sorry to say, tp pendidikan memang cukup ngaruh ke cara berpikir & cara seseorang berkomunikasi. nggak semuanya, tp mostly keliatan. dan setelah punya pasangan yg cara berpikirnya matang, komunikasinya enak, plus wawasannya luas..baru sadar ternyata standar itu ad gunanya jg wkwk
@SmgMenfess dulu aku first meet dibayarin nder, aku ga menawarkan atau nanya apakah mau split bill, dianya juga gaada bahas ke arah sana
krna aku juga udh punya rencana second meet aku yg bayarin, pas hari H ternyata dianya gamau juga sih dibayarin
dulu pernah punya pacar yang bikin aku ngerasa prettier tanpa dia ngapa ngapain. muka bersih, almost no acne, tidur cukup, jarang sakit, bahkan mens juga lancar. pas putus? i was so stressed out, jerawatan parah, mens jadi berantakan, everything just felt off
maybe it wasn’t him, maybe i was just so happy and in love that everything felt easier. kayak apa apa rasanya lebih ringan dan dunia tuh lebih baik aja waktu itu :)
DYSPAREUNIA (PAINFUL SEX)
LETS TALK ABOUT PAINFUL SEX WITHOUT SHAME BECAUSE SEX IS NOT MEANT TO HURT
IT IS MORE COMMON THAN YOU THINK.
READ. SHARE. REPOST
When Pleasure Hurts: A Woman’s Body Is Speaking, and We Must Listen
There is a story many women carry quietly, and it begins in a bedroom and ends in silence. It is the story of pain where pleasure is expected, and of endurance where joy should live. Dyspareunia is the name medicine gives to painful sex, and yet the experience itself has existed long before we learned to label it. As a gynaecologist, I say this without apology and without whispering: sex is not meant to hurt, and when it does, the body is not being dramatic, it is being honest. According to the guidance of the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists(RCOG), painful sex should never be dismissed, because pain is often a message, and messages deserve interpreters, and interpreters deserve time.
Sometimes the pain waits at the doorway of the vagina, like a guard refusing entry, and sometimes it hides deep inside the pelvis, like a secret with sharp edges. Superficial pain may come from dryness, from infections, from conditions of the vulva, and from the quiet hormonal changes of menopause or breastfeeding, when oestrogen slips away like a lover who forgot to say goodbye. Deep pain, however, may whisper the names of heavier things: endometriosis, pelvic infections, fibroids, ovarian cysts, or adhesions, and these are not small matters, even when they are spoken of in small voices.
But the body does not live alone, it shares space with memory and fear and culture. And so pain is not always only physical. Anxiety tightens muscles. Past trauma writes itself into tissue. Relationship stress creeps into nerves. Cultural shame sits heavily on the pelvis. The muscles clench not because they are stubborn, but because they are afraid. This is why silence is dangerous, and why secrecy delays healing. Many women think, This is normal, and so they endure. And endurance becomes habit. And habit becomes harm. Painful sex erodes self-esteem, strains love, dulls desire, and leaves emotional bruises that cannot be seen on a scan, yet they are real, and they are heavy.
It is also important to name things properly, because language shapes understanding. Dyspareunia means intercourse is possible, but painful, often because something medical can be found and treated. Vaginismus, on the other hand, is when the vaginal muscles tighten without permission, when the body says no even if the mind says yes. Dyspareunia says, 'Something hurts.' Vaginismus says, 'I am protecting you.' And sometimes, they walk together, hand in hand, pain and fear, feeding each other.
Care, when it is done well, begins with listening, and continues with gentle examination, and then with tests when needed, and imaging when the pain lives deep.
Treatment may look like lubricants or vaginal oestrogen for dryness, antibiotics for infections, hormonal therapy for endometriosis, physiotherapy for tense pelvic muscles, and counselling when fear or trauma is part of the story. This is not indulgence; it is medicine. This is not weakness; it is wisdom.
So let us say it clearly, and say it loudly, and say it without embarrassment: painful sex is common, and medical, and treatable. You are not broken. You are not abnormal. You are not overreacting. Your body is speaking, and it is speaking in the language of pain, and pain is a language we must learn to understand. Because pleasure should not require suffering, and love should not demand endurance, and silence should never be the price a woman pays for intimacy.
ga pernah makan amanda sebelumnya (se inget ku) trs grgr admin @_AmandaBrownies lucu bgt di twt, jadi ke pgn nyobain
pgn nyobain variant mushroom tapi di smrng habis, akhirnya dibeliin ini sama pacar aku 🫶🏻
Kalau diskusinya masih sebatas “laki-laki provide rumah, mobil, lalu perempuan provide apa,” berarti pemahamannya masih di level transaksi, bukan pernikahan.
Karena hari gini, banyak perempuan bisa provide rumah, mobil, dan kehidupannya sendiri. Itu bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik laki-laki.
Yang jauh lebih langka dan jauh lebih mahal adalah kemampuan membangun dan mengelola kehidupan bersama.
Pernikahan bukan semata biaya rumah dan mobil. Itu bagian obrolan level permukaan banget 😅
Biaya terbesar dalam pernikahan adalah hal yang tidak bisa dibeli pake uang: kematangan emosional, kapasitas intelektual, stabilitas karakter, dan kemampuan mengelola rumah tangga sebagai sebuah sistem.
Apalagi kalau you memutuskan punya anak.
Biaya membesarkan anak bukan hanya makan dan sekolah. Tapi kemampuan orang tua menjadi figur yang stabil, hadir, dan layak dicontoh. Kemampuan mengelola emosi. Kemampuan membuat keputusan jangka panjang. Kemampuan menjaga struktur keluarga tetap utuh. Semua itu ngga bisa digantikan oleh uang.
Jadi kalau diskusinya masih berhenti di “siapa provide rumah dan mobil,” honestly bukan perempuannya yang perlu dipertanyakan.
Tapi kesiapan berpikir laki-lakinya.
Karena pernikahan bukan tentang siapa membawa apa. Tapi tentang apakah dua orang punya kapasitas untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri?
Kalau masih melihatnya sebagai transaksi, mungkin memang belum siap untuk menikah.
Buat cewek-cewek, diskusi yuk.
Cowo berupaya provide mobil, mahar, rumah, segala macem buat cewe, terus cewe nyediain apa ya buat cowonya?
Serius, gw penasaran.
Kalo alesannya cewe bisa melahirkan anak, cewe pun gabisa hamil tanpa ada cowo.
Coba sebutkan 3 aja kenapa cowo harus butuh cewe yang gabisa dilakukan sendiri atau dapet dari temennya, selain dari sisi biologis?
belum ditambah dari ngambek, tantrum, jagain mood & emosi.. belum juga pengaruh posting ulang tiktok soal ini itu..
semangat mas...
saya dari biaya nikah, hidup semua kedepannya nabung berdua bareng istri dari 0, dari pacaran kita punya tabungan bersama.
ini cara saya menghibur diri (karna bukan pewaris) 😅
- setidaknya kita punya power untuk mengatur hidup sendiri karna semua di beli hasil jerih payah sama istri
- setidaknya kita enggak usah merasa berhutang budi
- setidaknya kita enggak usah merasa enggak enakan
mungkin kedengerannya sepele, tapi setelah berkeluarga ini lumayan berasa.
saya punya kenalan yg rumah mobil dikasih orang tua semua, alhasil kalau disuruh apa2 enggak enak nolak, belum lagi perasaan berhutang budi.
kalau orang tuanya cuma ngasih terus tinggal sih enak ya, tp ada orang tua habis ngasih terus maungatur2 rumah tangga anak 😅
serius, sebagai kepala keluarga di posisi itu rasanya enggak enak banget.
setidaknya itu cara saya menghibur diri... walaupun ini sambil menangis kumpulin uangnya 🥲😂
kalau kamu gimana???
temen2 yg berjuang sendiri semangatttt🥹
buat yg dibiayain orang tua, lucky you! smg kita semua bisa jadi orang tua seperti itu buat anak 🤲🏻
Sebenarnya cewek itu jatuh cinta ga selalu mandang fisik tpi cewek lebih suka sama cowok yang:
“wangi”
“excited”
“inisiatif”
“longtext”
“fastrespon”
“ga friendly”
“attitudenya baik”
“tutur katanya lembut”
“Komunikasinya nyambung”
"yg cintanya ga berubah dari awal sampe akhir"
Privilege itu gak selalu duit.
Dulu gw bingung kok cewek gw gamau naik Taksi Online. Selalu Ojol, padahal panas.
Ternyata gara2 dia takut dilecehin kalo naik Mobil.
Sedangkan gw ngerasa nyaman & aman kalo naik Taksi Online ampe bisa tidur pules sampe ngorok.
That's privilege.
mulai normalisasi;
"dicintai/mencintai dengan tenang"
jadi ga perlu sibuk masalah effort & feedback, kurangi curiga & tanamkan mindset saling percaya, serta tumbuh bersama jadi lebih baik lagi.
makin dewasa, makin sadar kalo cinta juga perlu tumbuh dg situasi & orang yg tepat.
@sbyfess Jadi keinget dulu mantanku pernah mau minjemin data dirinya ke instruktur magang katanya buat anaknya, alasannya datanya udh gbisa lagi, aku bilang "nge** ga ngajak, nikah ga ngundang, kok pinjem duit ke dia"
tau gt aku biarin aja ya dulu
@sosmedkeras Bro berpikir kehidupan gagal dan sukses dimulai dari tabungan 100 juta, padahal yang awalnya makan 2 kali sehari sekarang bisa 3 juga sebuah kemajuan.
Orang ga pernah lihat itu, tapi selalu perjuangan mereka direndahkan. Jangan bicara tinggi dulu, kalo adab masih rendah. IZIN.
@tanyakanrl "Anak perempuan melihat ibunya sebagai trauma. Anak laki-laki melihat ibunya sebagai standar."
Contohnya ini. Biasanya, orang yg begini nih, klo nanti udh jadi suami pasti kelakuannya 11 12 kayak bapak & kakeknya. Krn di pikirannya "ibu gw dulu bisa, istri gw juga harus bisa."