Ada sepupuku, laki-laki. Menikah di usia 21 tahun. Demi menghidupi keluarga, dia rela mengerjakan apa saja. Pernah jadi kuli, narik ojek, sampai kerja serabutan di Bogor. Sementara itu, salah satu om di keluarga punya toko bangunan besar dan hidup berkecukupan.
Setiap ada kumpul keluarga atau arisan, sepupuku hampir selalu jadi bahan perbandingan. Dia sering dianggap sebagai cucu yang paling gagal. Pertanyaan dan komentar yang diterimanya juga nggak enak didengar.
"Kerja kamu kok gitu-gitu aja?"
"Anakmu sekolah di tempat gratis aja, biar nggak nambah beban."
"Nikah muda, kasihan nanti istrimu."
Semua itu diucapkan di depan banyak orang. Tapi dia nggak pernah membalas. Dia cuma diam, menunduk, lalu lanjut bantu angkat galon atau beres-beres seolah nggak terjadi apa-apa.
Yang nggak banyak orang tahu, setiap pulang dari acara keluarga dia memilih jalan kaki beberapa kilometer karena ongkos angkotnya lebih baik dipakai beli susu buat anaknya. Cerita itu bahkan baru aku tahu bertahun-tahun kemudian.
Suatu hari ayahnya harus operasi dan butuh biaya sekitar Rp1,2 juta. Dia sempat mencoba meminjam uang ke omnya, tapi ditolak dengan alasan kondisi usaha juga sedang pas-pasan. Malam itu juga dia menjual satu-satunya motor yang dimiliki dengan harga jauh di bawah pasaran karena butuh uang secepatnya. Sejak saat itu dia bertekad untuk berhenti bergantung pada siapa pun.
Dia nggak marah, nggak ribut di grup keluarga, juga nggak bikin status menyindir. Dia memilih fokus memperbaiki hidupnya. Bermodal laptop bekas hasil utang ke teman dan belajar dari video di internet, dia mulai mendalami desain grafis dari kamar kontrakan yang sederhana.
Awalnya nggak mudah. Puluhan pelaku UMKM menolak hasil desainnya. Ada yang bilang hasilnya masih jelek. Dia tetap belajar sambil hidup sangat sederhana. Makan seadanya, tidur beberapa jam saja, yang penting tetap bisa berkembang.
Sampai akhirnya ada satu warung kecil yang mau mencoba jasanya. Dari proyek kecil itu, dia terus belajar pemasaran dan membangun portofolio. Klien mulai bertambah sedikit demi sedikit karena rekomendasi dari mulut ke mulut.
Beberapa tahun kemudian, sebuah kontraktor besar tertarik dengan hasil kerjanya dan memberikan proyek branding bernilai puluhan juta rupiah.
Dari sana usahanya berkembang pesat hingga mampu membuka percetakan sendiri dan mempekerjakan belasan karyawan. Bahkan kini, usahanya menjadi salah satu pemasok kebutuhan percetakan untuk banyak toko bangunan di daerahnya, termasuk toko milik om yang dulu sering meremehkannya.
Yang paling membuatku kagum terjadi saat omnya sedang mengadakan hajatan dan kekurangan dana beberapa hari sebelum acara. Sepupuku datang tanpa membawa rasa dendam. Dia membantu kebutuhan percetakan acara, membawa beberapa karyawannya, bahkan menggratiskan semua sebagai hadiah pernikahan untuk anak omnya.
Dia nggak pernah mengungkit semua perlakuan yang dulu pernah diterimanya. Menurutnya, balasan terbaik bukanlah membuat orang yang pernah meremehkan kita merasakan penderitaan yang sama, melainkan membuktikan bahwa kita bisa berhasil tanpa kehilangan sikap baik kepada orang lain.
Tiba tiba ada yang nikah
Tiba tiba ada yang meninggal dunia
Tiba tiba semua akan berubah
“Kita tidak pernah tahu, apa yang Allah kehendaki di depan sana. Yang terpenting detik ini jadikan dirimu hamba yang makin taat pada-Nya”