Perempuan itu berkata,
"Tolong beritahu aku apa maksudmu datang ke rumahku, apakah menjadi tamu atau menantu ayahku, agar kutahu apa yang harus kusuguhkan; kopi ataukah hati."
"Segala pencapaian yang dapat diraih, bukan semata karena kehebatan dan kemampuan kita, tapi Allah yang memudahkan segala urusan."
Well, kalimat ini nggak asing di telinga kita, tapi asing dalam praktiknya.
La hawla wala quwwata illa billah.
Terkadang, merasa "tak difavoritkan" itu hal indah.
Indah, jika kita langsung mengingat bahwa yang tak pernah meninggalkan dan membenci kita hanya Allah.
Cinta itu hal yang sangat wajar.
Namun, kita perlu tahu penempatan cinta sebagaimana mestinya.
Jangan sampai, cinta kita pada makhluk, melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Terkadang tak selalu setiap "ingin" harus diungkapkan pada saat itu. Sebab, akan ada waktu ketika tekad sudah bulat. Memberanikan diri, menghampiri ayahmu, dan menyampaikan pesan dengan jelas.
Kita belajar itu untuk memperbaiki diri kita, kan?
Bertujuan untuk menghilangkan kebodohan diri, juga berusaha menghilangkan ketidaktahuan orang lain.
Setelah itu, belajar itu agar kita mengamalkan apa yang telah kita pelajari. Bukan untuk "menyerang" seseorang. Barakallahufiik
Kita saat ini kesepian. Merasa tak memiliki teman atau kawan. Ini memang menyedihkan. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki keimanan. Sehingga kita sadar bahwa: kesepian tak selalu buruk. Mungkin, ini pelajaran agar kita tak berharap pada makhluk.
Semakin tinggi ekspektasi pada makhluk, maka akan semakin besar pula kecewanya. "Lah, kan, kita harus optimis?" Iya, optimis itu perlu. Perlu kita kontrol, dan "penyandarannya" bukan pada makhluk, melainkan pada Dia Sang Maha Pencipta 'Allah'.
Seseorang yang sedang "baik-baik saja", akan mudah dalam menyemangati atau menasihati seseorang, tetapi saat ia sedang down, mungkin belum tentu bisa menyemangati atau menasihati diri sendiri. Di sinilah hikmah bahwa kita perlu saling mengingatkan.