Pemerintahan yang bodohnya ke semua level. Diplomasi tidak bisa, empati tidak punya.
Even tetangga terdekat aja bisa diplomasi, negara ini lebih memilih cari negara lain. Presiden, Menlu, Menteri ESDM buruk semua.
Pemerintahan terburuk dalam sejarah bangsa Indonesia.
Temen gue cowok. Sebut aja Rama.
Dia ngerokok udah dari SMA. Bukan perokok berat tapi konsisten. Sebungkus bisa 3-4 hari. Kelihatannya kecil, tapi kalau dihitung sebulan? Lumayan juga.
Terus dia punya pacar. Dan pacarnya ini tipe yang natural banget paling pol makeupnya bedak sama lip balm. Nggak pernah minta apa-apa, nggak pernah nuntut dibeliin ini itu.
Justru itu yang bikin Rama kesambet.
Suatu hari dia ngitung-ngitung sendiri.
Uang rokok sebulan sekitar 150 sampai 200 ribu. Kecil memang. Tapi dikali 12 bulan? Hampir 2 juta lebih. Habis begitu aja. Dibakar. Literally dibakar.
Dan dia mikir "Duit segitu bisa buat beliin cewe gue skincare yang dia sendiri nggak pernah minta."
Bukan karena disuruh. Bukan karena ada perjanjian apapun.
Rama mutusin sendiri buat berenti ngerokok. Pelan-pelan. Mulai ngurangin sebatang demi sebatang. Dan uang yang biasanya kepake buat rokok dia simpen.
Sebulan pertama berat. Tangannya sering nggak ada kerjaan. Mulutnya pengen ngisep sesuatu. Tapi setiap kali pengen nyerah, dia inget ngapain dia lakuin ini.
Tiga bulan kemudian dia beliin cewenya skincare pertama.
Bukan yang mahal-mahal. Tapi dipilihin sendiri, riset sendiri, tanya-tanya sendiri mana yang cocok buat jenis kulit cewenya.
Cewenya nangis waktu nerima. Bukan karena barangnya. Tapi karena tau dari mana uangnya.
Dan ini yang bikin gue respect sama Rama
Dia nggak jadiin ini bahan drama. Nggak posting di mana-mana. Nggak minta pujian.
Dia cuma bilang ke gue waktu gue tanya kenapa tiba-tiba berenti ngerokok
"Gue mau ngasih sesuatu yang lebih berguna dari asap."
Di tengah banyaknya cerita cowok yang ngitung-ngitung pengorbanan dan minta balasan Rama cuma diem dan lakuin.
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.