ini datanya.
penerimaan pajak 2025: Rp1.917 triliun.
target: Rp2.189 triliun.
shortfall: Rp271,7 triliun. meleset 13%.
sementara beban bunga utang 2026:
Rp599 triliun. naik dari Rp150 triliun
di 2015. naik 4x dalam 10 tahun.
artinya: 1 dari 5 rupiah pendapatan
negara habis hanya untuk bayar bunga.
belum menyentuh utang pokoknya.
dan per Maret 2026, defisit APBN sudah
Rp240 triliun. 34,8% dari target tahunan.
baru bulan ketiga.
keseimbangan primer sudah negatif.
artinya: utang baru dipakai untuk
bayar bunga utang lama.
ini yang disebut debt spiral dalam
ekonomi makro. bukan krisis besok.
tapi arah yang tidak sustainable.
nah, di kondisi fiskal seperti ini,
BI mau ngapain?
kalau BI turunkan suku bunga agresif:
rupiah makin lemah, capital outflow
deras, investor asing cabut dari SBN,
biaya utang pemerintah naik lagi.
kalau BI naikkan suku bunga:
kredit makin mahal, konsumsi tertekan,
pertumbuhan ekonomi melambat.
BI tidak punya pilihan yang enak.
bukan karena BI lemah.
tapi karena ruang geraknya sudah
disempitkan oleh kondisi fiskal yang
tidak pernah benar-benar diperbaiki.
tax ratio Indonesia stagnan di 10% PDB.
Malaysia 13%. Thailand 16%.
gap itu bukan gap teknis.
itu gap political will yang sudah
berlangsung lebih dari satu dekade.
(Source: https://t.co/ZSlmSJ3gc8 Jan 2026; World Bank
IEP Okt 2025; Kontan Mei 2026;
Kemenkeu APBN 2026)
Keputusan pemerintah harus dihormati.
Namun dalam demokrasi, ia tidak luput dari komentar maupun kritikan.
Di satu percakapan dengan Nadiem, Ia pernah bilang bahwa dirinya bekerja untuk kepentingan generasi berikutnya. Ia masuk dengan sebuah blueprint dan impian: membangun ulang lingkungan bagi ratusan ribu siswa dan guru, membangun kembali pondasi dari mana sebuah bangsa belajar. A revolutionary in the making.
Saya mengenal keluarga Makarim selama puluhan tahun. Dalam semua waktu itu, di seluruh anggotanya, ketidakberesan tidak pernah menjadi sesuatu yang saya saksikan atau rasakan. Tidak sekali pun. Nadiem selalu menjadi, sejauh yang saya tahu, persis seperti apa yang ia katakan hari itu: seseorang yang bekerja untuk masa para penerus bangsa yang belum bisa bersuara.
Setahun tujuh bulan kemudian, kita ada di sini.
Kesalahan Nadiem mungkin adalah bahwa kenaifannya disalahpahami sebagai kurangnya rasa hormat terhadap memori institusional (kebiasaan sebuah lembaga dalam pola komunikasi, kerja, dan koordinasi yang telah mengakar puluhan tahun).
Kenaifan ini tidak unik. Ia niscaya akan menjangkiti siapapun dari luar yang diminta atau ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan pemerintah telah dan akan berdampak pada beberapa hal yang cukup struktural:
1. Proses penegakan hukum dan translasi ketidakpastian menjadi risiko. Bayangkan Anda hendak berinvestasi ke sebuah negara di mana hukumnya tidak jelas — di mana pendiri unicorn pertama Indonesia harus menghadapi 18 tahun atas dasar konstruksi hukum yang sulit dipertahankan oleh banyak ahli hukum. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah Nadiem salah atau tidak?" Tapi: "Apakah ini tempat di mana kita bisa membangun?"
Ketika hukum tidak memberikan kepastian, negara kehilangan kemampuannya untuk mengukur dan mengomunikasikan risiko kepada dunia luar. Ketidakpastian hukum adalah risiko yang tidak bisa dipricing — dan modal global tidak bersedia tinggal di tempat yang tidak bisa menjawab pertanyaan paling dasar: seberapa besar risikonya, dan siapa yang terlindungi ketika jawabannya tidak jelas?
2. Pengedepanan inovasi teknologi. Pelajaran yang paling mudah diserap dari sidang ini adalah: main aman. Jangan punya keyakinan. Jangan berinovasi. Pilih yang paling aman secara administratif, bukan yang terbaik. Ketika pilihan teknologi bisa dijadikan dakwaan, ketika gagasan baru bisa menjadi jebakan, tidak ada ruang lagi bagi ide untuk tumbuh, inovasi untuk dipeluk, atau perubahan untuk disambut. Yang tersisa hanyalah birokrasi yang memilih selamat atas segalanya. Bahwa konformis adalah postur yang paling aman di dalam sistem.
3. Masa depan talenta bangsa. Yang paling fatal: kasus ini menjadi jera bagi mereka yang seharusnya melanjutkan bangsa ini. Bahwa seseorang yang berpendidikan, yang berniat baik, yang berani mencoba membangun dari nol akan dimuntahkan mentah-mentah oleh negara yang berusaha ia tolong.
Platform ini dibangun untuk mendiskusikan ide, bukan peristiwa. Namun episode yang kita saksikan tidak lepas dari sesuatu yang katalitik, untuk kepentingan nation building ke depan.
Dan kualitas itu, keinginan untuk memperbaiki sistem yang mungkin belum berkenan, mendongkrak edukasi bangsa, adalah salah satu yang paling langka di sebuah birokrasi.
Menjadi tragedi tersendiri ketika upaya mengintelektualisasi bangsanya, menjadi batu rajam untuk dirinya sendiri.
No one is perfect.
May the great force be on the right side of history.
@BigAlphaID dan yang menarik: ini bukan cuma
karena faktor eksternal.
MSCI baru coret 19 saham Indonesia.
capital outflow estimasi Rp28-31 triliun.
kepercayaan investor global ke pasar
kita lagi dipertanyakan serius.
rupiah lemah itu gejala.
ini penyakitnya.
3. thread & konten ghostwriting.
nulis thread atau konten buat founder
dan profesional yang tidak punya waktu.
dibayar per post atau retainer bulanan.
ini yang paling scalable karena
lo bisa handle 3-5 klien sekaligus.
2. jasa AI buat UMKM.
caption produk, deskripsi marketplace,
konten sosmed — dikerjain pakai AI,
difinishing pakai judgment manusia.
klien pertama dari warm network,
bukan dari portfolio.
rate: Rp500.000-1.500.000 per project.
1. digital product.
template Notion, spreadsheet keuangan, preset, e-book niche spesifik. bikin sekali, dijual berkali-kali. gue mulai dari Rp0, jual lewat Gumroad. yang paling laku: template budgeting buat freelancer. harga Rp49.000. 50 pembeli pertama dari X organik.
"investasi terbaik buat orang umur 25 tahun itu bukan saham, tapi diri sendiri."
Ray Dalio, pendiri hedge fund terbesar di dunia (Bridgewater Associates), baru saja membedah konsep kekayaan dan masa depan ekonomi global bersama Nikhil Kamath. Dalio yang sudah "makan asam garam" di pasar sejak usia 12 tahun ini punya pesan yang sangat membumi buat generasi muda, terutama bagi kita yang hidup di era transisi ekonomi yang gila-gilaan seperti sekarang.
Kalo lo merasa investasi itu cuma soal angka di aplikasi trading, lo perlu paham Core Logic dari Dalio: kekayaan sejati itu datang dari kemampuan lo buat terus belajar dan beradaptasi. Dia bilang, jangan cuma ngejar return, tapi fokuslah cari "game" yang lo suka dan bergaullah dengan para profesional di game tersebut. Dari situlah insting dan peluang nyata bakal muncul.
Kalo lo ga sempat nonton obrolan mereka yang cukup teknis, ini poin-poin Deep Insights yang gue rangkum:
Pentingnya Decision Rules: Dalio belajar dari kesalahan masa lalunya. Setiap kali dia bikin keputusan investasi, dia selalu menuliskan kriterianya (decision rules) dan mengujinya ke masa lalu. Ini cara dia buat ngilangin emosi dan kurangnya perspektif saat pasar lagi bergejolak.
India adalah "The Next Big Thing": Berdasarkan indikator buatannya, Dalio memproyeksikan India bakal punya tingkat pertumbuhan terkuat dalam 10 tahun ke depan. Bahan bakunya lengkap: utang rendah, infrastruktur yang lagi dibangun masif, dan populasi berbakat. India sekarang kayak China 30 tahun lalu—siap buat take off.
Default Nixon 1971: Ini momen yang ngubah cara pandang Dalio soal uang. Saat Presiden Nixon menghentikan standar emas, uang kertas jadi cuma sekadar janji. Ini siklus yang selalu berulang dalam sejarah: saat klaim atas uang jauh lebih besar daripada uang yang ada di bank, sistem bakal diatur ulang.
Chips vs Application: Dalam perang teknologi, AS mungkin menang di inovasi chip tercanggih, tapi China lebih unggul dalam mengintegrasikan AI ke dalam kehidupan nyata dan aplikasi masyarakat. Persaingan ini bakal jadi penggerak utama ekonomi dunia ke depan.
Nasihat buat Pemula: Dalio saranin dua hal: temukan game yang lo cintai, dan kelilingi diri lo dengan orang-orang pro. Jangan asal naruh duit kalau lo belum ngerti mekanismenya.
Investasi $100 pertama lo jangan langsung buat beli aset berisiko kalau edukasi lo belum beres. Gunakan buat beli buku, ikut kursus, atau sekadar buat "biaya nongkrong" sama orang-orang yang lebih pinter dari lo.
Gue jadi mikir, di tengah prediksi Dalio soal ledakan ekonomi India, apakah kita di Indonesia sudah cukup siap buat ngambil porsi di "kue" ekonomi global selanjutnya, atau kita masih sibuk terjebak di game yang salah?
Kalo lo punya sisa uang sekarang, lo bakal naruh itu di portofolio saham atau buat investasi ke skill yang bakal relevan 10 tahun lagi?
(Source: Nikhil Kamath, Ray Dalio Breaks It Down, 2025)