dan belum ada bukti penegakan yang berarti
msci tidak bilang berapa kasus atau berapa bulan perbaikan yang cukup
yang dikhawatirkan msci
kepemilikan saham tidak jelas, saham menumpuk di segelintir pemilik
dugaan permainan harga dan jual beli yang diatur
saham yang beredar di publik sebenarnya lebih sedikit dari yang dilaporkan
banyak perusahaan tercatat milik grup keluarga besar di tambang, rokok, petrokimia, dan lainnya
Kemenkomdigi
pas liat game:
Wah industri besar, kita harus terlibat, indonesia jgn cm jadi pasar
Pas bikin IGRS:
fgd fgd fgd, harus melindungi generasi emas
Pas beneran ngerating:
Hah ini game bnyk baget, harus dicek satu2. Oh horor, dewasa!
Oh gambarnya unyu, buat bocah ni!
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.