🔥 X-SCHOOL 2026 : HABLUN MINNAL IDOL🔥
X-School is back! Ruang jumpa dan belajar Islam bareng buat para K-Wavers hadir kembali tahun ini 💫
💻 FULL ONLINE CLASS
📅 EVERY FRIDAY NIGHT
🩷💙 More info: https://t.co/UHvbWJR2Wp 💙🩷
#xschool2026#hablunminnalidol
Knetz ngeluh kalau jadi fans idol sekarang jauh lebih mahal dibanding dulu, dan menurut mereka itu juga alasan kenapa fans sekarang lebih galak. 😭
Dulu tiket konser masih murah dan fansign benar-benar random (gak perlu beli album segunung). Jadi saat idol bikin kesalahan, banyak fans yang masih bisa memakluminya.
Tapi sekarang album, fansign, konser, membership, sampai merchandise harganya makin tinggi. Jadi kalo idol bikin masalah dikit, fans berasa punya hak untuk maki-maki.
Ada yang nambahin juga, dulu memang sudah ada fansite master (홈마) yang memotret idol, tapi fans yang di barisan depan cuma sibuk merekam pakai HP sepanjang konser atau orang yang mengangkat hand banner besar-besar itu nggak sebanyak sekarang.
Sekarang kalau idol bilang,
"Tolong turunkan HP dan nikmati konser kami bersama!"
Fans bakal langsung membalas, "Memangnya kalau nggak rekam terus aku harus ngapain? Harga tiket konser mahal banget."
Knetz lain juga komentar, mengibaratkannya seperti membeli buah. Kalau beli satu keranjang buah murah lalu ada beberapa yang busuk, orang mungkin masih memakluminya. Tapi kalau membeli buah yang dikemas premium seharga 100.000 won di department store mewah dan ternyata ada yang busuk, pasti langsung komplain ke customer service.
Intinya, menurut mereka, bukan karena fans generasi sekarang lebih kejam. Semakin mahal biaya menjadi fans, semakin tinggi pula ekspektasi dan semakin kecil toleransi terhadap kesalahan idol.
Gila ya ini negara galaknya ke rakyat doang, giliran ada tentara yang tewas akibat serangan Israel cuma kasih statemen yang lembek.
Itu sekelas tentara terbaik yang dikirim dalam misi perdamaian loh, bagaimana kita sebagai orang biasa jika tewas di negara lain akibat serangan sebuah negara.
Enggak ada harganya memang nyawa rakyat Indonesia.
Guys, Raymond Chin baru ngebahas sesuatu yang menurut gue harusnya diajarkan di sekolah tapi nggak pernah ada di kurikulum manapun.
Dan setelah gue dengerin gue ngerti kenapa.
Problem paling gede Indonesia yang bikin dia nggak bisa jadi negara maju
bukan sumber daya alam.
Bukan SDM.
Tapi sistem.
Di Indonesia ada istilah Sembilan Naga
segelintir konglomerat yang menguasai sebagian besar ekonomi nasional.
Bukan rahasia.
Bukan teori konspirasi.
Ini fakta yang bisa lo trace dari struktur kepemilikan bisnis di Indonesia.
Tapi yang menarik dari analisa Raymond dia bilang ini bukan salah naga-naganya.
Ini salah pemimpinnya.
Dan itu yang bikin gue diem sebentar.
Karena ini counter-intuitive.
Korea Selatan vs Indonesia bedanya di mana?
Korea Selatan juga punya konglomerat yang mendominasi ekonomi namanya chaebol.
Samsung, LG, Hyundai, SK Group.
Mereka kontribusi sekitar 60% dari GDP Korea.
Mirip sama Indonesia kan?
Tapi bedanya satu hal yang fundamental
Di Korea, pemerintah mengarahkan chaebol ke sektor-sektor strategis yang bikin negara maju. Samsung masuk elektronik.
Hyundai masuk otomotif.
SK Group masuk high-tech manufacturing.
Mereka didesain untuk bersaing di level global dan membawa teknologi masuk ke Korea.
Di Indonesia?
Konglomerat kita banyak bergerak di sektor yang justru harusnya dikontrol negara air, pangan, energi, real estate.
Sektor yang kalau dikuasai swasta, rakyat biasa yang paling kena dampaknya.
Dan ini yang bikin investasi asing ogah masuk ke Indonesia.
FDI Indonesia cuma 1,9% dari GDP.
Vietnam sudah 4,4%. Singapura? 30% dari GDP.
Dan Raymond kasih tahu kenapa
Investor asing butuh satu hal sebelum taruh triliunan rupiah di suatu negara
kepastian.
Kepastian hukum.
Kepastian regulasi.
Kepastian bahwa aturan yang berlaku hari ini masih berlaku tahun depan dan nggak tiba-tiba berubah karena ada kepentingan politik atau konglomerat tertentu.
Dan di Indonesia kepastian itu susah banget dijaga.
Singapore is a Nation of Law.
Indonesia is a Nation of Lawyers.
Quote dari Gita Wiryawan yang kata Raymond nempel banget.
Dan gue rasa lo ngerti maksudnya.
Kenapa sistem ini bisa terbentuk?
Raymond tarik akar masalahnya jauh ke belakang ke zaman kolonial Belanda.
Selama 300 tahun dijajah, kita nggak cuma dikeruk sumber dayanya.
Kita juga diajarin satu culture yang berbahaya korupsi, nepotisme, dan budaya menjilat yang berkuasa bukan untuk cari cuan, tapi untuk bertahan hidup.
Dan etnis Tionghoa yang waktu itu diposisikan sebagai middleman minority selalu kena diskriminasi, keamanannya terancam akhirnya membangun hubungan dengan penguasa lewat suap sebagai mekanisme survival.
Hubungan inilah yang jadi fondasi kapitalisme kroni Indonesia sampai sekarang.
Kapitalisme kroni itu bukan otomatis buruk.
Raymond tegas di sini kapitalisme kroni itu bisa bagus kalau pemimpinnya benar.
Di Korea, chaebol diarahkan untuk kemajuan negara.
Inovasi.
Teknologi.
Ekspor.
Bersaing global.
Di Indonesia, konglomerat diarahkan untuk... kepentingan pribadi dan kelompok. Dan itu snowball effect-nya bisa terasa 100 sampai 1000 tahun ke depan.
Solusinya?
Raymond sebut satu konsep yang Indonesia pernah coba tapi kemudian mundur.
Kabinet Zaken.
Konsepnya simpel tapi revolusioner dalam konteks Indonesia kabinet yang diisi berdasarkan profesionalitas dan keahlian, bukan berdasarkan hutang budi politik atau titipan partai.
Pemimpin yang kuat.
Meritokrasi.
Anti-korupsi yang beneran tegas.
Bukan yang kampanye anti-korupsi tapi tetap tebar jabatan ke kroni.
Kalau ini diterapkan stabilitas hukum terjaga, investasi asing masuk, lapangan kerja terbuka, SDM naik level, korupsi berkurang.
Dan Indonesia yang diprediksi masuk top 5 ekonomi dunia di 2050 bukan cuma mimpi tapi bisa jadi kenyataan lebih cepat dari yang kita kira.
Tapi ini yang paling bikin gue mikir dari semua yang Raymond bilang:
Sebagai warga negara Indonesia, kita berhak untuk menagih pemimpin yang kuat untuk bantu membawa kita ke kesejahteraan.
Bukan nunggu.
Bukan pasrah. Tapi menagih.
Guys… jadi fans tuh nggak harus ikut semuanya kok.
Nggak apa-apa banget kalau kamu nggak beli album tiap comeback. Nggak datang konser juga nggak bikin kamu “kurang fan”. Dan nggak perlu ngejar idol ke mana pun mereka pergi.
Support itu bentuknya banyak, dan semuanya valid. Yang penting kamu enjoy, nggak maksa diri, dan tetap waras terutama finansial & mental kamu 💛
Fandom itu harusnya fun, bukan pressure.
serius.. konseran justru makin ngerasa kesenjangan antara fans dan idol. kek how ppl can be "bim" kalo lu sama idol lu beda banget, abis konseran lu harus jalan kaki, nenteng sepatu boots, cari transport..
@legendhwa Makanya nge K-Pop yang realistis aja sih, posisikan mereka sebagai penghibur (bukan LC or semacamnya yah) dan posisikan diri kita sebagai orang yang butuh hiburan. Jadi yaudh anggap aja angin lalu, gausah terlalu mimpi buat jadiin bias sebagai orang penting di hidup kalian.
Dear mutual ku, kalo aku sering nyebut pacar ku cinta ku sayang ku bkn berarti ak pengen memiliki ya, gini2 ak msh punya akal sehat dan tau diri kok😊tp bnrn dah gua tuh secinta itu sm mereka ber6 tp gatau perasaan cinta model apa, intinya ada rasa gua pengen sayang2 mereka trs.
guys jangan stop sholat ya, walau rasanya hampa, walau sholat diakhir waktu, walau sholat secepat kilat, walau sholat masih suka mikir aneh aneh, ga papaa jalanin aja dulu masih bisa berubah pelan pelan kok yang penting jangan sampe ninggal sholat yaa
Ngefangirl secukupnya, ga harus koleksi pc, ga harus nonton konser terus, ga harus punya banyak merch.
Ngefangirl sewarasnya, jangan bela idol sampe nyakitin manusia lain, hukum tabur tuai itu nyata.
Siapin ruang kecewa, cari hobi lain biar ga bergantung ke idol.
@icedbubbleteeaa sumpaaaah yg bikin kesel tu mereka sampe ngata ngatain orang cuma perkara ga ngevote jirrr. padahal kpopan mah biar ga jenuh di rl tp klo dibikin jenuh jg di kpop siapa yg gamales cobaa
-STAR GUYS PLEASE HINDARI LAGU LAGU DARI IDF INI!!!!!!!!!!!! LAGU DIA BANYAK SAMPE GA CUKUP, SILAHKAN CEK DI SEARCHING YA 🙏
MASIH BANYAK LAGU LAIN YANG GA NYUMBANG KE IDF/ISRNREAL. TOLONG BANTU RT BIAR FANS LAIN TAU🙏
https://t.co/n4IbNhkJMy