lirik lagu dari #SuaraIbuPeduli dan mother bank di #LiburanTetapMelawan suara ibu berisik, sore ini. Lagunya rilis september, katanya. Lirik yang bikin buibu kolab sama Lani dan Rani Jambak
A curious scandal is unfolding around ARTJOG's use of @davidgraeber 's Another Art World (originally published by @e_flux).
Never mind that "Another Art World" was co-written by @davidgraeber and me. Never mind that the project grew out of ideas around Proletkult—something David knew nothing about, but happily embraced and connected to German Romanticism.
Of course, had David's name not been on the essay, probably neither my name nor the essay itself would have attracted much attention. Brands work.
The irony gets even better. The exhibition is about cultural reproduction, intergenerational transmission, and even includes children as participants—all ideas remarkably close to the Anthropology for Kids (https://t.co/UmgPj7Rl32) work David and I developed together.
And now the whole thing has exploded because the festival invoked Graeber's ideas while accepting sponsorship from the foundation of the president's son - a notorious vampire.
Here's the truly uncomfortable thought: branding works just as ruthlessly on the left as it does on the right. Famous names become currencies.
The funniest part? If the @Graeber_social had behaved like a proper intellectual-property brand manager and demanded permission to use the Graeber name, the biennial might have had to negotiate with us—including some awkward conversations about sponsors. But if I simply ask to be acknowledged as a co-author, I risk looking petty.
That may be the most Graeberian irony of all.
https://t.co/IKyE0wagYB
sepulang dari madura dapat kabar yang menyenangkan. lagi kerja bareng koreografer muda sebagai dramaturg sekaligus produsernya, seneng banget liat dia yang hampir putus asa, dapet tekanan sana sini soal hijabnya, hari ini dia lolos program ke taiwan untuk develop karyanya. 🌻
setahun mangkrak di gudang, DPR setujui 17 ribu motor listrik MBG dihibahkan ke guru honorer
DPR bilang anggaran pembelian motor listrik MBG tembus 1 T. udah terlanjur dibeli, daripada mubazir jadi lebih baik dihibahkan ke guru honorer
apa tanggapanmu?
mungkin yg salah juga kita, berharap kaum menengah ke atas untuk berempati. mungkin yang salah juga kita, menuntut tafsir tunggal atas perjuangan kelas tidak berhenti pada memahami, mengerti, namun meminta aksi. siap salah dan siap diobjektifikasi, barangkali jadi requirement (?)
merubah mental pribadi kalau mau bikin sesuatu harus punya ‘duit’ dulu. modal mendengar lebih visi seniman. lalu menghubungkannya dengan yang beresonansi. dua project terhubung dalam dua bulan. gongnya, they appreciate my efforts to connect dg seniman di sini. senengnya gong 💝
ini lain yang ga kalah penting untuk dipikirkan, selain topik keberlanjutan yang seringkali jawabannya disuguhkan langsung pada: menjadi pasar, jualan, beli tiket pukul rata, blindly nerima sponsor problematis. masa si keberlanjutan bentuknya tunggal macam itu?
jika ingin menjaga “kebersihan” aku pikir tuntutan untuk terus lanjut, makin gede pada sebuah acara/institusi seni jadi tidak masuk akal. negara kita yang selalu absen dalam pertumbuhannya ini bukan suatu kewajiban untuk ditampar dengan cara “nih tanpa kamu kami bisa bikin gede”