Demo di Bundaran HI ini unik, karena biasanya demo ke lembaga pemerintahan tertentu
Tapi bundaran HI itu sumber traffic: masyarakt dan sosial media
peluang media ngeliput naik
peluang sosmed divideoin orang juga naik
orang aware-> tujuan demo terpenuhi dengan cara baru
Untuk rumah tangga & individu
- Tampung air mulai sekarang.
Simpan air hujan (rainwater harvesting) kalau memungkinkan. Isi tangki, ember, atau sumur cadangan.
- Berlatih menghemat air mulai sekarang.
- Stok kebutuhan dasar makan dan minum 2–4 minggu. Jika mau habis, stok ulang
- Siapkan masker & obat pernapasan kalau asap karhutla datang.
Untuk petani & pekebun
- Sesuaikan jadwal tanam
maju atau mundur sesuai prakiraan BMKG daerahmu.
- Pilih varietas padi/ tanaman tahan kekeringan.
- Bangun/ perbaiki irigasi cadangan, sumur bor, atau embung kecil.
- Mulai bersihkan lahan & buat sekat bakar untuk cegah karhutla.
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
INDOMARET TUTUP MENDADAK: BUKAN LIBUR BIASA, INI BENTUK PERLAWANAN KARYAWAN
Kamis, 14 Mei 2026. Sejumlah warga Jakarta mendapati gerai Indomaret di dekat rumah mereka terpasang pengumuman biru: "Tutup Operasional Kamis 14 Mei 2026, Buka Kembali Jumat 15 Mei 2026."
Bagi yang tidak mengikuti perkembangan berita, ini terlihat seperti penutupan rutin.
Tapi di balik pengumuman itu ada cerita yang jauh lebih besar.
Masalah ini sudah mendidih sejak awal Mei 2026. Sejumlah karyawan Indomaret mengaku diminta menandatangani surat persetujuan terkait kebijakan baru sistem kompensasi lembur.
Jika sebelumnya lembur dibayar dalam bentuk uang, kini jam kerja tambahan tersebut akan diganti dengan waktu libur atau off day pengganti.
Kalian kerja di tanggal merah, kalian tidak dapat uang lembur.
Hanya dapat libur di hari biasa.
Bagi karyawan minimarket yang bergantung pada setiap rupiah pendapatan bulanan, ini bukan hal kecil.
Banyak karyawan mengaku diminta menandatangani berkas tersebut, dengan klaim bahwa tanda tangan itu dilakukan dalam kondisi tertekan. Pertanyaan pun muncul:
apakah tanda tangan seperti itu sah secara hukum ketenagakerjaan?
Gelombang protes tidak hanya terjadi di Jakarta. Di Makassar, ratusan karyawan PT Indomarco Prismatama dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan menggelar aksi unjuk rasa di kantor perusahaan di kawasan KIMA 10, Kecamatan Biringkanaya, pada Rabu 13 Mei 2026.
Mereka memprotes kebijakan yang dinilai menghilangkan hak lembur pada hari libur nasional, dan disebutkan sekitar 80 persen gerai di Kabupaten Maros berpotensi ikut tutup sebagai bentuk solidaritas.
Di Batam, situasinya juga memanas. Ratusan karyawan Indomaret menggelar aksi protes di depan kantor PT Indomarco Prismatama di Plaza Batamindo pada Senin, 11 Mei 2026. Para pekerja mempersoalkan wacana penghapusan upah lembur pada hari libur nasional, dan setelah dialog dengan manajemen, karyawan menyatakan bahwa rencana penghapusan lembur bertentangan dengan isi perjanjian kerja yang selama ini berlaku.
Pihak perusahaan belum memberikan tanggapan resmi saat dikonfirmasi wartawan.
Saat kantor manajemen di Plaza Batamindo didatangi, petugas keamanan melarang jurnalis mengambil gambar maupun video dengan alasan manajemen sedang menggelar rapat.
Tidak ada pernyataan publik resmi dari PT Indomarco Prismatama terkait polemik ini hingga berita ini ditulis.
Sebuah ironi besar:
perusahaan dengan lebih dari 24.000 gerai di seluruh Indonesia, tidak mampu mengeluarkan satu pun penjelasan terbuka kepada karyawan dan publik yang sudah heboh selama berhari-hari.
Berdasarkan pemberitahuan yang terpasang di gerai-gerai yang tutup, penutupan berlangsung hanya pada Kamis, 14 Mei 2026, dan toko dijadwalkan buka kembali pada Jumat, 15 Mei 2026. Namun ini bisa saja berubah tergantung bagaimana manajemen merespons tuntutan karyawan.
INI MELANGGAR HUKUM, BUKAN SEKADAR KEBIJAKAN INTERNAL
Yang perlu dipahami publik:
ini bukan sekadar persoalan kebijakan HR internal.
Berdasarkan ketentuan hukum ketenagakerjaan, jika perusahaan tidak membayar upah lembur pada hari besar nasional, mereka dapat dikenakan sanksi pidana kurungan paling singkat 1 bulan dan paling lama 12 bulan dan/atau denda paling sedikit Rp10.000.000 dan paling banyak Rp100.000.000 berdasarkan Pasal 187 UU Cipta Kerja.
Undang-undang sudah jelas. Mengganti uang lembur dengan libur tanpa persetujuan tulus dari pekerja adalah pelanggaran, bukan "kebijakan efisiensi". Dan memaksa karyawan menandatangani persetujuan dalam kondisi tertekan tidak membuat tindakan itu menjadi legal.
Indomaret adalah jaringan minimarket terbesar di Indonesia dengan puluhan ribu gerai.
Di balik kemudahan belanja 24 jam yang kita nikmati, ada ratusan ribu karyawan yang bekerja shift, termasuk di malam tahun baru, lebaran, dan hari raya nasional.
Kalau perusahaan sebesar ini bisa melakukan ini, bayangkan apa yang terjadi di tempat-tempat yang lebih kecil dan tidak viral.
Guys tolong bantu RT yaa
Temennya temenku an Nur ainia eka
rahmadhyna masih belum ada kabar, kemungkinan ada di gerbong wanita rangkaian KRL yg kecelakaan semalem. Keluarga masih menunggu di posko. Tolong kalau ada info let me know.
Mohon konfirmasinya jg @KAI121@CommuterLine