Selamat bertemu Tuhan.
Andai kata tubuh regang sekujur waktu,
tetap saja jiwa tak kutemukan.
Sekian lama lara kupelihara,
bak lumut merubung batu,
seolah sia-sia tak terbuang.
Sekali lagi,
kekalahan terus kutabuh gembira. #fyp
Hari Hari di pasung sunyi
menjelma kekang membungkam tubuh,
dipaksa surut melangkah pulang
bersimpuh dirahim mula;
sebab tangis meluruh seisi jiwa.
di kedap yang kian pudar
tak berdaya merengkuh riuh,
maha tuhan diatas sabar
menjepit sempit; dipinta ruang
lapang bertandang.
Altar nadi; satu nama membungkam rupa-rupa.
Rahim sunyi yang enggan dirasuki asing.
Pintu pulang yang tunggal; tak bertukar arah, tak sudi berbagi ruang.
Emas murni; tak luntur dipoles kepalsuan.
Satu bendera yang memancang tegak di puncak nyawa.
Di ujung pinta yang tertuncup sunyi,
namamu kutuang, menjadi aksara penuh rona.
Kupelihara ia dalam rahasia yang paling hening,
agar tak terjamah jemari asing, selain ketetapan yang abadi.
And I sound like an infant
Feeling like the very last drops of the ink pen.
A greater woman stays cool,
But I howl like a wolf at the moon.
And I look unstable,
Gathered with a coven round a sorceress’ table.
I’m so afraid I sealed my fate,
No sign of me.