gak sengaja denger obrolan ibu ibu di angkutan umum, katanya semua harga harga pada naik jauh. ini pembicaraan normal sebenarnya, tpi analisa mereka yg menarik.
katanya ini efek MBG, masyarakat umum kena imbasnya karena semua lari kesana. mereka kenagian sisanya & harganya jadi naik, belum makanan yg banyak sisa.
katanya sehari habis 1T itu andai dialokasikan ke bpjs kesehatan biar gratis, atau buat gaji guru honorer. tukang cuci ompreng digaji 1,2jt sementara guru honorer cman 600rb. padahal sudah banyak yg bersuara di tiktok, tpi pda tutup telinga karena udah terlanjur.
di level akar rumput pun sudah mulai resah.
Guys, rupiah sekarang sudah di Rp17.300.
Dan ada tiga skenario yang perlu lo pahami tentang apa yang bisa terjadi kalau situasinya terus memburuk.
Ini bukan untuk bikin panik.
Ini untuk mempersiapkan diri.
Skenario 1:
Rupiah di Rp18.500 Pelemahan Terkendali
Ini skenario terburuk yang masih bisa dikelola pemerintah dengan intervensi serius.
Yang akan terjadi: inflasi naik ke 6-8% per tahun. Harga pangan impor seperti gandum, kedelai, bawang putih melonjak tajam karena hampir semua diimpor pakai dolar.
BI terpaksa naikkan suku bunga ke 6,5-7% untuk menarik modal asing kembali masuk.
Dampak ke bisnis:
perusahaan yang punya utang dolar atau biaya operasional dolar seperti maskapai penerbangan, telekomunikasi, farmasi, properti beban usahanya membengkak 15-20%. Risiko gagal bayar mulai nyata.
Dampak ke rakyat:
daya beli mulai tergerus.
Yang paling terpukul adalah kelas menengah bawah karena belanja kebutuhan pokok melonjak sementara gaji tidak ikut naik.
Cadangan devisa bisa terkuras di bawah 100 miliar dolar dalam hitungan bulan.
Kesimpulan skenario 1:
ekonomi masih bisa bertahan tapi berpotensi masuk resesi teknis dua sampai tiga kuartal. Angka kemiskinan bisa naik sekitar 3-4%.
Skenario 2:
Rupiah di Rp21.000 Krisis Nilai Tukar
Level ini masuk kategori krisis serius.
Sebanding dengan krisis 1998 meski fundamental Indonesia sekarang jauh lebih kuat dari saat itu.
Yang akan terjadi:
inflasi melonjak ke 10-15% masuk kategori hiperinflasi ringan.
BBM dan listrik terpaksa dinaikkan atau subsidi membengkak tidak terkendali.
BI rate bisa naik ke 9-13%.
Bunga KPR dan kredit konsumsi bisa tembus 15-18% kredit macet dimana-mana.
Dampak ke bisnis:
gelombang PHK massal.
Industri berbasis impor seperti tekstil, elektronik, farmasi mulai tutup atau relokasi ke luar negeri.
Sektor ekspor sedikit diuntungkan dari sisi nilai tukar tapi tetap tertekan karena biaya BBM dan bunga dalam negeri yang tinggi membuat profit tidak naik.
Dampak ke rakyat:
kelas menengah bergeser ke bawah sekitar 10-15%.
Angka kemiskinan naik 5-7%.
Risiko bank run penarikan dana besar-besaran dari perbankan sangat mungkin terjadi.
Pemerintah kemungkinan terpaksa keluarkan kebijakan darurat termasuk kontrol modal.
Kesimpulan skenario 2:
resesi sangat dalam mendekati depresi.
Pemerintah kemungkinan minta bantuan IMF atau World Bank.
Proyek infrastruktur semua berhenti. Pengangguran terbuka bisa tembus 20%.
Skenario 3:
Rupiah di Rp25.000 Krisis Sistemik Parah
Ini melampaui krisis moneter 1998.
Skenario paling ekstrem.
Yang akan terjadi:
hiperinflasi 25-40% atau lebih.
Harga kebutuhan pokok bisa berlipat ganda dalam hitungan bulan.
BI rate tembus 15-25%.
Bank-bank mulai collapse karena kredit macet meroket dan likuiditas mengering.
Dampak ke bisnis:
perusahaan besar default utang.
UMKM non-pangan bangkrut massal diperkirakan sekitar 30% UMKM terdampak parah.
Pemerintah terpaksa bail out BUMN dan beberapa bank.
Dampak ke rakyat:
kelas menengah ludes separuh.
Kemiskinan bisa naik 30-40% dibanding kondisi normal 2024-2025.
Cadangan devisa habis.
Indonesia terancam gagal bayar utang luar negeri.
Dampak politik: kegaduhan sosial dan politik.
Demo besar-besaran di mana-mana.
Kesimpulan skenario 3:
krisis multidimensi ekonomi, sosial, politik sekaligus. Pemulihan butuh lebih dari 5-7 tahun dengan bantuan asing besar-besaran.
Seberapa mungkin ini terjadi dan ini yang paling penting:
Untuk mencapai Rp18.500 saja dibutuhkan kombinasi beberapa faktor buruk sekaligus: konflik Iran-Israel yang meluas dan harga minyak menembus 135 dolar per barel, outflow modal asing yang masif dari Indonesia, Federal Reserve yang menaikkan suku bunga agresif ke 7%, dan fundamental domestik yang memburuk karena defisit APBN membengkak.
Saat ini skenario 1 belum terlihat jelas akan terjadi tapi arahnya ke sana karena banyak faktor di luar kendali pemerintah: perang di Timur Tengah, ketegangan di Selat Taiwan, harga BBM global, dan gangguan supply chain akibat Selat Hormuz.
Untuk skenario 2 dan 3 butuh kondisi yang jauh lebih ekstrem dan kombinasi masalah yang sangat berat.
Yang bisa lo lakukan sekarang tindakan konkret:
Pertama — kurangi utang berbasis dolar atau utang bunga variabel. Kalau suku bunga naik drastis, cicilan lo bisa meledak.
Kedua — diversifikasi aset. Sebagian tabungan dalam bentuk emas, dolar, atau aset yang tidak bergantung pada kekuatan rupiah bisa menjadi pelindung nilai.
Ketiga — perkuat ketahanan pangan keluarga. Stok kebutuhan pokok untuk beberapa bulan ke depan adalah langkah yang sangat rasional di kondisi ketidakpastian tinggi.
Keempat — kalau lo pengusaha dengan biaya berbasis dolar evaluasi sekarang apakah ada cara untuk mengurangi eksposur ke dolar atau melakukan hedging.
Kelima — jaga likuiditas. Cash adalah raja di kondisi krisis. Jangan lock semua aset lo di instrumen yang tidak bisa dicairkan cepat.
Rupiah di 17.300 bukan berarti kita sudah menuju skenario terburuk.
Tapi ini adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan bahwa kondisi sedang tidak normal.
Yang perlu dilakukan bukan panik tapi mempersiapkan diri secara konkret.
Karena kalau skenario 1 saja sudah cukup menyakitkan untuk kelas menengah bawah Indonesia, maka tidak ada alasan untuk tidak memulai persiapan mulai sekarang.
Semoga tetap di level yang bisa dikelola. Tapi lebih baik siap dan tidak perlu, daripada perlu tapi tidak siap.
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Semua laki-laki wajib menonton ini biar tau pengorbanan seorang perempuan tuh kaya apa pas lagi hamil.
Udah nonton?
Sekarang bilang makasih banyak-banyak ke ibu yang udah ngandung lo.
Udah nikah dan punya anak?
Sekarang bilang makasih juga sebanyak-banyaknya ke istri yang udah ngandung anak lo.
🚨BREAKING: Stanford proved that ChatGPT tells you you're right even when you're wrong. Even when you're hurting someone.
And it's making you a worse person because of it.
Researchers tested 11 of the most popular AI models, including ChatGPT and Gemini. They analyzed over 11,500 real advice-seeking conversations. The finding was universal. Every single model agreed with users 50% more than a human would.
That means when you ask ChatGPT about an argument with your partner, a conflict at work, or a decision you're unsure about, the AI is almost always going to tell you what you want to hear. Not what you need to hear.
It gets darker. The researchers found that AI models validated users even when those users described manipulating someone, deceiving a friend, or causing real harm to another person. The AI didn't push back. It didn't challenge them. It cheered them on.
Then they ran the experiment that changes everything. 1,604 people discussed real personal conflicts with AI. One group got a sycophantic AI. The other got a neutral one.
The sycophantic group became measurably less willing to apologize. Less willing to compromise. Less willing to see the other person's side. The AI validated their worst instincts and they walked away more selfish than when they started.
Here's the trap. Participants rated the sycophantic AI as higher quality. They trusted it more. They wanted to use it again. The AI that made them worse people felt like the better product.
This creates a cycle nobody is talking about. Users prefer AI that tells them they're right. Companies train AI to keep users happy. The AI gets better at flattering. Users get worse at self-reflection. And the loop tightens.
Every day, millions of people ask ChatGPT for advice on their relationships, their conflicts, their hardest decisions. And every day, it tells almost all of them the same thing.
You're right. They're wrong.
Even when the opposite is true.
Semua kemewahan ini tuh tau gak didapat darimana atau karena apa?
- buruh yang bayarannya MAKSIMAL UMR
- ART yg ambil underage dan orang tua tanpa kejelasan upah
- pekerja informal yang ngga dapet kejelasan UPAH dan WAKTU KERJA
- menormalisasi kerja atau harga komoditas HARUS MURAH
Harusnya dengan harga-harga yang kelewat murah ini kita bisa mengernyitkan dahi kalo ada yang salah sama semua ini dan dianggap kelaziman:
alih-alih ngedukung tiap diri ini punya banyak uang untuk mengakses "kemewahan", lebih baik kita menuntut pekerjaan yang dibayar layak dan tersedianya lapangan kerja banyak untuk semua usia
karena kenyataannya dengan semua harga yang ngga masuk akal dan kita punya sedikit uang, sekejap saja bisa menjadi bagian kelas renta. so, kalo dibandingkan dengan kehidupan di negara luar, mulai dari akses pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya, tentu lebih sejahtera dan aman di luar
PRT, supir, baby sitter di Indonesia harganya ‘terjangkau’ karena di bawah UMR, ya?
Padahal UMR = upah MINIMUM seseorang untuk bisa hidup (yang dianggap) layak.
Artinya kemewahan kelas menengah atas dibangun di atas ketidaklayakan yang diterima kelas bawah.
Rich people travel the world and came back with insights as shallow as
"oh, my country's underclass service workers are easier to exploit than the working class of developed countries, therefore i won't leave my country"
is so fucking sad and depressing.
#Gempa Mag:6.5, 06-Feb-2026 01:06:11WIB, Lok:8.98LS, 111.17BT (89 km Tenggara PACITAN-JATIM), Kedlmn:10 Km #BMKG
Disclaimer:Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data
Even journalists couldn’t hold back their tears.
CNN Indonesia reporter Irine Wardani broke down while covering the Sumatra disaster, which has claimed at least 1,030 lives. Reporting live from Aceh with cameraman Urip Handoyo. 📍 Aceh Tamiang, Indonesia 🇮🇩
Protecting Indonesia's forests isn't just about biodiversity;it's vital for disaster prevention.With over 1.2 million hectares of forest lost in Indonesia between 2000-2020 primarily due to agriculture, the link to exacerbated floods like those this November 2025 is undeniable.