🇶🇦 Masih ingatkah kalian dengan momen ini? Momen emosional di Opening Ceremony FIFA World Cup Qatar 2022, ketika Surah Al-Hujurat ayat 13 menjadi pesan ikonik yang dibawakan Ghanim Al Muftah & Morgan FreeMan yang berhasil mengguncang mancanegara!
Sebelum bola pertama ditendang, dunia sudah menangis. Piala Dunia 2022 di Qatar membuka acaranya dengan lantunan ayat Al-Quran, disaksikan miliaran pasang mata dari hampir setiap negara. Pencarian tentang Islam melonjak di seluruh dunia. Orang-orang yang sebelumnya curiga mulai bertanya: "Apa sebenarnya yang ayat itu katakan?". Satu momen pembukaan, mengubah cara jutaan orang memandang Islam lebih dari ribuan ceramah yang pernah ada.
Ayat yang dibacakan adalah pesan
tentang persaudaraan manusia: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."- (QS. Al-Hujurat: 13). Bukan ayat tentang hukum. Bukan tentang larangan. Ayat tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah. Kulit yang berbeda, bahasa yang berbeda, negara yang berbeda, tidak membuat satu manusia lebih tinggi dari yang lain. Yang membedakan hanya satu: ketakwaan.
Selama bertahun-tahun, persepsi tentang Islam dibentuk oleh ketakutan dan narasi yang sepotong-sepotong. Tapi malam itu, jutaan orang yang belum pernah membaca Al-Quran mendengar suaranya untuk pertama kali. dalam konteks kedamaian dan harapan. Bukan dalam konteks ketakutan. Tapi dalam konteks persaudaraan. Banyak yang kemudian mencari tahu, "Apa itu Islam yang sebenarnya?". Satu ayat, di waktu dan tempat yang
tepat, bisa membuka pintu hati yang
sudah lama tertutup.
Rasulullah bersabda: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." - (HR. Bukhari). Qatar tidak berceramah kepada dunia. Mereka hanya menunjukkan, membiarkan keindahan Al-Quran berbicara sendiri. "Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Quran untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"- (QS. Al-Qamar: 17). Dakwah yang paling kuat bukan yang paling banyak bicara. Tapi yang membiarkan kebenaran terlihat dengan sendirinya.
Momen ini mengajarkan sesuatu kepada kita semua: Islam yang sebenarnya tidak membutuhkan pembelaan yang berapi-api. la hanya butuh ditampilkan dengan jujur. melalui akhlak yang baik, kata-kata yang lembut, kehidupan yang mencerminkan nilai yang kita yakini. Banyak orang berubah pandangannya bukan karena dipaksa, tapi karena melihat keindahan yang belum pernah ditunjukkan kepada mereka. Dan kita punya kesempatan yang sama: Menjadi cermin yang membuat orang lain ingin tahu lebih banyak.
Satu momen pembukaan Piala Dunia membuktikan sesuatu yang penting: Al-Quran tidak butuh panggung yang religius untuk menyentuh hati manusia. la bisa menyentuh siapa saja, di stadion sepak bola, di tengah
keramaian dunia yang sekuler. Karena pesan tentang persaudaraan dan ketakwaan adalah pesan yang fitrah setiap manusia merindukannya, terlepas dari agama atau latar belakang mereka. Kebenaran yang disampaikan dengan tulus, selalu menemukan jalannya ke hati manusia.
Masya Allah Barakallahu Fiikum 🙏🏼
#FeelEveryGoal | @toshibatv_id
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
The U.S. military strike on Venezuela is deeply regrettable, as it contradicts the very principles of sovereignty and multilateralism that America has long championed. As a self-proclaimed guardian of global democracy, this unilateral action raises serious questions about their consistency, especially in today’s multipolar world where Russia’s and China’s influence in Latin America is growing stronger. It risks sparking widespread instability, compelling nations like Indonesia to navigate our national interests more strategically, rather than simply following ideological currents.
What happens to Venezuela also sets a precedent for other developing countries. It goes beyond a violation of sovereignty. It’s a deliberate effort to restrict the Global South’s freedom to manage its own resources. We must bolster solidarity among developing nations to safeguard the non-intervention principles we have long fought for.
The weaknesses of multilateral diplomacy, such as through the UN or the OAS, are becoming all too evident, rendering soft approaches like the ASEAN Way less effective against direct confrontations. It’s time for us to develop a more proactive diplomacy, including networks with non-state actors for effective mediation, rather than a passive neutrality that leaves us vulnerable as collateral damage.
This strike could also serve as a catalyst for reforming global governance from a Southern perspective. Indonesia has the opportunity to lead initiatives at the UN to amplify the voices of developing countries, particularly on strategic resources. This isn’t merely a moral response, but a survival strategy in a fragmented world, emphasizing leadership that builds bridges rather than yielding to destructive powers. •••
mulai menerima kenyataan kalo gue emang sekurang itu, nothing special, nothing be proud of me and not suitable for anyone. makanya ga heran selama, ini ga pernah ada yang bersyukur punya gue dan selalu sepelein tentang gue wkwk
Bapak, tolong jangan berbohong. Saya sudah kehilangan satu-satunya orang tempat saya bisa pulang. Tanah saya hancur, rumah saya porak-poranda. Bapak tau? Untuk sekedar memberi kabar kita harus bayar di polsek. Bapak tau? Satu-satunya yg memberi kami akses hanya kantor kecamatan.
Even journalists couldn’t hold back their tears.
CNN Indonesia reporter Irine Wardani broke down while covering the Sumatra disaster, which has claimed at least 1,030 lives. Reporting live from Aceh with cameraman Urip Handoyo. 📍 Aceh Tamiang, Indonesia 🇮🇩
“Ini tiga provinsi dari 38 provinsi” is such a vile argument to address by a president in this situation.
If a PROVINCE is not even important for him, imagine how unimportant he sees one person.