Perspektif baru. Walau sdh lama tau.
.
Bahwa batal terjadi pun adalah sebuah jawaban atas doa. Bahwa kegagalan pun adlh jawaban atas doa.
Spt halnya kebahagiaan, musibah pun adlh dari sumber yg sama.
Maka berbahagialah & jgn terlalu berbangga atas masa lalu.
.
Life goes on.
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Ini kok saya dapet UKT tertinggi? Penghasilan Orang Tua saya gak segede itu?"
"Coba saya cek, kasih nama sama NIM?"
"Debi Pak, ini NIM saya."
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang biasanya UKT tertinggi, memang gitu aturannya di kampus ini."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba kamu apply KIPK. Ini dicek ya syaratnya."
***
"Bu Dinas Sosial."
"Iya gimana?"
"Saya mau cek orang tua saya di desil berapa di DTSEN, saya mau daftar KIPK."
"Minta NIK orang tua ya."
"Ini Bu, tolong dicek"
"Sebentar ya"
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS pasti kehapus dari DTSEN. Dari jaman DTKS juga rutin diapus. Perintah menteri sosial. Memang aturannya gitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba kamu pakai surat keterangan tidak mampu atau slip gaji ortu buat daftar KIPK."
***
"Pak Lurah, saya mau minta SKTM buat daftar KIPK"
"Kamu bukannya Debi, anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?"
"Iya Pak"
"Lah, penghasilannya bukannya lumayan?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Bentar saya cek dulu aturannya, Ibu PNS kan ya?"
"Iya Pak"
"Saya kemarin dapet instruksi dari Pemda sini, katanya kalau PNS gak boleh dapet SKTM. Jadi saya gak berani keluarin."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba langsung pakai slip gaji Ibu ke Dikbud."
***
"Bu Dikbud."
"Iya gimana?"
"Saya mau daftar KIPK, cuma data ortu saya gak ada di DTSEN sama Pak Lurah gak bisa ngeluarin SKTM. Jadi pakai slip gaji."
"Sebentar saya cek ya."
"Ini slip gaji ibu kamu? PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang gak bisa daftar KIPK. Kemarin pejabat tim teknis KIPK udah bilang kalau PNS gak boleh sama sekali."
"Sama sekali Bu? Gaji Ibu saya cuma segini?"
"Iya. Bahkan Golongan I juga gak boleh. Memang aturannya begitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba ke bank aja sama Ibu, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank"
"Iya gimana?"
"Saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Bu, saya cek dulu"
"..."
"Bu Lala, setelah kita cek penghasilan dan riwayat finansial, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi. Saya gak berani Bu, nanti saya yang kena."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet KIPK Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Ibu saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas fintech, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya Mbak"
"Waduh, itu segede biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
"Memang aturannya segitu pinjaman kita."
***
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Misalkan saya mau nunda kuliah jadi tahun depan, buat ngumpulin duit dulu, bisa gak?"
"Jadi gak daftar ulang pertama?"
"Iya."
"Gak bisa, kalau udah lulus ujian tahun ini, kamu diblacklist dari ikut ujian lagi tahun depan."
"Hah?"
"Dok, saya capek terus."
Kalimat yang hampir setiap hari saya dengar di RS.
Biasanya saya tidak langsung meresepkan apa-apa.
Saya perhatikan dulu.
Matanya lelah. Cara duduknya seperti menahan beban di punggung.
Pegal, katanya. Sudah lama. Sudah berobat. Sudah mencoba macam-macam.
Tapi keluhannya berulang terus.
Indonesia itu terang.
Matahari datang pagi-pagi, bertahan sampai sore, dan kadang senja pun seperti enggan pergi.
Tapi di rs, saya sering menemukan hal yang sama:
Kadar vitamin D yang rendah.
Pada pasien yang tinggal di negeri paling yang mataharinya bisa sepanjang tahun sekalipun.
Melihat matahari dan disentuh matahari adalah dua hal yang berbeda.
Vitamin D terproduksi dari kulit yang disapa cahaya.
Lalu ia berjalan jauh, diolah di hati, diaktifkan di ginjal, sebelum akhirnya bekerja.
Membantu kalsium duduk rapi di tulang.
Menjaga otot agar tidak terlalu cepat mengeluh.
Menopang tubuh yang kita pakai setiap hari, tanpa pernah kita ucapkan terima kasih.
Ketika kadarnya kurang, tubuh mulai mengirim 'surat.'
Pegal yang datang tanpa sebab.
Lelah yang tidak sembuh oleh tidur.
Otot yang terasa berat padahal tidak mengangkat apa-apa.
Nyeri tulang yang tersirat, seperti bisikan yang tidak mau hilang.
Surat-surat itu sering kita abaikan.
Kita sering berangkat saat langit masih gelap.
Pulang saat matahari sudah pamit.
Duduk di Ruangan ber-AC. Jendela tertutup. Tirai tebal.
Kulit yang tidak pernah disentuh matahari, tidak pernah punya kesempatan membentuk vitamin D.
Matahari melimpah tetapi tidak sampai ke kita.
Anjuran asupan harian vitamin D cukup sederhana.
*600 IU per hari.*
Angka yang IDAI anjurkan sejak usia 1 tahun.
Kecil. Tapi baiknya setiap hari.
Dan di situlah banyak orang tidak berhasil.
Bukan karena tidak mau, tetapi karena konsistensi memang seni yang tidak banyak orang kuasai.
Saya sering menyarankan bentuk yang tidak membuat orang menyerah di minggu kedua.
Vitamin D yang dalam bentuk gummy, satu butir sehari, rasa yang bersahabat, tanpa drama menelan.
Opsi bentuk lain ada,
Tapi yang paling baik adalah yang benar-benar kita minum. Bukan yg dibeli lalu diletakkan begitu saja.
Tubuh kita jarang berteriak.
Ia hanya berbisik, lewat pegal yang pulang-pergi, lewat lelah yang tidak masuk akal.
Dan yang ia minta bukan obat yang rumit.
Hanya fondasi kecil yang kita jaga konsistensinya setiap hari.
@maxsunz@ameriken0__@SeputarBolaEPL Yg haram bukan cuma babi dan alkohol kok. Ayam tiren, mati ditusuk, itu juga diantaranya haram.
Persoalannya bukan pada bungkusnya, tapi isinya.
Kan udah dibilang, kontaminasi silang dan kredibilitas nama itu mahal biayanya.
@AoiShiro010203@PeganganLemari@Zeefire02 Nalar lau yg kocak. Ga bisa nunjukin dasar argumentasi. Thailand itu tempat, bukan agama. Tunjuklah misal Kristen, atau yahudi, lalu kasih dalil yg membolehkan misal dalam kitab sucinya. Bukan menunjuk lokasi geografi.
Have you noticed Zionist have switched tactics?
Israel did polling on what can help them win back the people of the world.
The results told them generating Islamophobia swung opinions the most.
It is easier for them to get you to hate Muslims than love Israel.
@jpiterz@rgoestama Whooss itu awalnya ditawarin ke jepang dan mau. Makanya studi tanah dilakuin oleh JICA. Eh tau2 disalip china. Karna JP marah, rumornya dikasih kompensasi pelabuhan patimban.
Jepang kasih bunga 0.1%
China kasih bunga 2%
Dipikir aja apa yg aneh 🤣
@ryancha95398505@KenSavitri35075@weebszz Tampaknya sulit. Mengingat ketika kecil saat jatuh yg disalahin lantainya, bukan ngajarin bertanggung jawab. Mayoritas ortu mendidik dg cara ini. Ketika dewasa ya enggan bertangung jawab menjadi karakter.