Aneh ga sih?
Tujuan MBG itu untuk anak-anak sekolah.
Tapi ketika Dapur MBG dihentikan bahkan kalaupun cuma sementara, yang marah bukan anak-anak sebagai penerima Makan Bergizi Gratis.
Yang marah malah yang punya Dapur.
AIN'T NOO WAY 💀💀
Ini bukan bingung nimpanya gimana, paham ga si artinya? Yeup, supremasi sipil dikikis. Aparat bisa lebih represif.
Jujur kaget aja disahkan, ga berlebihan kan klo bilang tiba-tiba? Apa isu ini ada berkat pengalihan kemarin? 🤓☝️
YEAH, WE'RE FINISHED 🏳️🏳️🏳️
kelar ruu tni, muncul ruu polri. dan rakyat makin gak ada harga dirinya. semua serba tertutup, tanpa transparansi tanpa partisipasi dari sipil. kalau gw sih stateless ya.
sekali lg saya akan berteryak PENDIDIKAN ITU HARUSNYA AFFORDABLE, ACCESSIBLE, DAN GAK AGEISTTTT MMMMMHHHHHHHMMMMMMM
PENDIDIKAN TIDAK BOLEH ELITISTT MMMMMMMMMMMM
pls normalisasi gapapa kalo:
- umur 17 blm kuliah
- umur 22 blm lulus
- umur 23 blm kerja
- umur 25 blm mapan finansial
- umur 26 blm nikah
- umur 29 masih ngerasa belum sukses
20s is still young. it’s okay to explore, to get lost, to not have everything figured out yet.
gaenak yah jadi kaum middle class... kipk ga dapet, nemu beasiswa tapi harus ada sktm, nemu beasiswa lagi gabisa apply gara" kampusku gaada di list mitranya 😞😞
Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.
pasangan gay dipermalukan di depan umum, disabilitas dijadiin trend becandaan tiktok, pelaku pelecehan seksual malah dibela, ini negara apa sih sebenernya.
Yg ironis? Kasus KS FH UI kemaren bisa kita liat masih ada pihak2 yg nahan para mahasiswa buat gak mukulin pelaku, tapi dalam kasus ini sama sekali gaada
Menurut gue sih, mereka salah. Tapi reaksi kampusnya juga berasa kebablasan. Orang ciuman di perpustakaan, bukan korupsi dana kampus.
Yang bikin gue lebih concern justru efek domino setelahnya. Nama udah tersebar, keluarga kena imbas, pertemanan berubah, masa depan akademik bisa berantakan. Hukuman selesai dalam hitungan bulan, tapi jejak digital dan stigma bisa nempel bertahun-tahun.
Kalau sampai beneran DO, ya semoga mereka bisa lanjut kuliah di tempat lain, beresin hidup pelan-pelan, cari kerja yang baik, dan move on. Kadang satu-satunya cara buat mulai dari nol adalah pergi dari lingkungan yang udah keburu ngecap lo seumur hidup karena satu kesalahan.
Boleh kasih sanksi. Tapi kalau sampai hidup dua orang harus dihancurin demi jadi efek jera, itu namanya bukan edukasi lagi, tapi tontonan.