Sekarang aku lagi belajar buat nggak selalu bereaksi setiap kali kecewa sama suami.
Dulu, dikit-dikit marah. Dikit-dikit protes. Kalau ekspektasi nggak sesuai, langsung nangis semalaman. Aku pikir, makin besar reaksiku, makin paham juga dia sama perasaanku. Tapi ternyata nggak selalu begitu.
Makin ke sini aku sadar, nggak semua rasa kecewa harus berakhir jadi pertengkaran. Nggak semua luka harus terus dibahas, dan nggak semua kesalahan harus dipaksa buat dapat penjelasan.
Kadang yang lebih penting justru belajar ngatur ekspektasi, memperbaiki diri, banyak berdoa, lalu menyerahkan hal-hal yang memang di luar kendali kita kepada Allah.
Karena ada masanya kita lebih memilih menjaga ketenangan hati daripada capek-capek menangin perdebatan.