Siapa yang tau bahwa cewek lincah petantang petenteng gamau diem, gak betah di rumah ini ternyata kena plantar fasciitis. Reasonnya simple : sering nyetir! 😂
Liat foto kakek pas lagi beresin lemari. Perpaduan bule + cino + sunda 🤣
Gak ada yang nyampe ke gw mukanya wkwk. Cuma nyampe watna rambut yg agak pirang 🤣
Hari ini, 24 Mei, 28 Tahun Lalu.
Tim Badminton Indonesia baru saja menyelesaikan salah satu perjalanan paling berat dalam kiprah mereka di ajang Thomas-Uber Cup. Indonesia sukses memenangkan Thomas Cup untuk ke-11 kalinya dalam sejarah.
Candra Wijaya dan Sigit Budiarto dikerubungi pemain-pemain Indonesia lainnya. Candra/Sigit baru saja memenangkan partai keempat sekaligus membuat Indonesia unggul 3-1 atas Malaysia. Angka ketiga berarti Indonesia sudah mengunci gelar juara.
Rasa gembira dan haru jadi satu. Ketegangan, kesulitan, hingga harapan yang menyelimuti para pemain dalam sepekan penyelenggaraan Thomas Cup berakhir dengan kebahagiaan.
Ketika itu, Tim Indonesia berjuang di Hong Kong di saat Indonesia melalui banyak hal, mulai dari kerusuhan massal hingga pergantian rezim.
Dalam momen keberangkatan, pemain-pemain tidak merasa bakal ada kejadian besar . Nilai tukar dollar AS terhadap rupiah memang terus meninggi dan ada sejumlah demonstrasi, tetapi pemain tidak menduga bahwa akan terjadi kondisi yang tidak pernah terbayangkan di Indonesia saat mereka pergi berjuang membawa nama Indonesia ke Hong Kong.
Thomas-Uber 1998 itu dimainkan pada 17-24 Mei. Namun Tim Indonesia berangkat jauh sebelum turnamen dimulai. Mereka juga masih dilepas secara resmi oleh Soeharto.
Saat itu, Soeharto pergi ke Mesir pada 9 Mei, berarti Tim Indonesia menjalani pelepasan keberangkatan sebelum tanggal itu.
Andaikan rencana Tim Indonesia berangkat di tanggal belasan, bisa jadi Tim Indonesia tidak bisa berangkat atau memutuskan tidak berangkat.
Ketika sedang menjalani latihan tahap akhir dan persiapan menuju pertarungan di lapangan, situasi di Indonesia memanas. Dalam gelombang demonstrasi menuntut Soeharto mundur yang terus membesar, terjadi peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti pada 12 Mei.
Peristiwa itu kemudian memicu demonstrasi yang lebih luas di hari berikutnya. Dalam perkembangan peristiwa yang terjadi berikutnya, situasi berubah jadi pembakaran dan penjarahan massal. Sentimen terhadap etnis Tionghoa pun menguat.
Tim Badminton Indonesia yang sedang mempersiapkan diri pun buyar konsentrasinya. Peristiwa di Jakarta dan sejumlah kota lainnya tersiar melalui siaran televisi di Hong Kong. Kejadian di Indonesia sudah jadi perhatian dunia internasional.
Tim Indonesia goyah. Ada ketakutan. Ada rasa ingin pulang dari para pemain melihat kejadian seperti itu. Mereka kepikiran anggota keluarga atau orang terdekat yang tinggal di Jakarta.
Rexy Mainaky saat itu berada di Hong Kong dengan sang istri tengah mengandung anak kedua tinggal di Jakarta. Hendrawan kepikiran calon istri yang tengah bekerja di Jakarta dan tidak bisa keluar dari tempat kos karena kerusuhan.
Begitu pun pemain-pemain lainnya dengan kekhawatiran yang serupa.
Christian Hadinata berusaha memompa semangat pemain. Namun ia mengakui bahwa dalam hatinya, ia juga kepikiran kondisi keluarga daripada pertandingan yang ada di depan mata.
Rapat lalu digelar dan Wakil Ketua PBSI Agus Wirahadikusumah mengambil langkah yang tepat dan cepat. Ia membuka saluran telepon 24 jam sehingga pemain bebas menghubungi keluarga di Indonesia. Setidaknya, pemain bisa mengecek dan berkomunikasi dengan keluarga kapan saja.
Tak hanya itu, Agus juga berusaha menjamin keamanan di kediaman keluarga dan orang terdekat dari masing-masing pemain serta staf yang ada di Tim Badminton Indonesia. Keputusan diambil, Indonesia tetap bertanding.
Selama bertanding, pemain-pemain juga harus menghadapi pertanyaan tentang kondisi di Indonesia. Di sisi lain, semangat untuk mengharumkan nama Indonesia makin kuat di benak para pemain.
Indonesia lolos ke final Thomas-Uber Cup. Indonesia jadi runner up di Uber Cup dan berhasil jadi juara di Thomas Cup.
Dengan ikat kepala merah-putih, para pemain maju mengangkat trofi Thomas Cup tanda kemenangan Indonesia.
Dan yang lebih mengharukan lagi, adalah saat Indonesia Raya berkumandang di luar Stadion Queen Elizabeth, dinyanyikan oleh suporter-suporter Indonesia yang hadir di sana.
Jaman sekarang kalo nitipin orang tua ke panti jompo sebagian besar pasti nganggep kalo anaknya durhaka, tapi mungkin 35 tahun lagi milenial & gen z daftar sendiri sambil nenteng fore 😂
CC:threadpaluvii
@kaelrix Pengusaha yg selama ini disubsidi platform banyak yg kaget ketika tahu klo biaya real dari bisnis itu ga sedikit.
Mana orang yg dulu memuja sistem dianggap online memotong rantai distribusi yg kepanjangan? Sistem online bisa murah karena disubsidi platform, paok.
Pas urus CPOTB dulu, kondisi pun sama2 lagi burn out tapi dulu tekanan dari bpom gak segila ini. Pas step 2 nya, gak ekspek akan begini. Tp siapa tau ternyata ini tantangan paling ringan dibanding tantangan2 di dpn 🤣