Temenku, ayahnya meninggal karena covid 6 tahun lalu. Dia sama adiknya 2 bersaudara.
Adiknya dapet warisan rumah 3M + peternakan sapi, sekitar 60 ekor. Dia sendiri cuma dapet cash 1,5M.
Begitu ayahnya meninggal, pas ibunya masih berduka banget, dia malah KELUAR RUMAH.
To @lotussmalaysia , I really hope this gets your attention. (LOTUS’S SELAYANG)
Today was supposed to be a normal grocery shopping trip with my wife, who is currently 38 weeks pregnant and could give birth at any time.
Instead, it turned into one of the most humiliating experiences we’ve ever had.
After we finished paying for our groceries, this staff member stopped us right outside the cashier.
Without introducing himself or explaining the situation properly, he looked at my wife and asked:
“Akak simpan barang apa tu dalam perut?”
Imagine hearing those words directed at your wife, who is heavily pregnant.
I was shocked. I immediately asked him, “Barang apa yang wife saya curi? Siapa yang nampak?”
Instead of showing any evidence, he said they wanted my wife’s Buku Pink as proof that she was pregnant.
That wasn’t enough.
They also wanted my wife to show her stomach to prove she wasn’t hiding stolen items.
Let that sink in.
A woman who is 38 weeks pregnant was being asked to prove her pregnancy because someone thought her baby bump looked suspicious.
At that moment, I completely lost my patience.
I told them if they were accusing someone of stealing, then they needed to provide proof, produce the witness, and call the supervisor immediately.
Instead, we were made to stand there for almost 20 minutes, surrounded by other shoppers, while they tried contacting their supervisor.
My wife was already exhausted from carrying our baby, and now she had to endure public embarrassment on top of that.
When the supervisor finally arrived, I insisted that the cashier who made the accusation come forward.
When I asked her directly:
“Bila awak nampak isteri saya ambil barang?”
Her answer shocked me.
She admitted she never actually saw my wife taking anything.
Her suspicion was simply because my wife’s stomach “didn’t look like a pregnant belly” and she thought it looked like someone hiding merchandise.
So there was no witness. No evidence. No stolen item. Only an assumption.
Eventually, she apologised to my wife.
The male staff member who confronted us remained silent until I took a step forward to punch him. Only then did he apologise.
Honestly, this isn’t even about the apology anymore.
It’s about the way my wife was treated.
She is carrying our first child. She is due to deliver any day now.
Throughout this pregnancy, I’ve done everything I can to protect her, reduce her stress, and make sure she’s comfortable.
Then, in a matter of minutes, two staff members made her feel like a criminal based solely on the appearance of her pregnant belly.
No pregnant woman deserves to go through this.
No customer should be publicly accused without evidence.
If you genuinely suspect theft, follow proper procedures professionally.
Don’t make assumptions.
Don’t ask a pregnant woman to expose her stomach.
Don’t ask for her medical records to prove she’s pregnant.
And definitely don’t embarrass innocent customers in front of everyone.
I sincerely hope Lotus’s looks into this incident seriously. This isn’t just about us.
It’s about making sure no other pregnant mother has to experience the same humiliation.
Please do better.
To that guy yang confront us in the beginning, I’d say it was your lucky day because the only reason I tak tumbuk you was to avoid any violence in front of my wife.
And for you cashier lady, why kau tak jadi doktor je?
German doctor from viral video says he started taking martial arts because of attacks on medical workers.
I think we all know what demographic he is talking about.
Wawancara terhadap seorang investor: ia jelaskan alasan investor luar enggan berinvestasi ke Indonesia. Dia bercerita pengalamannya 5 tahun lalu saat di Indonesia. 😯
Bapak gue kerja 20 tahun di perusahaan yang sama
Gak pernah telat. Gak pernah absen. Pulang selalu bawa oleh-oleh kecil, kadang roti, kadang permen, kadang cuma koran
Tapi yang paling gue inget: dia gak pernah pulang dengan tangan kosong
Sampai Minggu lalu, gue nemu sesuatu di laci mejanya.
Gue gak bisa tidur malam itu
Guys, lu pada tahu nggak kenapa Habibie mencopot Prabowo dari Pangkostrat?
Dan yang lebih penting lu pada tahu nggak bahwa pencopotan itu terjadi dalam kurang dari satu hari setelah Habibie menerima laporan?
Ini bukan gosip.
Ini diceritakan sendiri oleh Habibie
dalam wawancara yang direkam tahun 2006.
Ini konteksnya dulu:
Mei 1998. Soeharto baru saja mundur.
Habibie dilantik sebagai presiden.
Indonesia dalam kondisi paling kacau sejak 1965 demonstrasi massal, kerusuhan, ekonomi hancur, dan kepercayaan publik terhadap negara di titik nol.
Habibie baru duduk di kursi presiden.
Belum hafal protokolnya.
Dia sendiri cerita waktu mau duduk di kursi kerja presiden, dia bingung mau duduk di mana karena tidak tahu posisi duduk yang benar sebagai presiden.
Sampai protokol yang kasih tahu.
Di tengah situasi sekacau itu Wiranto datang menemui Habibie dengan laporan yang sangat serius.
Ini isi laporan Wiranto:
Ada gerakan pasukan Kostrat yang bergerak menuju dua titik: Istana dan kawasan Kuningan tempat rumah Habibie berada.
Pangkostrat saat itu: Prabowo Subianto.
Wiranto juga menyampaikan satu hal lagi yang sangat penting: dia memegang Kepres yang memberikan kewenangan bertindak mengamankan situasi kalau keadaan membutuhkan "seperti Supersemar."
Bayangkan momen itu.
Presiden baru yang baru beberapa hari menjabat. Pasukannya sendiri bergerak tanpa perintah.
Dan Pangab datang dengan Kepres yang bisa memberinya kewenangan mirip Supersemar.
Habibie mendengar semua itu.
Diam sebentar.
Lalu menyimpulkan satu hal tentang Wiranto:
"Saya terkesan orang ini jujur."
Dan ini keputusan Habibie:
Tidak ada rapat panjang.
Tidak ada sidang kabinet darurat.
Tidak ada negosiasi.
Habibie memberikan petunjuk langsung kepada Wiranto:
"Sebelum matahari terbenam Pangkostrat diganti.
Dan kepada penggantinya ditugaskan untuk segera mengembalikan semua pasukan Kostrat ke tempatnya masing-masing."
Satu kalimat perintah.
Satu hari. Selesai.
Prabowo dicopot dari Pangkostrat sebelum hari itu habis.
Dan ini pertemuan yang paling mengejutkan setelahnya:
Prabowo tidak terima.
Dia datang langsung ke ruang kerja presiden menemui Habibie.
Habibie sebenarnya bisa menolak.
Tidak ada kewajiban protokol untuk menerima perwira yang baru dicopot tanpa permintaan formal.
Tapi Habibie menerima karena dua alasan pribadi:
Satu — ayah kandung Prabowo adalah Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang sejak Habibie SMA sudah jadi idolanya. Keluarga yang sangat dihormatinya secara intelektual.
Dua — Habibie menduga mungkin ada titipan pesan dari ayah mertua Prabowo yaitu Soeharto yang saat itu sudah tidak bisa ditemui langsung.
Tapi yang terjadi di ruangan itu sama sekali tidak seperti yang Habibie perkirakan.
Prabowo menurut cerita Habibie sendiri langsung berkata:
"Anda ini presiden apa? Naif."
Dan ini jawaban Habibie yang menurut gue paling berkarakter dalam seluruh cerita ini:
Tidak marah.
Tidak tersinggung.
Tidak balas dengan ancaman atau kemarahan.
Habibie menjawab santai:
"Masa bodoh.
Yang penting saya presidennya.
Saya yang menentukan finish."
Lalu Habibie menambahkan refleksi yang sangat jujur: banyak orang memandangnya sebelah mata "Habibie kan tukang, bisa buat kapal terbang, mejanya penuh teknologi, tidak ngerti yang lain."
Tapi bagi Habibie justru itu keuntungan.
Karena dia tidak merasa terhina oleh kata-kata itu.
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Habibie adalah presiden yang legitimasinya paling dipertanyakan dalam sejarah Indonesia.
Naik bukan karena dipilih rakyat.
Naik karena Soeharto mundur.
Banyak yang meremehkannya.
Banyak yang menganggapnya tidak punya otoritas nyata.
Banyak yang berpikir dia hanya boneka transisi yang bisa dikendalikan.
Tapi dalam momen paling krusial itu ketika pasukan bergerak tanpa perintah menuju Istana dan rumahnya sendiri Habibie tidak panik.
Tidak ragu.
Tidak menunggu situasi makin memburuk.
Dia memberi satu perintah.
Sebelum matahari terbenam.
Dan ketika perwira yang dicopot itu datang menyebutnya naif di mukanya langsung dia menjawab dengan ketenangan orang yang tahu persis di mana otoritasnya berdiri.
Yang penting saya presidennya.
Saya menentukan finish.
Habibie mencopot Prabowo
bukan karena dendam pribadi.
Bukan karena politik.
Tapi karena ada gerakan pasukan yang tidak sesuai struktur komando bergerak menuju Istana dan rumah presiden tanpa perintah resmi.
Dan dalam sistem militer manapun di dunia itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan.
Tidak peduli siapa yang memimpin gerakan itu.
Tidak peduli seberapa dekat hubungan personalnya dengan presiden.
Habibie mungkin dianggap naif oleh banyak orang.
Tapi orang yang dianggap naif itu dalam satu hari mengambil keputusan militer yang mungkin menyelamatkan Indonesia dari skenario yang jauh lebih buruk dari yang benar-benar terjadi.
Dan 27 tahun kemudian perwira yang dicopot itu menjadi presiden.
Sementara yang mencopot sudah lama berpulang dan dikenang sebagai salah satu tokoh paling bersih dalam sejarah republik ini.
Sejarah punya cara tersendiri untuk menjawab siapa yang naif dan siapa yang tidak.
Gue punya tetangga. Sebut aja Pak Hendra.
Dua tahun lalu dia masih naik motor beat butut ke warung.
Belinya eceran kopi sachet, rokok sebatang, mie instan satu bungkus.
Sekarang?
Alphard putih parkir di depan rumah.
Renovasi total.
Pagar besi custom.
Kamera CCTV empat titik.
Usahanya?
Katanya bisnis properti.
Yang gue tahu dia jual tanah warisan bapaknya di pinggir kota yang tiba-tiba nilainya meledak karena ada tol baru lewat sana.
Satu malam kaya.
Bukan proses panjang.
Bukan kerja keras bertahun-tahun.
Rejeki nomplok yang nyata.
Dan yang berubah bukan cuma mobilnya.
Cara dia nyapa orang berubah.
Dulu kalau papasan di gang senyum duluan, tanya kabar, kadang nawarin kopi.
Sekarang?
Jalan lurus.
Tatapan ke depan.
Senyum tipis yang terasa seperti basa-basi yang tidak dia nikmati.
Anaknya yang dulu main bareng anak-anak kampung sekarang sekolah di tempat lain.
Istrinya yang dulu arisan bareng ibu-ibu kompleks sekarang jarang kelihatan katanya sibuk
Bukan jahat.
Bukan sombong yang ngomong kasar.
Tapi ada jarak yang tumbuh perlahan, tanpa drama, tapi nyata.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Komentar orang kaya lebih sopan dari orang miskin itu tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang lebih akurat mungkin ini:
Orang kaya punya lebih banyak ruang untuk terlihat sopan.
Mereka tidak dalam kondisi terdesak.
Tidak rebutan antrian.
Tidak stres soal tagihan yang jatuh tempo besok.
Tidak capek setelah 12 jam kerja berdiri.
Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi otak punya lebih banyak kapasitas untuk berpikir tentang cara bicara, cara bersikap, cara memilih kata.
Itu bukan moral superiority.
Itu privilege dari rasa aman.
Dan yang terjadi pada Pak Hendra adalah pola yang gue lihat berulang pada OKB Orang Kaya Baru di Indonesia.
Kekayaan datang lebih cepat dari kesiapan mental untuk menghadapinya.
Tiba-tiba ada gap antara dia dan lingkungan lamanya. Dan gap itu tidak nyaman untuk kedua belah pihak. Tetangga lama mulai hitung-hitungan dulu dia biasa aja, sekarang sok.
Pak Hendra sendiri mungkin bingung mau tetap akrab tapi takut dimanfaatkan, mau jaga jarak tapi takut dibilang sombong.
Tidak ada pilihan yang benar.
Apapun yang dia lakukan akan disalahkan oleh satu pihak.
Dan ini yang paling jarang dibahas:
Sopan santun itu bukan produk dari kekayaan.
Tapi kekayaan memberikan kondisi yang lebih kondusif untuk menampilkan sopan santun itu.
Orang yang kelelahan, tertekan, dan tidak punya ruang bernafas secara psikologis memang lebih mudah tersulut.
Bukan karena karakternya buruk. Tapi karena resources mentalnya sudah habis sebelum hari berakhir.
Dan orang kaya yang kelihatan lebih sopan belum tentu lebih baik karakternya.
Mereka hanya punya lebih banyak energi sisa untuk menjaga penampilan sosial mereka.
Jadi kalau ada yang bilang orang kaya lebih sopan:
Mungkin. Tapi tanya dulu sopan karena memang baik karakternya?
Atau sopan karena hidupnya tidak sedang dalam mode survival?
Dua hal yang sangat berbeda.
Dan Pak Hendra?
Gue tidak judge dia.
Gue hanya berharap suatu hari dia sadar bahwa Alphard putih itu tidak akan pernah bisa menggantikan rasa nyaman yang dia punya waktu masih bisa senyum duluan di gang sempit itu.
sedikit curhat..
2 bulan lalu aku tweet ini dan banyak yang sarkasin wkwkwkwk
manusia tuh aneh ya.. ada yang flexing rumah, tanah, mobil, pc baru
tapi ga di hujat..
ini cuma 75 juta kok di hujat yah? 🙂😀
"penyampaian mu itu seakan akan memberi mimpi dan bikin iri aja"
kita udah di generasi baru dimana teknologi ga guna kalo user nya ga kreatif 🙏🏿 izinn 🫸🏿
disaat itu aku belum terlalu paham dengan monet dan cara X bekerja
tapi tekad aku cuma satu..
aku mau branding diri yang bagus, pengen ngajarin orang banyak, dan kerja di Web3
caranya? pake teknik kayak gini
aku mau mereka yang dateng sendiri ke aku, bukan aku yang nyari mereka
gimana?
- flexing
- jujur
- bertanggungjawab
yes, aku flexing
tapi aku jujur 😋
aku share dapet duit itu dari mana, dan kenapa bisa aku dapet
impact nya?
+ banyak yang dateng minta tutor
+ followers naik drastis
+ eligible monetization
+ relasi yang gacor gacor
+ di follow folkative
mimpi ku terwujud
- jadi CT abal abalan
- ada group sendiri
- bisa buat channel
- tawaran kerja dateng sendiri
intinya jadi diri sendiri aja, jangan pernah jadi orang yang anti kritik
belajar untuk pahami sekitar, analisa, dan action
sengaja post jem segini supaya ga rame.. cape ngetik
jujur dulu saya mikir kaya gini pas tau abang saya gaji 10 juta saya masih kuliah.
1 tahun aja kan harusnya udah ratusan juta, masa sih dia enggak punya tabungan?
masa sih saya minta enggak dikasih?
masa sih enggak bisa beliin ps 4 buat saya? wkwkwkw mulai halu 😂
ternyata hidup tidak sesimpel itu nder, blm bayar pajak, asuransi, makan, hidup sehari2, blm kalau punya hobi, bayar kost, nabung investasi, ada cicilan, nabung buat nikah dll.
emak di kampung tidak paham perjuangan kita ya di sangkanya tiap hari hambur2 duit hidup bergelimangan harta tidur dengan uang, padahal itu aja ngirit2 ya 🥲