kayaknya emang genre drakor saya tuh ini deh. beralih dari genre romance lucu-lucu ke genre revenge 🔥
atas itu potongan Teach You a Lesson, ada yg tau gak yg bawah judul dramanya apa?
"kalau tak bisa berbuat baik, setidaknya jangan berbuat jahat."
satu kalimat yg menurutku merangkum seluruh drama ini. semua problemnya REAL: pendidikan, ketidakadilan, sampai politik. bukan cuma menghibur, tpi juga bikin mikir: "andai BPHP ada di Indo." wajib nonton ASELI 🔥
@kdrama_menfess semua kasus dari drama ini kurang lebih banyak ambil dari kisah nyata, writernya bilang sendiri kalau saat buat ceritanya dia bener2 riset dulu dari dokumenter, berita dan lainnya
aktor ntu ngga lagi lindungin dari peluru menurut gua, karena nolak ntu drama padahal bener2 bakal gila klo dia yang main but gpp kita bisa liat orang lain yang manteb cihuuy
someone asked for a korean swearing tutorial and inspector han-rim delivered. she just dropped every curse word in the dictionary without taking a breath.
the fact that there are no subtitles makes it 100x funnier. you don't even need to speak korean to feel the sheer rage radiating through the screen.
CHEEBBAALL she literally lost her mind !! 🤣💀 watching her switch from a badass agent to a screaming mess is the gap-moe we didn't know we needed.
#TeachYouALesson #KimMooYul #JinKiJoo #PyoJihoon
Ada satu peristiwa di real life yang mirip dengan kejadian di episode 3 drama Teach You a Lesson.
Seorang guru SMA putri di Busan dikeluarkan dari kegiatan mengajar, gagal menikah, dan menderita tekanan mental setelah menerima tuduhan palsu atas pelecehan seksual pada siswinya.
Pada 13 Oktober 2025, program JTBC "Case Manager" mengungkap kasus tuduhan palsu yang dialami seorang guru SMA putri di Busan.
Guru yang disebut sebagai Guru A telah mengajar selama 5 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, perhatian, dan lembut sehingga cukup populer di sekolah. Ia diangkat menjadi seorang guru etika.
Seorang siswi kelas 1 bernama B selalu mengikuti pelajarannya dengan sungguh-sungguh. Pada semester pertama tahun 2024, Siswi B pernah meminta nomor kontak pribadi Guru A dengan alasan ingin bertanya mengenai pelajaran. Karena menganggap Siswi B sebagai murid yang baik, A dengan senang hati memberikan nomor teleponnya. Namun sejak saat itu, Siswi B mulai sering menghubunginya untuk urusan pribadi.
Siswi B mengirim pesan kepada Guru A bahwa dirinya pernah menjadi korban bullying di masa lalu dan sering mengatakan bahwa ia "ingin mati". Tak hanya itu, ia juga meminta Guru A datang menemuinya pada akhir pekan untuk bertemu secara pribadi. Bahkan minta diantar untuk mengikuti lomba seni.
Lama-kelamaan, orang-orang di sekitar mulai mengatakan bahwa Siswi B tampaknya menyukai Guru A. Karena itu, Guru A memutuskan untuk menjaga jarak dengan siswi tersebut.
Guru A mengatakan bahwa sebaiknya jangan terlalu sering bertemu. Lagipula Siswi B sudah terlihat ceria dan mulai memiliki banyak teman. Guru A juga menegaskan bahwa ia ramah karena profesionalisme sebagai guru. Di akhir pekan mereka hanya orang asing yang memiliki kehidupan sendiri.
Setelah seminggu berusaha memberi batasan, Guru A justru dilaporkan oleh Siswi B dan seorang temannya atas tuduhan pelecehan seksual. Dalam pemeriksaan polisi, Siswi B dan temannya mengaku saat konseling, Guru A memijat betisnya, mengelus tangan, memegang lengan, serta menyentuh dada.
Akibat kejadian itu, Guru A dikeluarkan dari kegiatan mengajar. Namun pada bulan Maret 2025, kejaksaan memutuskan untuk menghentikan kasus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:
• Kesaksian Siswi B dan temannya tidak konsisten,
• Rekaman CCTV di sekolah menunjukkan pada saat kejadian, Siswi B terlihat tersenyum dan menyampaikan rasa hormat,
• Sehari setelah kejadian, Siswi B menulis surat tangan kepada Guru A bahwa ia ingin menjadi guru sepertinya.
Setelah dinyatakan tidak bersalah, Guru A memutuskan kembali ke sekolah untuk memulihkan nama baiknya. Namun, respons pihak sekolah justru sangat dingin. Pihak sekolah terus mendorongnya untuk pindah agar tidak menimbulkan masalah. Ketika Guru A ingin mengajukan sidang Komite Perlindungan Hak Guru, pihak sekolah justru berkata bahwa Guru A jadi orang yang bakal menghancurkan hidup para siswa.
Hingga semester kedua tahun 2025, Guru A masih sepenuhnya dikeluarkan dari jadwal kegiatan mengajar dan dikucilkan di lingkungan sekolah. Bila tidak mau pindah, ia diancam akan dikeluarkan oleh kepala sekolah dengan wewenang jabatannya.
Sementara itu, kedua siswi yang memfitnahnya masih menjalani kehidupan sekolah dengan normal. Mereka bahkan tidak pernah meminta maaf. Karena itu, Guru A akhirnya melaporkan keduanya atas dugaan laporan palsu.
Guru A juga menceritakan dampak tuduhan palsu tersebut dalam hidupnya. Setelah mendengar kabar tersebut, ibunya jatuh pingsan. Ia juga gagal menikah dengan tunangannya. Guru A mengalami guncangan mental yang berat hingga didiagnosa menderita gangguan stres dan depresi.
Ia menambahkan, "Saya menjadi guru karena menyukai anak-anak. Namun sekarang saya sudah kehilangan keberanian dan kepercayaan diri untuk berdiri di depan para murid. Saya bahkan sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan profesi guru."
-------------------
Based on article by Newsis (Reporter Choi Hyunho)
Indonesian summary by jeongjeonginuna