Saโd bin Ubada said, "If I found a man with my wife, I would kill him with the sharp side of my sword."
When the Prophet ๏ทบ heard that, he said:....
@Billy_Naravit Dari awal liat masifnya MBG dan KDMP ini udh nebak kalau arahnya memang ternak suara, makanya pesimis 2 anomali anggaran itu bakal di stop
Guys, ada momen di rapat DPR
seorang anggota DPR marah dan heran
Dan yang ngomong ini bukan aktivis.
Bukan pengamat.
Ini anggota DPR sendiri yang semprot Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya secara langsung di depan muka.
Pertanyaan yang paling mendasar yang dia lempar:
Kalau kita sudah punya big data
orang datang ngurus KTP
masa dimintain fotokopi KK lagi?
Gua punya KTP untuk apa?
Masih dimintai fotokopi KTP.
Kan aneh.
Surat lahir,
surat baptis masih diminta.
Wah, pusing. Negara kita kayak begini.
Ini bukan pertanyaan teknis yang butuh jawaban panjang.
Ini pertanyaan yang semua orang Indonesia pernah tanyakan dalam hati setiap kali berurusan dengan birokrasi.
Dan jawabannya tidak pernah memuaskan selama puluhan tahun.
Faktanya yang bikin makin miris perbandingan dengan Malaysia:
Indonesia punya e-KTP sejak 2011.
Ada chip NFC.
Ada data biometrik.
Teknologinya canggih.
Anggarannya triliunan rupiah.
Malaysia punya kartu yang secara teknologi identik namanya MyCAD.
Bedanya satu hal:
Malaysia benar-benar memakainya.
Di Malaysia mau isi BBM subsidi tinggal tap MyCAD di pompa bensin.
Sistem langsung cek identitas, cek kuota, kasih harga subsidi otomatis.
Tidak perlu antri.
Tidak perlu surat keterangan.
Tidak perlu aplikasi.
Tidak perlu fotokopi.
Setiap warga dapat kuota 200 liter per bulan.
Kalau kuota habis bayar harga normal.
Tidak bisa diakali.
Kalau ketahuan curang kuota diblokir permanen.
Hasilnya:
pemerintah Malaysia hemat RM600 juta per bulan.
Penjualan diesel bersubsidi turun 30%. Penyelundupan langsung terdeteksi.
Indonesia?
e-KTP yang sama teknologinya selama 15 tahun masih dipakai untuk difotokopi.
Dan ini yang paling menohok dari seluruh pidato itu:
Kita harus bilang kita lebih bodoh dari orang Malaysia kalau urusan ini.
Karena enggak pernah kelar.
Kalimat itu keras.
Tapi tidak salah.
Soal pemborosan anggaran yang berlangsung setiap tahun:
Ini yang menurut gue paling menyakitkan secara fiskal.
BNI punya data nasabah sendiri.
Pertamina buat sistem data sendiri untuk subsidi.
KPU setiap pemilu buat pendataan pemilih sendiri yang nilainya triliunan setiap siklus.
BPJS punya database sendiri.
Kemendikbud punya data sendiri.
Kemensos punya data sendiri.
Semua lembaga membangun silo data masing-masing.
Semua dengan anggaran masing-masing. Semua dengan vendor masing-masing.
Semua dengan tender masing-masing.
Dan di ujung semuanya data tetap tidak terintegrasi. Rakyat tetap diminta fotokopi KTP setiap kali berurusan.
Kita kalau urusan ngamburin uang tuh juara satu. Untuk data saja triliunan kita buang tiap tahun.
Cerita yang paling menyentuh dan ini yang paling human:
Anggota DPR ini bercerita soal kondisi di dapilnya di Kalimantan Utara.
Banyak warga dari NTT, NTB, Toraja yang kerja di Malaysia banyak secara ilegal.
Ketika mereka diusir setelah tidak digaji atau dieksploitasi paspor dan KTP mereka sudah disita oleh majikan.
Mereka pulang ke Kalimantan tanpa dokumen.
Tanpa uang.
Tanpa apa-apa.
Dan ketika mereka coba mengurus KTP baru mereka diminta KK.
Diminta fotokopi KTP lama yang sudah disita.
Diminta surat lahir yang ada di kampung di NTT yang jauh.
Untuk makan aja enggak ada. Sekarang mereka terkapar di perkebunan-perkebunan, digaji di bawah UMR, enggak punya BPJS, enggak punya apa-apa.
Dan sistem birokrasi yang seharusnya melindungi mereka justru menjadi tembok yang tidak bisa ditembus.
Makanya saya bilang KTP itu hak asasi.
Soal keamanan data ini juga perlu diangkat:
Dia menyebut setiap hari dia menerima minimal 50 WhatsApp dan telepon yang menawarkan emas, saham, investasi bodong.
Gimana keamanan data kita ini?
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Masa kita terus diganggu hal seperti ini?
Dan tidak ada jawaban jelas apakah yang bocor itu data adminduk, data bank, atau data operator telekomunikasi.
Tidak ada institusi yang maju mengambil tanggung jawab.
Solusi yang dia minta dan ini bukan permintaan yang rumit:
Satu โ sinkronisasi semua data di bawah satu gatekeeper. Kemendagri sebagai pemegang e-KTP harus jadi koordinator. Semua lembaga lain berhenti bikin database sendiri.
Dua โ chip e-KTP harus diaktifkan untuk semua layanan publik. Tidak ada lagi fotokopi. Tidak ada lagi surat lahir. Cukup tap kartu.
Tiga โ presiden harus turun tangan dan memerintahkan sinkronisasi ini di level ratas. Karena tanpa political will dari atas tidak ada satu lembaga pun yang akan mau menyerahkan kewenangan datanya.
"Jangan nanti KPU dibentuk, tahun berikutnya mengusulkan 2 triliun untuk identifikasi pemilih. Enggak habis-habis kalau begitu terus."
Sudah 80 tahun merdeka. Sudah 15 tahun punya e-KTP. Dan kita masih dimintai fotokopi KTP untuk mengurus KTP.
Kalau itu bukan kegagalan sistemik yang harus dipertanggungjawabkan gue tidak tahu apa lagi namanya.
Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.
Demonizing Islam in such a way is unbelievable.
Who bombed Japan with two nuclear weapons, killing more than 100,000 innocent civilians in Hiroshima and Nagasaki and even in 1945 got over 200K deaths due radiation โข๏ธ?
And the irony is that Muslim countries, especially Saudi Arabia ๐ธ๐ฆโฆ later played a crucial role in Japanโs recovery and rise, by:
- Supplying stable oil during Japanโs rapid post-war industrial growth (1950sโ1970s)
- Maintaining energy security for a country with almost no natural resources
- Building strong SaudiโJapan relations, particularly after the 1970s oil era
Yet despite this history, Islam is often portrayed as inherently violent, while far greater acts of mass destruction by powerful non-Muslim states are normalized or justified. As peaceful actions?! Unbelievable!!
An Israeli soldier films himself blowing up a Palestinian building as a "gift" to his wife, citing the biblical call to "wipe off the memory of Amalek.
He filming his own war crimes as a romantic gesture is not a rogue actor-he is the ideal citizen of apartheid state
Ya gimana gak hancur, sistem pembelajarannya kayak es campur. Pembelajaran sehari-hari pakai sistem ala-ala finland dan european curriculum, tapi ujian TKA dan UTBK kayak di asia timur. Jadi mau pakek kurikulum dan model pembelajaran kek mana? Itu dulu aja deh
And not to long after, Palestinians welcomed you to their land, gave you safe haven, and unfortunately, the very same treatment Nazis done to you if not worst, you inflicted on the Palestinians who welcomed you with open arms after fleeing persecution, canโt make this stuff up ๐คฆ๐ฝโโ๏ธ
At this point it really feels like this whole thing was just a made-up program to justify pulling money from APBN
And the most insulting part is they donโt even bother hiding it!
- gak boleh jadi bencana nasional
- gak boleh terima bantuan asing
- gak boleh liput kondisi lapangan
- gak boleh mengkritik pempus
bolehnya orang sumatra cuma mati diam kelaparan dalam gelap
> retired at 33 after dominating YouTube for a decade
> married his longtime girlfriend and moved to Japan
> learns Japanese, reads philosophy and the classics
> keeps his life private, no scandals
> still trains, still ripped
> designs his own minimalist home setup
> builds small coding and AI projects for fun
> makes videos only when he feels like it
> became a dad, focused on family
> doesn't chase fame or money anymore
> lives peacefully, offline, doing exactly what he wants Has Pewds quietly figured out life better than everyone else?
April tahun 2018.
BPPT bikin diskusi tentang potensi tsunami di Pandeglang.
Lalu, penelitinya dipanggil Polda Banten.
"Kita Polda tidak diam. Senin kita layangkan panggilan untuk dihadirkan Rabu atau Kamis," kata Dirkrimsus Polda Banten Kombes Abdul Karim saat dihubungi wartawan di Serang, Banten, Jumat (6/4/2018).
"Dengan dia melakukan pernyataan itu, sebagian besar warga Pandeglang khawatir. Kedua, investasi pengaruhnya ke sana, takut karena potensi tsunami," ujarnya.
"Kita lihat dulu motifnya, apa dasar bicara seperti itu."
"Bikin gaduh itu"
***
Desember 2018.
Tsunami terjadi.
Di Pandeglang.
Kalau ingat, Tsunami tersebut membawa korban.
Tiga personel band Seventeen tewas dalam peristiwa itu.