Tak ada selain rasa syukurku atas apa yang telah kulalui dan kutemui; seluruhnya syarat akan makna.
Semoga berkurang ke-alpaan penikmatan proses dalam setiap perjalananku setelah ini ke depannya.
Terima kasih tuhan,
Maafkan diriku yang seringkali mengeluh.
I’m in love with this sentence:
“Every pattern in your life repeats until you learn the lesson. The moment you choose differently, the loop ends and growth begins.”
jangan takut setan, jangan takut turbulensi pesawat, jangan takut miskin, dan jangan takut dibenci atau dilupakan banyak orang. semua itu sepele. kalau ada yang pantas ditakuti dalam hidup ini, satu saja: takutlah bikin kesalahan yang ongkosnya nggak bisa kau tanggung sendirian
Begitu ironi di saat kita senang/terharu melihat orang lain bertindak atas azaz-azaz kebenaran,
Namun begitu pelik rasanya ketika kesempatan bertindak demikian (berlaku benar)
tiba di depan mata.
Eksistensi tanpa pendahuluan dasar atas esensi diri adalah ilusi.
Esensi bagaimana dirimu adalah eksistensi nyata tanpa perlu menyatakannya dalam kata-kata.
Jangan sampai mengikat dirimu sendiri, beberapa harus lepas untuk beberapa kebaikan pula.
In reality,
Good things are never enough,
wisdom brings back the truth.
Take care 👋
Sungguh, wanita mulia ialah mereka yang berusaha mengerti di titik mana ia harus menjaga diri.
Maka begitu pula, sungguh, pria mulia ialah mereka yang berusaha mengerti bagaimana menyikapi kemuliaan wanita itu.
👋
Efek dari kekeliruan atas tipisnya perbedaan antara keinginan dan kebutuhan sangat tebal sekali.
Kamu hanya akan melihatnya melalui kaca mata kesadaran total, bukan sekedar paksaan atas keadaan.
Just feel the bold line.
👋
Nak, malam ini Bapak mau ngobrol serius..
“Nikah itu bukan cuma soal cinta...”
Banyak anak muda sekarang jatuh cinta, lalu buru-buru nikah. Tapi 2-3 tahun kemudian, rumah tangga berantakan.
Kenapa? Karena mereka lupa: nikah itu bukan hanya soal perasaan, tapi juga soal tanggung jawab besar.
Cinta itu mudah datangnya..
Tapi tanggung jawab itu yang bikin pernikahan kalian langgeng..
Bapak lihat banyak kasus.. suami yang gampang menyerah ketika susah, istri yang kurang sabar menghadapi kekurangan suami.
Akhirnya rumah jadi semacam medan perang, anak-anak yang jadi korban.
Bapak kasih nasihat ala Bapak:
- Pilih pasangan yang baik hatinya, bukan cuma yang cantik/ganteng atau kaya.
- Cari yang sabar, yang mau kerja sama, yang menghargai orang tua dan yang bisa diajak bangun rumah tangga.
Karena cantik bisa pudar, harta bisa habis, tapi hati yang baik itu bisa hubungan kalian langgeng.
Nikah itu bisa diibaratkan nanam pohon buah..
Kalian nggak bisa cuma nyiram pas lagi musim hujan doang. Harus sabar, rawat setiap hari, kadang kena panas, kadang kena hujan. Tapi kalau akarnya kuat, nanti buahnya manis dan bisa dinikmati anak-cucu.
Tanggung jawab suami:
- Memberi nafkah yang halal
- Melindungi keluarga
- Menjadi imam yang baik
Tanggung jawab istri:
- Mendukung suami
- Mendidik anak dengan kasih sayang
- Menjaga keharmonisan rumah tangga
Dua-duanya harus sama-sama berusaha. Nggak ada yang namanya “50-50”, harus 100-100.
Bapak dulu juga pernah muda. Juga pernah merasa “ini orangnya”.
Tapi Bapak bersyukur karena memilih Ibu kalian yang sabar dan baik hati. Bukan karena sempurna, tapi karena kami berdua mau saling mengingatkan dan saling memaafkan.
Pesan terakhir Bapak:
Nikah itu ibadah. Jangan nikah hanya karena takut jomblo atau ikut-ikutan teman. Nikah karena siap bertanggung jawab di hadapan Allah dan di hadapan anak-anakmu kelak.
Dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Singapura, Soeharto menjumpai sang pemimpin Singapura, Lee Kuan Yew.
Soeharto pun mendadak bertanya, kenapa Singapura bisa jauh lebih maju dari Indonesia, padahal luas wilayahnya sangat kecil.
Maka Lee Kuan Yew pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong, lalu ia bertanya: "Tuan Goh, siapa itu anaknya bapakmu, anaknya ibumu, tapi bukan saudaramu?" Goh lalu tersenyum, dan menjawab: "Tentu saja saya sendiri.".
Setelah puas mendapat jawaban dari Goh Chok Tong, Lee pun kemudian berpaling pada Soeharto dan menjawab pertanyaan yang tadi diajukan olehnya: "Kami bisa maju karena kami memilih orang-orang pintar jadi pengelola negara."
Soeharto pun pulang ke Jakarta. Ia teringat pada percakapannya dengan Lee Kuan Yew, dan menjadi penasaran: apakah ia telah memilih orang pintar jadi pengelola negara. Maka Soeharto pun memanggil menteri setia-nya, Harmoko.
"Pak Harmoko! ada yang ingin saya tanyaken pada anda.". "Monggo pak Presiden!" tukas Harmoko. "Siapakah anak daripada bapakmu, anak daripada ibumu, tapi ia bukan saudara daripada kamu." Harmoko cepat menjawab, "Mohon petunjuk untuk tindak lanjutnya, Pak"
Soeharto agak kesal, tapi ia masih menyimpan harapan. "Coba Pak Harmoko mencari jawabannya ke menteri-menteri lain." Maka Harmoko pun undur diri. Setelah tak memperoleh jawaban dari Soedharmono, Akbar Tanjung, dll; akhirnya Harmoko menemui Habibie. Habibie tertawa saja. "Pak Harmoko, jawabannya adalah saya sendiri!"
Harmoko langsung cerah. Tak lama ia mohon menghadap Presiden Soeharto.Soeharto menyambut dengan senyum permanennya. "Sudah ada jawaban, Pak Harmoko?" Harmoko tak sabar menjawab dengan ceria, "Sesudah saya gali informasi dari berbagai pihak, ternyata jawabannya adalah: Pak Habibie!"
Soeharto mengernyitkan kening. Tapi ia tak ingin mengecewakan bawahannya yang setia itu. "Bagus!. Itu merupaken upaya yang baik. Jawabannya juga sebenarnya mendekati benar. Tapi sayang memang belum 100% benar. Harmoko agak kecewa. "Jadi jawabannya apa, Bapak Presiden?" "Adapun jawabannya," pungkas Soeharto, "Adalah Goh Chok Tong"
sumber: thread eddiesut
Dewasa gini, ternyata lebih seru ngobrol sama stranger, pedagang keliling, tukang parkir, atau orang orang tua yang kebetulan lagi di tempat yang sama.
energi mereka terasa lebih tulus untuk menyadarkan bahwa banyak hal di dunia ini yang perlu kita syukuri.