Nabi Ibrahim gapernah tau apinya bakal dingin
Nabi Musa juga gapernah tau lautnya bakal terbelah
tapi mereka sama sama bilang “Allah gaakan ninggalin kami”
Orang indo kalo disuruh asbun jago banget njir😭😭
“sewajarnya manusia aja kak”
“make nih orang”
“sus dia bangun sus”
“aku juga terapin diet if kak, if i’m hungry i’m eating”
“dibilang juga apa nguburnya kurang dalem, keluar lagi kan jadinya”
“yaudah biarin aja selagi gak makan ternak warga”
“ke dokter sendiri aja kak aku malu nganternya”
apakah aku capek kuliah? YESS
apakah aku sering ngerasa salah jurusan? YESSSSSSS
apakah aku suka nangis krn gapaham materi? YESSSSSSSSSS
apakah aku tetap ngerjain tugas? YESSS
apakah aku tetap lanjut kuliah lagi? OH TENTU AJA YESSSSS
KALAU NGGAK NANTI DITEMPELENG KELUARGAKU
“Dunia ini cukup untuk kita semua”
Aku tiba-tiba ingat kata Psikologku (iya, Psikolog juga ke Psikolog), begini katanya:
“Nell, kita semua itu punya peran masing-masing. Tidak semua orang harus ‘bersinar’ dengan intensitas yang sama.
Ada Psikolog yang terkenal, kayak xx tapi ada juga yang nggak, kayak saya.
Tapi kalau orang yang biasa-biasa aja kayak saya gak ada terus yang ngelayanin kamu konsul siapa?
Dunia ini cukup untuk kita semua.”
Pas dengar itu, aku merasa…lega. Separuh rasa cemasku mereda di tengah-tengah perkuliahan yang bikin aku merasa gak percaya diri dengan kemampuanku.
Aku membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang menurutku hebat-hebat sekali. Ditambah standarku memang tinggi. Aku takut tidak jadi “apa-apa”, tidak dapat tempat.
Pelan-pelan aku mulai menata diriku lagi. Semuanya tidak harus sempurna. Aku hanya perlu tetap jalan.
Toh, secara objektif “biasa-biasa”nya aku sebenarnya buat orang lain itu bagus, tidak ada masalah.
Sampai sekarang, aku masih perlu mengingatkan diriku secara berkala,
“Setiap orang punya sinar yang berbeda, seperti bintang. Ada yang terlihat terang dan besar, ada juga yang kecil. Namun, keduanya sama-sama cantik dan penting.”
Hari ini pun aku mengingat kembali, aku mungkin tidak jadi musisi andal seperti Mozart tapi musikku cukup untuk anak-anak. Mungkin juga untuk sobat twitterku.
Dunia ini cukup untuk kita semua. Aku harap, kita yang lagi merasa tergesa-gesa bisa mengingat ini 💛