How I felt? I was still processing it all. No raging emotions. Just kayak orang lingung. Then I told my cousin wife and ended up breaking down after processing it all. Why couldn’t I be more direct and tegas? But again it all happened fast.
The one time mau nungguin angkot and saw a confused looking man waiting for the same angkot. I told him kalo daerah sini emang lama for this certain colour of angkot to pass. After that dia mendekat ask for my name and where Im going. I just gave him fake info and proceed to walk
Gua pernah dipuji seseorang saat perjalanan pulang ke rumah di Jak. I said thank you dan dia menyambung conversation. Tiba-tiba dia mojokin gua, nodong minta nomor wa. I told him, "Maaf, Pak, saya enggak mau ya." Dan semakin menjadi, "Tulis aja nomornya, Mbak. Nanti kapan-kapan—"