[4/4]
Ahh rasanya semesta tidak mungkin secepat itu untuk merancang inginku. Jika tidak diberi kesempatan, yaa tidak apa. Semoga kita sama-sama sembuh dengan cara terbaik.
[1/4]
Di beberapa malam yang kian larut, aku selalu mendamba perjumpaan denganmu.
Perjumpaan untuk meramu dan merangkai obrolan manis dengan sedikit senyum yang di dalamnya tak ada sedikit pun kepalsuan.
[3/4]
Melainkan, aku ingin berbincang hangat di tengah syahdunya kabut. Mencipta kehangatan di tengah dinginnya kabut yang mampu menusuk hingga ke sela-sela jari kaki.
[2/4]
Perbincangan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mampu membawa kita pada kata 'SEMBUH'.
Bukan obrolan di tengah bisingnya perkotaan, dan juga bukan obrolan via telefon yang aku maksudkan.
[2/3]
Perbincangan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mampu membawa kita pada kata 'SEMBUH'.
Bukan obrolan di tengah bisingnya perkotaan, dan juga bukan obrolan via telefon yang aku maksudkan.
[1/2]
Sama seperti hari-hari sebelumnya, aku mendamba sebuah perjumpaan dan obrolan hangat denganmu.
Bukan obrolan di tengah bisingnya perkotaan, tapi hangatnya dialog di tengah syahdunya kabut yang dinginnya merasuk hingga ke jari-jari kaki.
[1/2]
Jadi tempat mana lagi yang perlu aku kunjungi untuk benar-benar sampai pada kata 'usai' dan 'selesai'?
Semesta benar-benar membawa dan mengantarkan kita pada kesedihan yang tak berkesudahan kah? Ku harap bukan seperti itu maksudnya.
Dialog Hati 310/366
β€οΈ: "Kenapa orang selalu menyalahkanku? Aku banyak gagalnya ya?"
π§ : "Kita tidak akan pernah mampu memuaskan ego orang lain. Bukan kita yang gagal, mereka yang tak mampu memahami."
π£οΈ: "Terus berkembang ya, jangan patah terlalu cepat."
Dialog Hati 309/366
β€οΈ: "Aku kalah dari siapapun, bahkan atas diriku sendiri!"
π§ : "Siapa lagi yang kau jadikan pembanding? Orang-orang di atasmu?"
π£οΈ: "Bukankah kau lebih baik dari dirimu yang kemarin? Berhentilah merasa kalah!"
Dialog Hati 308/366
β€οΈ: "Orang bilang aku kurang bersyukur, padahal aku hanya meluapkan rasa resahku."
π§ : "Orang lain tidak akan memahamimu sejauh itu, maka abaikanlah perkataan mereka."
π£οΈ: "Manusia itu beragam, maka ambil energi positifnya saja."
Dialog Hati 307/366
β€οΈ: "Hari ini aku paham bahwa dunia bukan hanya tentang materi, aku malu pada mereka."
π§ : "Dunia akan terasa lapang kalau kau meluaskan rasa syukurmu."
π£οΈ: "Jangan mengeluh lagi, malu lah pada mereka yang terlihat jauh di bawahmu!"
Dialog Hati 306/366
β€οΈ: "Aku tidak pernah mendapat apa yang aku inginkan, semua hal tidak berpihak padaku."
π§ : "Kalau dunia terus berputar padamu, kau tidak akan pernah berkembang."
π£οΈ: "Telan sakit hari ini, esok akan membaik."
Terlihat ingin tapi seperti tidak ingin, terlihat tidak ingin tapi seperti ingin.
Jadi aku harus bersikap seperti apa tuan? Tetap menunggu atau harus memberi celah pada orang lain?
Tapi semoga do'a kita sama-sama menggema dan bertemu di langit
[2/2]
Kau abadi dalam setiap catatan yang aku tuliskan. Terima kasih telah menjadi warna dalam waktu yang cukup singkat.
Terima kasih karena pernah ada π«
[1/2]
Di kebetulan manapun, semoga masih ada kesempatan untuk bersua π₯
Do'a yang aku sematkan semoga kita saling berbahagia dengan jalan cerita yang semesta takdirkan.
Aku kira semesta mencoba memberi ruang untuk menyelesaikan apa yang sempat tertunda, ternyata aku yang terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang semesta yang memberi restu π₯
[2/2]
Bukankah do'anya sudah imbang? Tinggal menunggu bagaimana semesta bekerja. Jika pada akhirnya kita berbeda jalan, semoga hati kita selalu lapang akan sebuah penerimaan.
[1/2]
Aku meminta pada Tuhan agar aku tidak jatuh hati pada siapapun yang tidak ditakdirkan untukku. Dan untukmu, aku mohonkan pada Tuhan agar memberimu keyakinan yang penuh tentang apa yang ingin kau pilih.