@2DimensiMenfess “Sayang diri sendirinya udah kok.” Kanaya menanggapi ringan, semenjak tanpa perlu diberitahu pun ia sudah menyayangi dirinya sendiri. “Sayang kamu aja yang belum.”
(cont.)
ia meminumnya dengan cepat hingga tak ada teh tersisa di cangkir, berusaha mengabaikan rasa yang ternyata lumayan pahit di lidahnya.
“... Pahit.” Kanaya berkomentar pendek sesaat setelah cangkir itu ia taruh kembali di depan Zosar.
[@LOUSYWARLOCK]
(cont.)
sepertinya berpotensi tak akan menjadi favorit indra pengecapnya juga tak ia komunikasikan dengan sang penyihir. Pokoknya, untuk saat ini dia percaya dengan laki-laki ubanan itu.
Kanaya meniupi sejenak teh di cangkir yang berada di kuasanya, kemudian tak lama (cont.)
@miIiksemesta Kernyit seketika muncul di dahi saat pergelangan tangannya ditarik sang lelaki. Meski tidak sakit, tapi dari yang terlihat, Nathan tidak hendak ingin menerima penolakan. Karenanya kernyit tadi kini hilang, berganti dengan senyum miring si gadis.
“Awas dibikin ondel-ondel.”
@buayagamteng “Nggak.” Nggak cantik dan juga nggak ada apa-apa yang sebenarnya mau dikatakan Kanaya pada si adam. Hanya iseng saja karena ia tidak ada kerjaan.