Bagi yang belum yakin tentang rapor merah Prabowo-Gibran:
1. Nilai tukar rupiah terendah sepanjang sejarah
2. Kabinet tergemuk sepanjang sejarah
3. Presiden paling sibuk ke luar negeri dan wapres paling tidak berguna sepanjang sejarah (51 kunjungan dalam 2 thn, sementara Jokowi 58 dalam 2 periode)
4. Nominal utang & suku bunga APBN terbesar sepanjang sejarah
5. Proyek Korupsi termahal sepanjang sejarah
6. Praktek Nepotisme terparah sepanjang sejarah
7. SDM generasi muda terendah sepanjang sejarah
Pada kebayang ga sih, sebenernya Indonesia tuh punya beberapa hal yang sangat powerful seperti:
- QRIS
- PT KAI
- BPJS
- Beasiswa Bidikmisi/KIPK
Bayangin dulu, bayangin aja misal semua inovasi ini di scale up dan dirapikan, dan di duplikasi di semua lini.
Artinya sebenernya kita tuh bisa jd negara maju gaes wkw. Di US aja kl ga mampu bayar kuliah, musti studen loan. Di UK, asuransi kesehatan NHS bapuk. Dsb dll dkk.
Masalahnya bkn bisa atau enggak, mungkin ya.
Orang miskin JAUH lebih kalkulatif daripada orang kaya, tapi justru ini yang bikin mereka susah keluar dari kemiskinan.
- Ga ambil kredit usaha bukan karena gamau berkembang, tapi kalo gagal bisa jadi keluarga ga makan
- Ga berani merantau, gabisa go big or go home, bukan karena kurang ambisius tapi kalo gagal gada yg bisa diandalkan
- Ga mau coba teknologi baru, bukan karena gamau berkembang tapi karena coba-coba itu hasilnya belum tentu
- Ga sekolahin anaknya bukan karena underinvestasi pendidikan, tapi sistem pendidikan yg dianggap gak bisa kasih jaminan orang selalu sukses ketika punya pendidikan tinggi
Tapi kok ada org miskin yg sukses?
"Siapapun bisa naik kelas kalau mau usaha" -- ini asumsi dan terlalu over simplifikasi.
Orang miskin yg berhasil naik kelas itu hampir selalu punya kombinasi kondisi eksternal yg mendukung, misalnya:
- lahir di waktu ekonomi lagi tumbuh
- tinggal di daerah yang punya akses
- punya satu anggota keluarga yang udah lebih maju dan bisa jadi jembatan
- dapet akses pendidikan yang kebetulan berkualitas
- ga kena bencana / sakit parah / kritis di momen krisis
ini bukan gue yg bilang, tapi Abhijit Banerjee--penerima nobel Ekonomi.
Nggak punya sense of crisis & nggak peduli itu BEDA.
Pemerintah Indonesia bukan nggak punya sense of crisis. Mereka emang NGGAK PEDULI. Rakyat mati ya udah, kalo hidup disuruh bayar pajak—ini doang yg mrk peduli. Coba rakyat menolak bayar pajak, sense of crisis mrk pasti nyala.
indonesia enggk merdeka dengan perlawanan, kita merdeka dengan bayar. 4.3 milyar gulden sekitar 17T saat itu atau sekitar 255T sekrang. baru lunas di 2002.
banyak yg bilang, inilah alasan indonesia miskin sampai sekarang. krn kita gk memulai negara dari 0. tapi, mulai dari minus 255T.
bayangkan, dari 1949 sampai 2002, butuh 53 tahun buat lunas.
kalian tau gak sebesar apa 255T itu?
sejumlah 9 bulan MBG :))
"Politik ga ngaruh buat hidup gw"
Makan tuh anjing rupiah melemah. Biaya hidup berpotensi naik, BBM naik, dan PHK bakal terjadi di mana mana, dan yg pasti buat nutup defisit negara bukannya potong anggaran program MBG ga guna, mereka mungkin bakal nyekik dari yg lu punya wkwkwk
INNALILLAHI..... Telah dibunuh dengan keji bapak H. Ermanto Usman SETELAH tampil di podcast Bongkar NAMA-NAMA BESAR KASUS KORUPSI JICT (Jakarta International Container Terminal)
https://t.co/NtfH0YPz7A
Yoi. Fans k-pop di Indonesia ini sering melakukan apa yg disebut dlm ekonomi digital sbg unpaid labor alias buruh gratisan.
Mereka berpromosi gratis, menerjemahkan konten, sampai2 mau2nya melakukan pembelaan masif kpd idolanya di media sosial.
Tp dr POV ekonomi industri Korea, fans k-pop Indonesia ini cuma angka2 yg bisa dieksploitasi. Mereka dipandang sbg sekelompok manusia2 yg cuma berguna dlm efisiensi biaya pemasaran.
Nah, ketika suatu massa fans K-Pop Indonesia cuma dianggap sbg angka untuk mendongkrak popularitas, industri kreatif Korea memanfaatkan hasil eksposur fans Indonesia tsb agar bisa menjual artis2nya dgn harga lebih mahal ke pasar Amerika dan Eropa.
Dlm konteks sosiologi-ekonomi, ketika seseorang memberikan tenaga secara cuma2 demi keuntungan pihak lain yang sudah kaya, posisi orang tersebut dalam hierarki ekonomi dianggap golongan yg sangat rendah, mudah dimanfaatkan, mudah diekploitasi, mudah dikibuli.
Tak heran kalau sebagian masyararat Korea dgn enteng menyebut fans k-pop Indonesia-yg sebetulnya telah berkontribusi luar biasa dlm pasar volume negaranya- nggak lebih dari monyet belaka.
Ironis.
Mau tau seberapa besar jurang ketimpangan di Indonesia?
Bayangin ada 100 potong ayam goreng KFC buat 100 orang.
Idealnya, satu orang dapat satu potong.
Tapi di Indonesia:
- 1 orang ambil 50 potong buat dia sendiri
- 9 orang berikutnya masing masing dapat 2 potong
- 40 orang berikutnya harus berbagi 18 potong, per orang bahkan kurang dari setengah potong
- sementara 12 potong ayam sisanya harus diperebutkan 50 orang terakhir, masing-masing cuma dapat suwiran daging yang nempel tulang atau bahkan cuma kebagian tulang yang tercecer.
Makanya, ungkit aja terus soal kejanggalan dan kronologi keanehan putusan MK yang bikin Gibran bisa nyawapres.
Lumayan bikin pada kegerahan.
https://t.co/rZTHtX3a4m