dibilang antek-antek asing saya diam,
dibilang ndasmu saya diam,
dibilang warga desa tidak pakai dolar saya diam,
dibilang “tidak bermimpi kaya raya?”
SAYA AKAN LAWAN!!!
Karna gabisa tidur alhasil terwujudlah ide2 yang sudah lama dipikirkan namun cenderung pesimis untuk dilaksanakan. Yaudah coba dulu aja, wish me luck❤️🔥
knapa ortu klo menyuruhh kita utk mmbeli rumah tu gmpang bget spertii aku bs beli bsk siang
"km udh umur sgitu,udh pny anak,udh pny pnghasilan nabung skrg biar sbelum umur 35 pnya rumah"
woww klo bhan dasar membuat rumah adlah batagor dan lem nasi ak usahakan
Dulu pas hamil TM 1 kangen masakan rumahan tapi kalo masak sendiri jadinya ga kemakan, beli di warung naspad tp rasanya gaada yang cocok di lidah. Sampe akhirnya nemuin solusi buat catering sama kakak sendiri dan cocok di lidah. Ternyata aku kangennya masakan mama ehe🤙
Suatu hari, Umar bin Khattab melihat Jabir ibn Abdullah pulang dari pasar dengan membawa sesuatu di tangannya.
Umar bertanya, “Apa yang engkau bawa itu, wahai Jabir?”
Jabir menjawab, “Ini sepotong daging. Aku membelinya karena aku ingin memakannya.”
Umar menatapnya, lalu berkata pelan namun menggetarkan, “Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, engkau langsung membelinya?”
Dialog itu sekilas mungkin terasa berlebihan. Apa salahnya makan enak? Apa salahnya membeli sesuatu yang kita inginkan? Jika kita yang ditegur, barangkali kita akan tersinggung dan berkata, “Kenapa ikut campur urusan orang lain? Suka-suka aku dong, mau makan apa saja, kan ini uangku."
Namun Jabir bukanlah orang yang hatinya sempit. Ia tidak marah. Ia justru diam, merenung, mencoba memahami maksud teguran itu. Umar tidak sedang melarang daging, dan tidak pula mengharamkan kenikmatan dunia. Ia hanya sedang mengajarkan prinsip besar: tidak semua keinginan harus dipenuhi. Manusia harus mampu mengelola hasratnya, bukan diperbudak olehnya. Sebab ketika keinginan selalu dituruti, perlahan ia berubah menjadi penguasa yang mengendalikan hidup.
Di sinilah letak pelajaran yang relevan sepanjang zaman, termasuk saat ini. Betapa banyak orang bukan hancur karena kekurangan, melainkan karena tidak pernah belajar menahan keinginan. Gaji dua digit bahkan tiga digit pun ternyata tak cukup, karena gaya hidupnya terus mengikuti keinginan yang mahal.
Atas nama gengsi, nafsu yang dibiarkan tumbuh liar akan mengikis ketahanan jiwa, melemahkan disiplin, dan menumpulkan empati. Orang yang terbiasa berkata “iya” pada semua keinginannya akan kesulitan berkata “tidak” saat hidup menuntut pengorbanan.
Puasa hadir sebagai latihan nyata untuk menaklukkan diri. Kita lapar, kita haus, sementara makanan dan minuman tersedia di depan mata, bahkan kini cukup satu sentuhan layar untuk memesannya.
Uang mungkin ada, kesempatan terbuka, tapi kita memilih menahan diri. Bukan karena tidak mampu membeli, bukan tak punya uang, tapi karena sedang belajar menguasai diri.
Puasa mendidik kita untuk menyadari bahwa kebebasan sejati bukanlah melakukan semua yang kita mau, akan tetapi ketika kita mampu menahan apa yang kita mau.
Teguran singkat Umar kepada Jabir menjadi pelajaran panjang bagi siapa pun yang mau berpikir: kendalikan keinginanmu sebelum keinginan itu mengendalikanmu.
Menurut psikologi, anak yang tumbuh di lingkungan dengan orang tua yang mudah marah sering belajar hidup dalam mode “siaga”. Mereka terbiasa membaca situasi, menebak-nebak suasana hati, dan berusaha tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Bukan karena mereka perfeksionis sejak lahir, tapi karena dulu kesalahan kecil saja bisa berujung pada kemarahan besar.
Akibatnya, saat sudah dewasa pun pola itu sering masih terbawa. Mereka jadi orang yang sangat berhati-hati, mudah merasa bersalah, dan sering overthinking sebelum bertindak. Bahkan ketika tidak ada lagi yang memarahi, tubuh dan pikirannya masih menyimpan memori lama: takut mengecewakan, takut disalahkan, takut dianggap tidak cukup baik.
Dari sinilah aku meminta kawan2.
Tolong jangan normalisasi bercandaan cabul dan mesum di tongkrongan.
Mungkin mohan menganggap tindakan dia selama ini bukan pelecehan karena dia “terbiasa”
Ketika kamu kena masalah, percayalah ama temenmu yg nganjing2 in kau pertama kali.