Gue heran sama cewe feminis setengah matang
Secara sadar jadiin bapaknya sebagai standar suami
Tapi tantrum klo ada laki laki jadiin ibunya sebagai standar istri
Menkes bilang ke prajurit TNI-Polri di Nusakambangan:
"Sehebat-hebatnya yang meninggal tertembak, kebacok, ketusuk, jauh lebih sedikit daripada stroke, jantung. Percaya sama saya."
Oke, gue percaya.
Tapi justru itu yang bikin aneh.
Tiap tahun negara gelontorin puluhan triliun buat jet tempur, kapal perang, drone canggih , alasan resminya: demi nyawa prajurit.
Tapi pembunuh nomor satu prajurit itu ternyata bukan musuh di medan tempur.
Pembunuhnya kolesterol, tensi, gula darah , penyakit yang harusnya bisa dicegah sama gaji layak, jam kerja manusiawi, dan akses kesehatan rutin yang bukan modal CKG kalau ulang tahun doang.
Menhan sendiri udah ngaku: gaji prajurit kecil karena duitnya "harus" ke alutsista dulu.
Pertanyaannya simpel , kalau ternyata musuh terbesar prajurit kita itu duduk di kantin, bukan di garis depan, kenapa anggaran kesejahteraan & kesehatan mereka yang selalu ngantre paling belakang?
๐ค
Bukan:
Hate seeing people exercise.
Tapi:
Just hate seeing rich people.
Karena kalau yang diposting itu jogging keliling kompleks, lari CFD, atau futsal tiap Jumat, hampir gak ada yang ribut.
Orang bereaksi bukan karena aktivitasnya.
Tapi simbol yang ikut nempel di aktivitas itu.
Pilates.
Padel.
Membership jutaan.
Outfit olahraga belasan juta.
Brunch setelah workout.
Story estetik jam 10 pagi di hari kerja.
Olahraganya cuma 1 jam.
Lifestyle-nya yang dipamerin seharian.
Dan ketika sesuatu terasa seperti penanda kelas sosial, komentar sinis pasti lebih gampang muncul.
Lucunya, kalau besok pilates bisa dilakukan gratis di lapangan dekat rumah, kemungkinan besar separuh nyinyirnya langsung hilang.
Jadi masalahnya bukan exercise.
Tapi privilege yang kelihatan lewat exercise.