๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
Shuyin memijat tipis pelipisnya.
Ia merasa janggal. Janggal karena ia bahkan tidak percaya bahwa dirinya berusaha bersikap ramah dengan seseorang yang bisa dikatakan adalah musuh bebuyutannya sejak dahulu.
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธโ โ โ โ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
"Saya juga ingin berterima kasih, atas..."
Seketika ia pun mengingat tatapan yang ia berikan terhadap pemuda itu. "...atas bantuannya tadi."
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธโ โ โ โ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
Shuyin mulai menghitung biaya yang perlu dibayar. "2 roti kaya dan 2 kopi, benar?"
Ia melirik ke arah @canderaga untuk memastikan sebelum ia menyatakan harga tersebut.
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธโ โ โ โ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
ia tidak bermaksud terlihat menyeramkan. Ya, memang harus diakui bahwa tiap kali emosinya mendominasi, perilakunya sulit untuk diatur.
Gadis itu lalu mencoba bersikap lebih ramah dari biasanya. "Baik,"
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธโ โ โ โ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
Shuyin berusaha tenang dan berlaku seperti biasa. Ia membuka kasir dan tidak menemukan adanya kejanggalan.
๐๐ข๐ช ๐๐ฆ๐ช ๐๐ช๐ข๐ฏ! Batinnya saat mengetahui tujuan adiknya.
Shuyin tetap menunduk, ia pun merasa aneh jika pergi begitu saja.
@canderaga
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธ
ada kesalahan yang akan berakibat fatal.
"Ya sudah." Shuyin pun akhirnya berjalan menuju kasir.
Dan tentu saja, ia pun terdiam sejenak saat melihat orang yang berdiri hendak membayar makanannya.
๏ธ
๏ธ
๏ธ
๏ธโ โ โ โ